ARION

ARION
PUNYAKU



"Pagi, Pak!" Kallista segera berdiri ketika orang yang memintanya untuk datang memasuki ruangan.


"Pagi Kallista! Silakan duduk." balas Rangga.


Rangga menyatukan kedua tangannya, "Saya ingin kamu menjadi brand ambassador dari perusahaan ini."


Kallista terhenyak. "Brand ambassador?" ulangnya memastikan kalau pendengarannya tak ada masalah.


Rangga mengangguk, "Kami butuh pembaruan, aaya pikir kamu akan membawa citra perusahaan kami menjadi lebih baik."


"Tapi kenapa saya, Pak? maksud saya, kemarin saya hanya menjadi back up, dan.."


"Karena itu, saya ingin menjadi yang pertama untuk merekrutmu. Bagaimana?"


"Tapi ...."


"Ini demi hubunganmu dengan Arion ke depannya." ungkap Rangga lagi.


Glek


Kallista menelan salivanya berat, wajahnya memerah, suhu ruangan tiba-tiba terasa panas.


"Tahu kenapa Arion rela menjauh darimu selama bertahun-tahun?"


"Karena merasa bersalah dengan..."


"Ibumu?"


Kallista mengangguk pelan.


"Kamu tidak marah dengannya?"


Kallista menggelengkan kepalanya, "Ibu saya yang memilih untuk menyelamatkan Alysa, itu bukan kesalahan siapapun. Saya percaya takdir yang tuhan berikan tidak akan terjadi dengan sia-sia."


"Selama ini saya selalu bersyukur di atas kesedihanmu dalam kehilangan. Bahkan karena ketidaktahuan ini saya membiarkan Arion merasa bersalah sendirian," tutur Rangga. "Namun kalau hanya sekedar hal itu, Arion dapat menanggungnya tanpa meninggalkan."


"Maksud-nya?"


"Selalu ada tidak akan cukup untuk membayar hal sebesar ini, Arion pergi hanya untukmu." Rangga menghela napasnya. "Saya yakin kamu tahu kalau Arion hanya mencintai hobinya, tidak pernah mau belajar memegang perusahaan."


Flashback On


"Jika kamu merasa bersalah, tinggalkan Kallista!" ucap Rangga.


Arion menggelengkan kepalanya. "Enggak! Arion akan tetap di sisinya, walau Kallista yang meminta."


"Apa yang bisa kamu berikan jika hanya berdiam di sisinya? apa ketidaktahuannya menjadi berkah untukmu? Papa yakin kamu tidak akan kuat jika Kallista meninggalkanmu."


Arion diam, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan agar Kallista mau mengerti dengan keberadaannya tanpa berniat untuk meninggalkan.


"Kamu membayar rasa bersalah itu dengan cinta, tapi cinta butuh balasan, apa kamu bisa melihat Kallista dengan yang lain?"


"Kenapa Papa menyuruhku pergi? aku tetap di sisinya agar tidak ada celah bagi yang lain."


"Kamu mencintainya?"


Hening


"Sealu ada tidak akan cukup membayarnya. Pergilah, lalu jadilah seseorang agar dia melihatmu."


"Kallista tidak membutuhkan itu."


"Tapi kamu butuh. Papa punya banyak kenalan orang-orang hebat, bergelar doktor di usia 25, CEO di usia 27, beasiswa s3 Harvard di usia 24, ..."


"Apa maksud Papa membicarakan hal ini?"


"Sebagai rasa bersalah, Papa bisa memberikan pilihan jodoh terbaik untuk Kallista. Kamu bukan salah satunya jika kamu hanya akan menjadi biasa saja."


"Tapi, Pah.."


"Mungkin kamu hebat dalam bidangmu, tapi untuk dijadikan sebuah perusahan yang sukses itu butuh proses yang lama, dan Papa tidak akan membiarkan Kallista menunggu lama. Waktumu tinggal sedikit, jangan sia-siakan." Rangga menyudahi obrolannya.


Flashback Off


"Bapak sudah tahu selama itu?" Kallista merasa tidak percaya, tanpa diketahui ia menjadi pertimbangan di tengah keluarga yang tak pernah kekurangan.


Rangga mengangguk, "Maaf, kepura-puraan akan membuat saya terlihat baik-baik saja. Di balik itu saya punya rasa syukur yang besar terhadapmu, terlebih lagi ibumu."


"Saya tidak mau kamu menjadi gunjingan orang-orang, saya ingin kamu dilihat sebagai dirimu, bukan yang menempel pada siapapun. Tidak bisa dihindari, hal itu pasti terjadi."


"Tapi Arion tidak pernah suka saya menjadi model, apapun alasannya." Kallista pernah menjanjikan hal itu, untuk tidak pernah melakukan hal yang jika sejak dulu diijinkan mungkin ia sudah berada di dalamnya sejak lama.


"Dan saya percaya apapun yang kamu lakukan tidak mampu membuat Arion meninggalkanmu. Anak saya sudah banyak berkorban untukmu, mungkin sudah sampai menggadaikan hidupnya, memang terlihat lebay, tapi lihatlah, itu yang terjadi padanya."


