
Happy Reading ♡♡
tok tok
"Ta.." panggil Deri dari luar kamarnya
"Ta bukaaa.."
"Kallis.."
"Gak sabaran banget sih" protes Kallista yang audah menampakan diri
"Apa?"
"Kok apa sih? kenapa lo belom siap?"
"Iya lo ngapain ribut di depan kamar orang? gak malu apa didengerin yang lain, disangkanya ada apa lagi ntar"
Deri menghela nafas "Semua udah pada berangkat kali Ta, disini cuman ada kita, lo sama gue. Itu pun karena gue kepaksa aja, kalo bukan gue siapa lagi yang mau nungguin lo" jelas Deri
Kallista yang celingak-celinguk untuk memastikan penjelasan temannya kembali melihat ke arah suara yang sudah berhenti "Pada kemana?" tanyanya
"Pada makan-makan yaelahh Ta cepetan sono ganti bajuu" titah Deri sambil mendorong gadis itu masuk kedalam kamar
"Lo ngapain ikut masuk?" tahan Kallista
"Oh iya" Deri memundurkan kembali langkahnya "Cepetan ya, gue tinggalin nih"
"Emmm gue gak ikut deh" ujar Kallista setelah menimang-nimang
"Wehh gabisa gitu dong" protes Deri
"Kok maksa si" balas Kallista
"Lo kan bintangnya"
"Astaga lo mimpi ya? udah ah sana gue mau lanjut tidur lagi, jangan ganggu"
Brukk
"Ta.. woyyy lo nyesel pasti" teriak Deri yang masih menggedor pintu kamarnya
"Gak bisa dipinta baik-baik tu anak" keluhnya sambil melengos pergi, dari pada harus habis kesabaran untuk menghadapi temannya yang satu itu

"
What?" kaget Yara ketika melihat postingan bos nya muncul di beranda instagram nya
Yara meremas ponselnya, ini merupakan pertanda buruk, bisa-bisa karirnya tergeser oleh kehadiran gadis yang bahkan sebelumnya gak ada basic sama sekali. Kalau sampai terjadi maka itu sangat memalukan
"Kallista mana?" suara bos nya mencuat
"Emm tadi katanya dia.."
"Harus ngasih alesan apanih" rutuk Deri dalam hati
"Emm itu pak, Kallistaa.." lanjut Deri untuk menuntaskan ucapannya yang menggantung
Bara mengibaskan tangannya pada Deri, membuat pria yang 5 tahun lebih muda darinya itu kembali bungkam
Deri menatap aneh pria yang mulai senyum-senyum itu, lagi pula tidak mungkin kalau senyuman itu diperuntukkan padanya.

"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga" ujar Bara sambil menarik satu bangku kosong untuk gadis yang baru datang itu
"What?" batin Deri terkejut "Lo ngerjain gue?" protesnya pelan pada Kallista yang melintasinya, gadis itu hanya membalas ucapan Deri dengan senyuman yang dipaksakan, atau semua akan berlanjut
"Lo .. emm kamu mau pesan apa?" tanya Bara pada Kallista yang 180 derajat berubah menjadi sosok yang manis, namun itu malah membuat Kallista ngeri
"Emm nunggu yang.."
"Semua sudah pesan, tinggal kamu" jelas Bara
"Ohh kalo gitu emm.." Kallista mulai tidak enak karena menjadi objek penglihatan semua yang berkumpul
"Kalo gitu biar aku yang pesan" tawar Bara, Kallista hanya bisa mengangguk biar cepat, daripada kebingungan sendiri.
"Kamu nyari apa?" tanya Bara, melihat Kallista yang mengedarkan pandangannya seolah mncari sesuatu
"Ahh enggak kok gak apa-apa" sahut Kallista "Tempatnya bagus hehe i-iya bagus tempatnya" lanjutnya memperjelas
"Lo apaan sih? orang ini caffe biasa" balas Yara membuat Kallista yang asal ucap itu menyadari kekeliruannya dalam memberi alasan
Delikan Kallista berpindah pada orang di sampingnya yang malah mentertawainya "Ups maaf" ucap Bara "Kamu lucu" lanjutnya sambil mengulum bibirnya.
Kallista tak menghiraukan pria aneh itu, ia kembali mengaduk makanannya dan sesekali melihat ke arah-arah tertentu untuk mendapati seseorang yang memaksanya datang tapi dirinya sendiri malah tidak datang. Kurang ajar bukan?
"Gak enak?" tanya Bara "Biar aku pesankan lagi kalau gitu" lanjutnya
"Mas.."
Bara mengangguk "Bagus kalo gitu" ucapnya sambil mengacak rambut Kallista, membuat si pemilik mengerjapkan matanya dan segera membenarkan posisi duduknya
Yara yang terlihat tenang tidak sekedar diam, ia masih memantau. Ada yang tidak beres dengan perlakuan mesin uang nya itu kepada model penggantinya. Pasti ada sesuatu, dan ia harus segera mencari tau kepastiannya
Tap Tap
Tiba-tiba semua orang menghentikan aktifitasnya dan segera bangkit dari duduknya untuk menyambut siapa yang datang.
