
"Aku pakek baju ini bagus gak, Mah?" Alysa memutar tubuhnya yang sudah berbalut dress hitam pekat di atas lutut.
Kesya hanya menatapi anaknya tanpa berniat untuk menjawab, meski ia begitu memanjakan anaknya ini tapi insting seorang Ibu begitu kuat, meski Alysa berusaha tak menunjukkannya.
"Mama kok ngeliatinnya kayak gitu sih?!" keluh Alysa lali kembali menatap pantulan tubuhnya di cermin.
Hening
Kesya menyentuh punggung Alysa lembut, lambat laun tubuh Alysa bergetar lalu gadis itu benar-benar tak bisa menahan tangisnya.
"Aku benar, aku bukan Ibu yang baik, aku gak pantes buat siapapun, aku gak pantes!!" Alysa merintih penuh penyesalan.
"Itu gak bener, kamu jangan ngomong gitu." Kesya membawa Alysa dalam pelukannya. "Kamu kuat Sayang, Mama sendiri gak tau gimana jadinya kalau jadi kamu, mungkin Mama akan gila."
"Itu sebabnya, Mah. Harusnya aku gila, tapi kenapa aku baik-baik aja?" adunya.
"Itu karena kamu kuat, kamu kuat Sayang."
Alysa mengusap bekas tangis pada pipinya. "Aku mau pisah," ucapnya di sela sesenggukannya.
"Kamu yakin?"
Alysa mengangguk, ia merasa tak punya cara lain. Jika keberadaannya merupakan kesalahan, mungkin ketiadaannya adalah suatu hal yang benar.
"Apapun yang membuatmu bahagia, Mama pasti dukung."
Alysa menggelengkan kepalanya. "Sama sekali enggak."
"Lalu?"
Alysa kembali memeluk erat Ibunya, pelukan yang seolah mengurangi rasa sesak dalam hatinya.
Kesya membawa Alysa ke atas kasur lalu menidurkannya. "Sekarang kamu istirahat, biar besok fresh. Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama," ujarnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Alysa mengangguk, "Makasih, Mah."
Cklek
Kesya keluar dari kamar Alysa, air matanya kembali menetes, hatinya ikut sakit ketika melihat anaknya menderita.
Suara yang saling bersautan di lantai bawah membuatnya kembali sadar, ia tak bisa hanyut sendirian, masih banyak perasaan yang musti diperhatikannya.
"Siapa yang mau menikah?" Kesya menyahuti pertanyaan Natasha sambil menuruni anak tangga.
"Anak Mama lah, siapa lagi?!"
"Kamu?"
"Haa."
"Kamu anak Mama juga kan?"
Natasha mendengus, lagipula menikah bukan tujuan utama, masih banyak cara untuk menikmati kehidupan.
"Apa perlu Mama bantu carikan?" Kesya sudah terduduk di samping Natasha.
"Ishh, kok jadi aku sih?! lagi bahas Arion kok."
Kesya tertawa, ia senang menggodai gadisnya yang satu ini.
"Apa Mama bisa melepas kamu?" Kesya membelai wajah Arion. Suasana kembali hening, pernyataan Kesya begitu posesif.
"Arion gak pergi ke mana-mana, Mah. Gak ada yang perlu direlakan." Arion menyentuh tangan yang masih berada di pipinya.
Kesya mengalihkan tatapannya pada gadis di samping Arion. "Sejak dulu, selalu kamu."
"Eghmm." Natasha berdeham, perasaan ini acara ulang tahunnya. Setahun hanya sekali, setidaknya untuk hari ini hanya dia yang seharusnya paling dispesialkan. "Aku mau selalu bahagia seperti sekarang ini. Fyuuhhh." Api pada lilinnya langsung padam dalam satu kali tiupan.
Cup
Natasha mengecup pipi Kesya lalu memeluknya. "Mama seolah hadir melengkapiku, Aku gak tau gimana jadinya kalo gak ada Mama. Terima kasih untuk segalanya."
Kesya mengusap lembut punggung Natasha, "Kamu juga melengkapi kami, Sayang."
Natasha beralih pada Rangga. "Terima kasih juga ya, Pah."
"Untuk?"
"Menikahi Mama lalu membawanya padaku."
"Loh kok?!"
