ARION

ARION
Gak Lucu!



"Malem ini jalan yuk" ajak Alysa sambil mengaitkan tangannya pada tangan Aksa yang sedang dimasukkan pada kantong celananya tanpa ragu


"Lepasin tangan lo" ketus pria itu


Alysa tak mau mendengar, laki-laki jaman sekarang memang gengsian. Jadi ia harus sedikit agresif


Aksa menghentikan langkahnya "Gue bilang lepasin" ulangnya penuh tekanan


Fokus Aksa teralih oleh salah satu siswi dengan rambut acak-acakan yang berjalan melewatinya


Aksa melihat kembali gadis yang tak mau mendengarkan ucapannya lalu menepis lengan Alysa sampai terlepas darinya


"Tunggu" ucap Aksa pada gadis tadi


Kallista melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang sedang dipanggil oleh seseorang dari belakang tubuhnya


"Lo" tuduh Aksa sebagai jawaban siapa yang sedang ia maksud


Tanpa bicara lebih, Aksa membantu untuk merapikan rambutnya "G-gak usah" tahan Kallista


"Udah lumayan" pungkas Aksa menghentikan perlakuannya lalu melengang pergi tanpa kata tambahan


Kallista tak menghiraukan, ia melanjutkan niat awalnya "Pada kenapa sih?" herannya pada semua mata yang memandanginya.


____________________



"Nungguin siapa bu?"


Kallista memutar tubuhnya malas "Jangan bilang lo udah nyampe dari tadi" keluhnya


"Emang" jawab Arion


"Ish kok gak bilang sih? gue nungguin kan"


Arion terkikik


Kallista berdecak, sialnya tawa mahal itu selalu membuatnya ketularan untuk ikut tertawa


"Kok lo udah keringetan sih?" ucap Kallista yang dengan refleks mengusap wajah berkeringat itu dengan handuk kecil miliknya


Dup dup dup


Pergerakan Kallista berhenti sekejap, seolah memberi ruang pada jantungnya yang sedang ingin bekerja lebih cepat


"Eghhmm" Kallista berdeham lalu menarik lengannya yang masih menyentuh wajah pria yang menatap heran


"Kenapa?"


"Ahh g-gue beli minum dulu" alih Kallista


Arion menahan tas selempang yang dipakai gadis itu, membuat Kallista kembali pada posisinya lalu mengasongkan botol minuman yang sudah dibelinya tadi


"Gue udah prepare" ucapnya


Kallista masih berusaha membuka tutup botol yang sialnya susah terbuka disaat tenggorokannya sudah tandus


Arion mengambil alih lalu membukanya dengan sekali gerakan yang bahkan tanpa memakai tenaga


Gadis itu segera menanggalkan minumannya dalam beberapa kali tegukan lalu meremas botol bekasnya


Tempat gym bagaikan taman bermain bagi 2 sejoli ini. Dalam seminggu mereka pasti akan menyisihkan waktu untuk mengeluarkan keringatnya agar tak berlebih.


Seperti saat mereka berdua tak dapat bertemu satu sama lain dengan kesibukan yang sudah jauh berbeda, tapi tempat ini selalu menjadi titik pertemuan tanpa harus ada kata ajakan dari salah satunya


Gilang is calling . .


3x panggilan tak terjawab


"Kenapa gak diangkat?"


Kallista segera menyimpan kembali ponselnya "Gak penting ko" jawab Kallista sambil memamerkan senyumnya


"Gilang kan? angkat aja"


Kallista seperti ketauan berbohong padahal ini bukan termasuk kebohongan kan? cuman menghindari.


"Dia pasti nanya-nanya hal yang gak penting" jelas Kallista membeberkan alasannya


"Khawatir kali, kan wajar"


"Udah ah gak usah dibahas, lo habis ini mau kemana?"


"Ke ? gak tau juga sih. Langsung pulang kayaknya"


Kallista manggut-manggut "Gimana kalo kita jalan aja yuukk.." ajaknya dengan mata berbinar


"Kita udah lama gak jalan bareng" lanjutnya


"Ini kan jalan juga Ta"


"Bedaa"


"Mau kemana emangnya? nanti pacar lo marah"


"Kok marah? sebelum ada dia kan gue sama lo dulu" jelasnya


"Terus kenapa pacaran sama dia gak sama gue?"


Hening


Kallista menelan salivanya susah payah, saluran kerongkongannya sudah seperti ada yang menghambat


"Hahaha gue bercanda" sangkalnya tertawa ngakak


"Arion gak lucu!!" ucap Kallista merengut


"Mau jalan kemana?" tanya Arion setelah sesi tawa nya habis


"Gak jadi" ketus Kallista


"Yaudah" jawab Arion melanjutkan langkahnya


"Kok gak dibujuk sih" kesal Kallista


"Gue heran deh kenapa mau temenan sama lo!"


