ARION

ARION
SALAH



"Maaf anda mau kemana?" tahan seorang pria ber jas yang berjaga di depan pent house


"Saya mau ketemu pak Bram" jawab Arion


"Beliau sedang tidak ada" timpal penjaga satunya


Arion menautkan kedua alisnya, lalu untuk apa mereka berjaga disini?? sungguh tidak mungkin kalau takut ada perampok. "Kemana?" tanyanya menyelidik


"Tuan sedang ke.."


"Pulang ke rumah istrinya" sambung penjaga yang lainnya, melengkapi kalimat yang tak dapat dilanjutkan oleh si penjawab yang pertama.


Arion mengangguk paham lalu memutar tubuhnya untuk segera pergi dari tempat ini. Namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mendengar samar suara yang meneriakkan namanya.


"Maaf" halang sebuah tangan


"Minggir" tegas Arion


"Sudah saya bilang.."


Arion membunyikan otot kepalanya, sepertinya kali ini ia tak bisa menyembunyikan keahlian terselubungnya


Bugh


Arion meninju perut penjaga yang menghalanginya. Sebuah tangan dari teman si penjaga yang tersungkur meluncur hampir menyentuh wajahnya, tapi Arion cekatan untuk bisa menghindarinya dan memanfaatkan itu untuk memberi pukulan lain pada orang yang sedang terpeleset itu.


Keduanya sudah tersungkur saling tumpuk, Arion segera menghampiri pintu dan memencet beberapa tombol. Ia pernah melihat pemilik mension ini menekan beberapa sandi, ya ia bisa menghapalnya dalam satu lirikan.


"****" geram Arion segera menghampiri pria paruh baya yang sedang mengukung seorang gadis yang sedang dicarinya.


Bram melihat ke arah suara dan seketika tak bisa berpikir apapun,


Bugh


Tanpa sepatah katapun yang keluar, pukulan Arion terlebih dahulu mengenai wajah pria itu sampai tubuhnya terpantul.


Arion menatap nanar gadis yang sedang ketakutan dengan pakaian lusuhnya. Ia segera membuka jaketnya hendak menutupi bagian atas tubuh Kallista yang hampir terekspos


"Jangannn .." teriak Kallista histeris


"Ini gue, Ta lo tenang. Ini gue" ucap Arion menenangkan Kallista yang masih ketakutan


"A-Arion??" gumam Kallista yang hanya bisa menebaknya dari suara, sebab pandangannya buram oleh air mata yang tak henti keluar


Seketika rahangnya kembali mengeras, melihat tapak merah pada pipi mulus gadis itu. Arion kembali fokus pada pria yang sedang mencari-cari jalan keluar di depannya


"Arion lepas atau saya akan saya pecat kamu" tekan pria itu, yang tak lain adalah bos nya sendiri


"Dengan senang hati" jawab Arion penuh tekanan. Dari awal bukankah pria itu yang memintanya untuk bekerja padanya? ia tak pernah meminta pekerjaan pada siapapun. Uang selalu berlomba menghampirinya tanpa harus berausah payah mencari


"Oke tunggu, jangan pukul" pinta Bram dengan jantung berdebar, takut kalau wajahnya akan hancur dan itu akan mempengaruhi ketenaran agensi miliknya.


"Alysa.." ucap Bram, membuat Arion kembali mengurungkan pukulannya


"Alysa yang meminta saya. Dia akan memundurkan diri kalau saya tidak mengikuti permintaannya. Dia model terlaris di agensi" lanjut Bram


Arion mengendurkan cengkramannya "Lagipula mengapa kamu disini? apa hubunganmu dengan gadis yang.."


"Jangan sesekali berani sentuh dia lagi" tekan Arion sambil mendorong tubuh pria yang mulai sekarang sudah resmi menjadi mantan bos nya itu


"Dan mulai detik ini gue gak kerja sama lo lagi" tegasnya


Arion segera menghampiri gadis yang sedang memeluk tubuhnya sendiri di sudut tembok lalu mengangkatnya ala bridal



Arion menambah laju kecepatan motor yang dibawanya, membuat gadis yang menumpang semakin mengeratkan lingkar tangan pada perutnya.


"Kallista??" kaget Ratih yang memang sedang panik menungguinya. Apalagi keadaan gadis yang berada dalam pangkuan Arion itu sudah tak karuan


Kallista malu, ia semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada leher pria itu sembari menyembunyikan wajahnya.


Ratih mengerti, ia segera menyuruh Arion untuk mengantarkan gadis itu ke kamarnya.


"Sekarang lo tidur" titah Arion setelah membaringkan Kallista dan menyelimutinya.