"Kamu pikir dapetin Mama kamu itu mudah? hampir mati Papa dibuat..awhhh." berakhir ringisan seperti biasa karena cubitan sang istri sudah mendarat pada perutnya.
Natasha terkekeh, "Walaupun disakitin begini, Pah?"
Rangga mengangguk, "Karena kehilangannya akan jauh lebih sakit."
Natasha memutar bola matanya, walaupun itu suatu hal yang romantis tapi kalau sudah berlebihan begini selalu membuatnya jengkel pada saat seperti ini kepercayaannya selalu dibuat goyah.
Apakah ini rasanya berada di tengah-tengah keluarga yang sempurna? begitu hangat dari luar, lalu menenangkan ketika berada di dalamnya, seolah ikut merasakan kelengkapan.
Kallista tak pernah dihadapkan dengan penampakan semacam ini, selama hidup ia hanya dikelilingi oleh orang-orang yang serupa dengannya. Entah itu anak yang dibuang oleh orangtuanya, ditinggal mati ayahnya lalu ibunya lalu keluarganya, apapun itu hanya kehilangan, bahkan karena hal itu ia merasa baik-baik saja karena bukan hanya dirinyalah yang tidak beruntung.
Tapi kali ini, ia benar-benar dibuat ingin jadi salah satu dari mereka. Mereka yang mentertawakan satu sama lain, ikut sakit ketika salah satunya menderita, memeluk ketika yang satu sedih, selalu ada ketika dibutuhkan yang lainnya. Kalau bisa, Kallista benar-benar ingin jadi bagian dari keluarga ini.
_________________________
Cup
Sebuah kecupan mendarat pada pipi Rangga, namun itu bukan berasal dari istrinya, ia sudah hapal betul perbedaannya.
"Pagi, Pah!" sapa Alysa.
Rangga segera bangkit dari kursi makannya. "Astaga, Kapan kamu pulang?" kagetnya yang tak melihat tanda-tanda kedatangan.
"Semalam," sahut Alysa.
"Mahh!" panggil Rangga.
Alysa berdesis lalu segera mendorong pelan tubuh Papanya agar kembali terduduk. "Tunggu di sini! Alysa mau bantu Mama nyiapin sarapan."
"Kok gak bilang Papa sih, Mah?"
"Yang penting sekarang tau, Papa ribet deh." Alysa membelai Mamanya.
"Maaf, semalam kan semua fokus ke Natasha." jelas Kesya. "Lagipula Alysa langsung tidur, kecapekan."
Alysa kembali ke dapur untuk mengambilkan beberapa buah-buahan dan slai roti yang baru. Sedangkan Arion baru muncul dan bergabung di meja makan.
"Pagi Mah, Pah!" sapa Arion.
"Pagi Sayang."
Arion sudah bersiap-siap dengan piringnya, mengambil sepotong roti lalu pergerakannya terhenti ketika seseorang mengoleskan selai coklat pada roti miliknya.
Alysa menampilkan senyum ketika Arion melihat ke arahnya.
Prang
Arion menjatuhkan garpu yang dipegangnya sampai betpantulan dengan piring. "Kenapa gak bilang?"
"Huh, bilang apa?"
"Pulang. Gue kan bisa jemput."
"Gue gak manja. Nih! nanti telat." Alysa menyodorkan roti tawar yang sudah diberi beberapa toping di atasnya.
"Lo bisa manja ke gue."
"Tapi lo udah bikin gue biasa tanpa lo." Alysa akhirnya menyuapkan sendiri roti yang tak kunjung diambil alih.
Arion menghela napas, perbuatannya masih terasa pahit jika diingat bahkan oleh diri sendiri.
"Kalo gitu, anterin gue belanja, nyalon, perawatan. Gimana?"
"Sekarang?"
Alysa mengangguk, "Lo harus mengorbankan kerjaan demi gue!" ucapnya sambil menampilkan puppy eyes.
Arion terlihat berpikir, pagi ini ia ada meeting penting, haruskah diundur? Arion melihat ke arah Papanya yang masih sama-sama memerhatikan.
"Terserah, kamu yang menunda kamu juga yang akan keteteran." Rangga mengembalikan keputusan kepada yang bersangkutan.
Arion menekan salah satu kontak pada ponselnya. "Reschedule meeting pagi ini, saya ada urusan."
Bersambung ....