___________________


"Arion ke mana sih?!" kesal Natasha yang sudah habis kesabaran.


"Udah ratusan kali, Mah!" keluhnya.


Cklek


Seseorang membuka pintu, membuat Natasha segera memutar tubuhnya, memastikan kalau orang yang baru datang itu adalah orang yang sejak tadi ditungguinya.


Senyap.


"Aly-sa?" ucap Natasha terbata, membuat Kesya yang sedang merapikan meja ikut menoleh ke arah pintu.


Belum sempat Kesya melangkahkan kakinya tapi Alysa sudah menghampiri lalu memeluk erat tubuhnya. "Apa kabar sayang?" Kesya membingkai wajah anaknya. "Kelihatannya ..."


"Lagi ada acara apa nih?" Alysa mengedarkan pandangannya, "Emm kayaknya aku harus ganti baju dulu, Mama mau nemenin gak?" lanjutnya mengganti topik pembicaraan.


"Sedangkan Natasha tak mampu berkata, tangis itu terdengar pedih, ia ikut merasa sesak.


Cup


Ciuman di kening mendarat tanpa permisi, membuat Natasha tersadar dari lamunannya. "Mama mana?" tanya Rangga.


"Ke kamar." Natasha menunjuk lantai atas.


"Ngapain?" Rangga menautkan alisnya, ruangan atas hanya kamar milik kedua anaknya.


"Tadi ..." Natasha menghemtikan ucapannya ketika melihat sosok yang ditungguinya baru saja datang. "Lo dari mana aja sih?!" lanjutnya beralih memprotes.


Bukannya menjawab atau sekedar menjelaskan, lelaki itu malah membuang muka ke arah mana ia muncul barusan lalu tersenyum lembut dan Natasha langsung tahu hal itu diperuntukkan pada siapa, membuat wajah muram sisa kekesalannya segera pudar. "Kallista?!" serunya, segera menghampiri dan mengambil alih.


"Mulai sekarang kita bisa jadi partner kan?" obrol Natasha seakan sudah kenal dekat. Sedangkan Kallista masih sangat gugup, apalagi Rangga yang notabene sebagai pemilik perusahaan di tempat ia bekerja tepat berada di depannya.


Glek


Kallista menelan salivanya berat, pria paruh baya itu mulai menghampirinya.


"Pah, jadi gini..." Natasha hendak menengahi, "Yon, kok lo diem aja sih," desisnya pada Arion yang seharusnya bertanggungjawab penuh.


"Cantik," ucap Rangga, membuat Kallista kembali mengangkat wajahnya dan ternyata dihadapkan dengan senyuman yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari wajah pria itu.


Arion berdecak, ia segera menghampiri. "Papa selalu merebut punyaku." ketusnya sambil mengambil alih Kallista dan membawanya duduk di tempat yang sudah dipersiapkan.


"Punyamu?" ulang Rangga merasa janggal dengan penuturan anaknya itu.


"Papa tahu?" Natasha menilik, bisa-bisanya ia menjadi orang yang khawatir sendirian.


Rangga hanya menjawabnya dengan seutas senyum, tapi itu sudah sangat jelas kalau Arion sudah mendapat restu dari sang Papa. Entah sejak kapan atau dengan cara apa yang jelas Natasha bisa kembali bernapas lega dan melanjutkan acaranya yang tertunda lama.


Arion melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat.


"Mama mana?" tanyanya.


"Ah tadi Papa mau panggil."


Deg


Jantung Natasha kembali berdegup kencang.


"Gimana kalau kita aja?" potong Natasha, menahan langkah Rangga.


"Mungkin Mama udah tidur, kecapean," lanjutnya asal.


"Bagaimana mungkin?!"


"Nanti juga nyusul kok, udah kelamaan.." Natasha menampilkan wajah memelasnya, membuat Rangga mengangguk menyetujui.


Beberapa lilin dengan api di masing-masing sumbunya sudah berjejer rapi di atas kue. Kini saatnya Natasha memejamkan mata lalu menyebutkan harapan-harapan yang belum kesampaian di umurnya yang tak lagi remaja.



"Minta cepet ketemu jodoh, kalo gak mau gue duluin." papar Arion menjengkelkan, membuat fokusnya terganggu.


"Kenapa lo cepet gede sih? jadi nyebelin kan?!" delik Natasha. "Tapi emang lo mau nikah?" bahasnya lagi, mulai tertarik.


"Ya mau lah," balasnya singkat dan tak menjawab apapun. Tapi mungkin pertanyaannya yang kurang spesifik.


"Memang kamu sudah siap?" tanya Rangga. "Menikah berarti kamu memegang perusahaan sepenuhnya."


Hampir saja Arion membuka mulut tapi Rangga sudah menyerobotnya kembali. "Tapi memangnya Kallista mau?" tanyanya beralih objek.


Kallista berdeham. "Arion hanya bilang mau nikah, tidak menyebutkan dengan siapa," jelasnya menyelamatkan diri dari pertanyaan menjebak.


"Dengan siapa? hemm" Natasha melemparkannya kembali pada Arion.


Bersambung ....