
Arion Rasya Aditya
Kallista Qyara
______________________
"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Kallista sekedar memastikan
Deri menggelengkan kepalanya "Tidak ada ibu bos" ucapnya mantap
Mendengar itu membuat Kallista segera duduk di kursi yang menjadi tempatnya. Ia amat sangat lelah, mungkin seanjang perjalanan akan tidur dengan nyenyak, itu bagus
"Kallista!" panggil Ririn
"Iya bu?" sahut Kallista segera menghampiri
"Ada barang yang ketinggalan, bisa tolong ambilkan?"
"B-barang? di mana bu?"
"Di kamar ibu."
Kallista menimang-nimang sebentar, sedangkan bis sudah akan berangkat sebab semua penumpang sudah berada di atasnya, tapi tidak mungkin juga ditinggalkan?!
"Tunggu sebentar ya bu" turut Kallista segera turun dari bus
________________________
Kallista dan Arion berapapasan, gadis itu seolah tak melihat apapun di sekitarnya, sedangkan Arion menyadari betul ada makhluk lain yang masih berkeliaran padahal villa sudah sepi
"Ta!" suara Arion mencuat tanpa diminta, membuat si pemilik suara segera membungkam mulutnya kembali. Tapi kenapa gadis itu masih disini? bukankah bis sudah akan berangkat?
Arion mengikuti jejak Kallista untuk kembali masuk ke dalam. "Kemana perginya?" gumamnya. saking banyak ruangan membuat Arion sedikit kesulitan untuk mencari keberadaan gadis itu, apa mungkin itu hanya bayangannya saja?
Villa sudah benar-benar kosong, Kallista bahkan hampir tak mengenali dimana ruang kamarnya. Seingatnya kamar bu Ririn itu dekat dengan kamar yang cukup besar. "Yap, ini.." Kallista menemukannya
Cklek
Gelap.
Kallista meraba pinggiran dinding untuk mencari cetrekan lampu. "Ketemu!" serunya. Namun nihil, lampu tak menyala.
Kallista meraba saku jaketnya untuk menyalakan flashlight ponselnya.
"Ahh, di tas." Kallista menepuk pelan kepalanya.
Kallista tak bisa melihat apapun, ia berjalan ke arah jendela, berharap masih ada. penerangan dari luar yang sudah mulai beranjak malam
Cklek
Mendengar suara pintu terbuka membuat Kallista segera menghentikan langkahnya, ada seseorang di belakangnya.
Deg
Jantungnya berpacu begitu cepat, bahkan napas pun terasa sesak. Masalahnya adalah bukan karena takut dengan siapa yang ada di balik tubuhnya saat ini tapi karena tak ada penerangan, ia tak bisa melihat apapun. Apakah itu orang atau makhluk lain, Kallista tak bisa memastikan.
Dengan tubuh sedikit bergetar, Kallista memberanikan diri untuk memutar tubuhnya, pelan tapi pasti.
"Aaaaaaakkkkkkkkkk!!" Kallista berteriak, di hadapannya kini ada wajah yang disinari cahaya dari bawah, persis seperti cuplikan film hantu yang kemarin ia tonton di Bioskop.
Namun bukan hanya Kallista yang berteriak, seseorang yang menjadi penyebab ketakutan Kallista pun keadaannya sama persis.
"Kalian ngapain disini?" seseorang dari luar dengan senter besar menemukan 2 orang di satu ruangan gelap sedang saling takut satu sama lain.
Arion menyadari lebih dulu lalu mematikan cahaya lampu dari ponselnya yang masih menyala.
Kallista masih menutupi wajahnya, ia masih sangat takut untuk melihat kejadian di depannya secara langsung.
"Masih di sini, Pak? saya kira sudah pulang," ujar penjaga Villa.
"Ada barang yang ketinggalan, maaf malah bikin gaduh," sesal Arion segera menarik manusia yang masih belum membuka matanya.
Arion sudah membawa Kallista ke luar Villa yang kedaannya sudah jauh lebih terang, namun wanita itu masih menghalangi wajahnya dengan satu tangannya yang lain.
Beberapa menit Arion sabar menunggu, akhirnya Kallista membuka atanya sedikit demi sedikit untuk jaga-jaga agar ia bisa segera kembali menutup matanya kalau sesuatu yang menyeramkan tiba-tiba muncul
"Lo?" kaget Kallista segera melangkah mundur
Kallista mengedarkan pandangannya dan ia segera berlari ke arah dimana bis nya berada, namun nihil.
"Sudah berangkat 10 menit yang lalu!" ucap seseorang dari arah belakang
Kallista menjatuhkan tubuhnya ke bawah, ia harus apa sekarang? ia tak memegang uang sepeserpun, bahkan ponsel nya saja ada di dalam tas yang sudah dibawa pergi bis sialan itu.
"Mau di sini sampai pagi atau ikut saya?" tawar Arion dengan nada dingin.