"Emang kita temen?" timpal Arion


Luar biasa. Kallista menghirup napas sebanyak-banyaknya, padahal kalimat yang ia lontarkan tadi hanya untuk sekedar mempermainkannya saja


"Gak, kita gak kenal! puas lo?" tekan Kallista dengan darah yang sudah naik


Arion menahan lengan Kallista yang akan melewatinya


"Lo lebih dari sekedar temen" tutur Arion yang seketika membuat pipi nya merah padam


"Terus apa?" tanya Kallista


"Huh.. apa? apanya?" tanya balik Arion. Kalau saja tadi sudah pakai soundtrack lagu romantis, maka setelah ini yang berbunyi adalah suara ketika gagal menjawab dalam acara kuis


"Kalau bukan temen terus apa?"


Arion diam sebentar, menimang jawaban yang tepat


"Lo mau nya apa?" tanyanya memberi pilihan


"Lo tuh kebiasaan, ngejawab pertanyaan orang malah pakek pertanyaan lagi. Ngeselin" gerutunya


"Emm sahabat? sodara?"


"Sodara?"


"Bisa jadi kan?"


"Jangan sodara.. tar kalo kita jodoh gimana?"


"Huh,"


Kallista menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah serius, lalu seperkian detik menjadi tertawa terbahak-bahak


"Serius banget sih" ledek Kallista sambil mengacak rambut panjang pria itu  lalu segera mempercepat langkahnya, sebelum pria itu membalas perbuatan isengnya


Arion berkacak pinggang, kenapa dia masih bisa terjebak keusilan gadis itu? padahal selama hidupnya gadis itu sudah sering mempermainkannya



Arion sibuk dengan tontonan kartun yang harusnya bukan jadi tontonannya lagi


Padahal jalan cerita kartun itu konyol bagi yang sudah dewasa, tapi pria itu masih bisa tertawa karena baju spongebob yang terkait alat pancingan


"Arioooonnnn" Kallista menghalangi televisi yang jadi fokus pria itu


"Gue bilang kan tadi jalan, bukan ngerem disini" protesnya


"Mau jalan kemana sih Ta? gue males" ucap Arion sambil membaringkan tubuhnya


Kallista menarik lengan pria itu "Kalo kayak gini terus mana bisa lo punya pacar" omelnya


"Pacar buat apa? kan gue punya lo" jawab Arion santai


Kallista mengerjapkan matanya beberapa kali, selama ini pria itu memang selalu pandai menjawab segala omelannya


"Gak bisa gitu dong" ujar Kallista


"Karena lo udah punya pacar?"


"G-gak gitu, maksudnya.."


"Gue bisa ngelakuin apapun sendiri" potong Arion ya g kembali membaringkan tubuh lelahnya


"Gue .. gue bakal selalu ada buat lo kok, tapi.."


Arion merubah posisinya menjadi duduk "Terus apa?"


"Kalo gue punya pacar, gue bakal lupa sama lo"


"Kok gitu?" protes Kallista


"Gue gak mau pacar gue cemburu" jawabnya


"Kalo gitu jangan pacaran sama cewek cemburuan"


"Kalo gue sukanya sama yang cemburuan?"


"Meski lo harus jauhin gue? lo bakal tetep suka sama dia?" tanya Kallista tak percaya


"Ya gimana lagi? kita gak bisa milih harus jatuh cinta ke siapa kan?"


"Tapi walaupun pacar gue gak cemburuan gue akan bersikap sama" lanjutnya


"Gue cuman mau perduli dengan satu wanita setelah mama" jelasnya lagi


Kallista tak bergeming, ia menjatuhkan bokongnya pada sofa kosong di samping pria itu sambil memainkan kuku nya, tanpa berniat untuk menimpali penuturan Arion


"Tapi gue kan milih gak punya pacar" ucap Arion sambil melirik ke arah gadis yang sedang murung itu


Kallista membalas tatapan Arion, membuat kedua manusia ini menjadi saling tatap, seolah sedang berkomunikasi melalui sorot matanya masing-masing


"Tapi suatu saat lo pasti punya pacar" ucap Kallista tiba-tiba


Arion menggelengkan kepalanya "Gue gak kepikiran"


"Tapi kalau suatu saat lo bener-bener pergi, gue yang bakal nyamperin"


"Gue gak akan pergi kemanapun, lo tenang aja"


"Yon.. lo gak usah ngasih harapan. Suatu saat lo pasti nemuin cewek yang akan jadi fokus lo dan ninggalin gue"


"Gue emang butuh lo, tapi gue gak egois. Lo juga harus bahagia, lo harus cari seseorang yang bisa ngelengkapin kebahagiaan lo" lanjutnya


Arion membawa kedua bahu gadis itu untuk saling berhadapan dengannya "Gue gak butuh apa-apa lagi, ada lo udah cukup" tuturnya


Kallista memutus kontak matanya yang jika dibiarkan tatapan itu akan membuatnya hanyut.


Sahabat memang hubungan paling dekat sesudah keluarga dan sebelum pacar. Tapi hubungan seperti itu terbatas, tak bisa menyatukan "Apa ada sebutan selain sahabat untuk kita?" batin Kallista.