"Silahkan lanjutkan" ucap Arion sambil menjatuhkan bokong nya di kursi yang sudah disediakan untuknya
Tangan Arion masih disibukkan dengan membuka tumpukan kertas-kertas penting, sebenarnya ia masih sangat sibuk namun setidaknya menghadiri walau tidak banyak interaksi.
Arion menghembuskan nafasnya panjang sambil menutup berkasnya yang baru setengah ia cek, mungkin akan dilanjutkan setelah ini. Kini tatapannya sudah beralih untuk mencari seseorang yang harusnya sudah berada diantara orang-orang yang ada disini.
"Pak mau pesan apa? dari tadi bapak belum makan" tanya Ririn
Arion diam, tatapannya masih terpaku pada objeknya
"Pak.." panggil Ririn lagi
"Ah ya" sadar Arion "Kenapa?"
"Mau pesan apa?"
"Apa saja" jawabnya singkat dan kembali melihat sosok orang yang ternyata sudah tak ada di tempatnya
"Kemana dia" batin Arion
"Saya ke toilet dulu" ucapnya pada Ririn yang langsung diangguki
Kallista membasuh wajahnya yang terasa panas, entah kenapa hatinya menyalurkan perasaan seperti itu. Ia menyadari dua pasang mata yang memperhatikannya sejak tadi, dan itu membuatnya amat sangat tidak nyaman. Dulu mungkin menenangkan, tapi sekarang?? perlu dipertanyakan
Deg
Langkah Kallista terhenti akibat ada sosok yang menghalangi langkahnya
Kallista segera bergeser ke arah yang lain untuk bisa lewat tapi orang di depannya malah melakukan hal yang sama.
"Permisi" ucapnya sembari mengabsen orang yang menghalanginya sampai pada wajahnya.
Kallista segera menundukkan wajahnya ketika tau bahwa penghalang di depannya adalah orang yang membuatnya tak nyaman "Maaf" ucapnya segera melengos pergi namun tangannya tertahan, membuat langkahnya Kallista mundur
"Ganti bajumu" ucap Arion tiba-tiba, membuat gadis yang lengannya dicengkram kuat tak mengerti maksudnya
Arion berdecak "Kamu gak punya baju lain apa?" ucapnya tho the point
"Gak ada yang salah" sahut Kallista melihat dirinya sendiri
"Gak salah gimana? kalau mau yang panjang ya panjang sekalian, jangan yang bolong-bolong seperti ini"
Kallista menghela nafasnya panjang "Maaf pak, tapi anda tidak ada hak menilai dandanan saya" tuturnya dengan menampilkan senyum terpaksanya "Mohon maaf sebelumnya, dan terimakasih sudah mau repot-repot seperti inu" tambahnya
"Saya belum suruh kamu pergi" tahan Arion
"Saya bilang ganti bajumu atau tidak usah kembali kesana lagi" tekannya memberi pilihan
"Arion cukup. Lo gak usah so deket lagi sama gue, bahkan untuk ngomong kayak gini aja lo gak punya hak sama sekali." tegas Kallista jengah
"Saya atasan kamu" balas Arion tanpa sedikitpun memperlihatkan emosinya yang terpancing.
Alasan yang menjadi andalannya sama persis ketika tadi pria itu memaksanya untuk ikut acara membosankan seperti ini. Lalu sekarang? pria itu masih saja mempermasalahkan pakaiannya, sejak kapan seorang atasan ikut campur sejauh ini?
Kallista tak menjawab, ia masih menetralkan nafasnya yang tak beraturan. Melihat itu Arion pun memakaikan jaket tebalnya untuk singgap pada bahu gadis di depannya "Pakai ini" titahnya
Kallista memutar matanya malas "Lo mau bikin semua orang tau kalau kita..." ucapannya terhenti ketika pria itu menyeretnya kedalam kamar mandi
"Arion lo mau apa?" protes Kallista
Arion menyalakan keran lalu mencipratkan air pada pakaian Kallista, membuat si pemilik membulatkan matanya sempurna "Lo apa-apaan sih?" amuknya
Arion tak menjawab, tanpa dosa pria itu malah memakaikan jaket tebal itu pada tubuh Kallista. "Ada alasan" pungkasnya membuat Kallista tak bisa berkata-kata selain menghela nafas panjang akibat ulahnya
"Aaakkk" teriak seorang wanita "Toilet laki-laki disanaaa" amuk yang lainnya sambil memukul tubuh pria yang baru tersadar dengan ulahnya
"Aaakkk" teriak Kallista kemudian
"Mba kenapa?" tanya beberapa perempuan yang melirik sinis pada pria yang membuat Kallista kesal
"Ini mba, cowok ini mau macam-macam sama saya hiks" jelas Kallista sedih, membuat Arion tak bisa berkutik
"Dasar mesum"
Byur
"Rasain" puas para perempuan yang sudah membuat tubuh Arion basah kuyup
"Ppfffftttt" Kallista mengulum tawanya susah payah "Saya permisi duluan ya pak" pamitnya pada atasannya santai
"Semudah itu??"
Bersambung...