Kallista tak menghiraukannya. Ia tak membutuhkan bantuan siapapun, apalagi pria satu itu. Tak akan pernah.
Tanpa berpikir 2x Kallista segera melangkah pergi meninggalkan pria yang bahkan tak menyusulnya, memang tak punya hati.
"Kenapa harus malem-malem gini sih?" keluh Kallista, di samping kanan dan kiri nya hanya terbentang sawah, entah sejauh apa ia harus berjalan untuk menemukan kendaraan umum. Lagi pula ia harus bayar dengan apa?? ia sudah seperti gelandangan sekarang.
Kallista bertumpu tangan pada lutut nya, entah sudah menempuh berapa ratus meter tapi rasanya tenaganya sudah habis. Bagaimana tidak? sejak pagi ia sudah disibukkan berbagai kesibukan dan belum beristirahat sama sekali.
Ada sebuah lampu yang menerangi kumpulan beberapa pemuda, ya ia bisa minta tolong di sana.
"Maaf ada yang punya motor atau apapun?" tanya Kallista to the point, membuat permainan krambol yang sedang berlangsung tiba-tiba terhenti.
_______________________
"Keras kepala!!" Jika butuh pertolongan kenapa musti pura-pura tidak memerlukan? malah lebih memilih menyulitkan diri sendiri?!
Arion menginjak rem mobilnya, bagaimanapun juga ia tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian, ia adalah atasan yang mesti bertanggungjawab dengan semua karyawannya.
Arion segera memutar balik arah, padahal sebentar lagi ia sudah keluar dari pedesaan.
Penerangan yang minim membuat Arion kesulitan, ia melihat ke segala arah, bisa saja gadis itu jatuh ke sawah atau malah masuk ke kebun orang.
Arion memicingkan mata nya, ia seperti mengenali perawakan gadis yang ada di depannya. Arion menambah sedikit keceatan mobilnya.
"Kallista?!" gumamnya, gadis itu dibawa pergi oleh sepeda motor yang diiringi beberapa motor lainnya dari belakang. "Shit!!" sungutnya.
Arion segera menginjak pedal gas tanpa ragu, sampai akhirnya berhenti menghalangi jalan kendraan yang sedang ia kejar.
Ckiit
Brukk
Karena ulahnya yang mendadak membuat sepeda motor yang ditumpangi Kallista sedikit menggores mobilnya.
Arion segera keluar dari mobil lalu menghadang beberapa pemuda yang mungkin saja dapat mengeroyoknya detik ini juga. Biar yang lain itu jadi masalahnya nanti.
Bugh
Arion memukul pria yang membawa motor paling depan
Suasana semakin tegang, Beberapa pemuda yang lain tak bisa dian saja nelihat salah satu temannya babak belur.
"Arionnnn!!" teriak Kallista, membuat pria itu menghentikan aksi gegabahnya.
"Mba kenal?" tanya pemuda yang tadinya hendak membantu mengantarkannya sampai ke jalan besar untuk menemukan kendaraan umum
Kallista mengangguk "Maaf, sekali lagi maaf!" sesal Kallista sembari membawa pria yang berpikiran negatif menjauh dari posisi semua orang.
"Lo itu apa-apaan sih?" protes Kallista
"Saya nyelametin kamu dari .."
"Nyelametin siapa?" serobot Kallista, "mereka itu mau ngenterin gue ke jalan gede."
Arion terpaku, ya kali ini ia sudah salah sangka. Memang siapa yang akan berpikiran positif kalau melihat gadis diarak beberapa pemuda?
Arion kembali ke kumpulan orang yang sudah ia salah pahami "Sorry" sesalnya sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah sebagai ganti rugi untuk sebuah bogeman yang sudah ia berikan.
"Pacarnya yah, a? lain kali jangan ditinggal sendirian atuh kasian!" protes pria itu sambil menahan nyeri pada pipi nya.
"Udah lah gak perlu, lagian mobilnya jadi lecet gara-gara saya," ucap pria itu lalu segera membawa motornya dan berlalu, diikuti yang lainnya.
Kallista berdecak, orang-orang di desa gak sebrutal orang-orang di Jakarta. Masih banyak orang baik di dunia ini, jadi jangan disama ratakan.
Arion menghela nafas, lalu mencari memutar tubuhnya, tapi Kallista tak ada dimanapun, kemana lagi dia.
Arion segera masuk ke dalam mobilnya, tapi ternyata gadis itu sudah bersimpuh di kursi penumpang, nafasnya kembali lega. Sepertinya hari ini jantungnya sudah banyak berolahraga.
Kallista bahkan sudah tertidur pulas, terlihat jelas dari semburat wajahnya, pasti sangat lelah.
___________________
Kalau suka dengan cerita ini bagikan juga ke teman-temanmu ya
Jangan lupa vote dan komentarnya
❤❤❤