"Mau kemana?" Kallista menahan lengan Arion yang akan beranjak


"Gue ada urusan" ucapnya


"Lo marah?" tanya Kallista tanpa berani menatap mata lawan bicaranya


"Gak usah mikirin apapun, sekarang lo istirahat" titahnya lagi


Kallista menggelengkan kepaanya tak setuju tanpa melepaskan pegangannya pada pria itu.


"Gue gak akan bisa tidur" adu nya


Arion menghela napasnya panjang, sebab ia memang sedang kesal dengan kegegabahan gadis ini. Kalau saja ia tidak datang kesana, apa yang akan terjadi padanya? sungguh Arion tidak sanggup membayangkannya.


____________________________


"Arion" kaget Kesya yang luar biasa senang melihat kedatangan anaknya ke rumah


Arion melewati ibunya begitu saja, membuat Kesya mengikuti arah langkah pria yang tak meliriknya sedikitpun. "Kenapa anak itu?" herannya


"Alysa keluar" tekan Arion di depan pintu kamar adiknya


"Arion" gumam Alysa senang dan segera membuka pintu kamarnya


Plak


Rasa perih pada pipi nya memudarkan garis senyum yang akan ia perlihatkan


"Arion lo apa-apaan?" protes Alysa


"Lo yang apa-apaan?" tegas Arion menyudutkan tubuh adiknya


"Gue gak suka punya adik sejahat lo" lanjutnya


"Maksud lo apa sih?" tanya Alysa masih dalam rangka ketidakpahamannya.


"Kenapa lo mau nyelakain Kallista?" geram Arion


"Lo nampar gue cuman karena cewek matre itu?" tanya Alysa tak habis pikir


"Kallista gak kayak gitu" tekan Arion. "Kalau sekali lagi lo coba nyakitin dia, gue gak akan biarin lo" lanjutnya segera beranjak dari tempatnya


"Arionnnn" teriak Alysa frustasi


"Adik lo itu gue atau dia?" tanyanya dengan napas ngos-ngosan


"Kenapa lo.."


"Sekali lagi lo ulangin, lo bukan adik gue lagi" potong Ation penuh tekanan


"Kenapa lo gak pernah sayang sama gue?? kenapa selalu gadis panti itu kenapaaaa?" teriaknya sambil membanting guci hiasan yang ada di atas nakas sampingnya


"Lo mau tau kenapa?" Arion kembali menghampiri gadis itu


"Ibu Kallista meninggal tertabrak mobil karena nyelametin lo" jelas Arion yang berasil membuat adiknya tertohok


"Kallista kehilangan segalanya, secara gak langsung itu ada hubungannya sama lo. Gue mau nebus itu" jelas Arion


"Mulai sekarang, lo harus terima dan memperlakukannya dengan baik. Karena tanpa ibunya lo gak akan ada disini sekarang" lanjutnya


"Apa lo mau gue yang mati?" tanya Alysa mengambil kesimpulan


Arion tak menghiraukan pertanyaan gadis itu. Ia beranjak dari sana, meninggalkan gadis yang penuh dengan rasa penasaran padanya.


"Arion jawab.." pinta Alysa segera menuruni tangga untuk mengejar pria itu


"Arggghhhh" Alysa terpeleset dan tergelinding dari pertengahan anak tangga sampai ke antai bawah


"Alysaaa" teriak Kesya histeris


______________________


"Apa lo mau gue yang mati?" pertanyaan itu terus menggema dalam kepala Arion di sepanjang perjalanan


Memang semuanya tidak murni kesalahan gadis itu, tapi rasanya kasih sayang pada adiknya hilang setelah melihat gadis yang selama ini ia sukai menderita karenanya.


Selama ini ia memilih menjadi sahabat Kallista karena ingin menebus kesalahan adiknya, untuk menggantikan senyum Kallista yang hilang.


"Hiks.. ibu.." ucap Kallista dalam tidurnya, membuyarkan pikiran Arion yang seang berkecamuk


"Ibu jangan tinggalin Kallista buu.." ucap Kallista lagi


Butiran bening itu keluar deras dari ujung matanya, membuat hati pria yang melihatnya serasa ikut teriris


"Ibuuuuuu.." panggil Kallista seraya bangkit dari tidurnya dengan napas yang berderu


"Ta, lo gak apa-apa?" tanya Arion


Kallista segera menghambur pada pelukan pria itu "Ibu ninggalin gue Yon" ringis Kallista penuh luka


"Kalau aja waktu itu gue gak maksa ibu pergi ke taman, mungkin ibu masih hidup sampai sekarang" sesalnya


"Ini salah gue" ucapnya penuh luka


"Ini salah gue Ta" batin Arion menimpali. Kalau saja ia bisa mencegat adiknya lebih dulu, mungkin ibu Kallista tidak harus menyelamatkan siapapun. Kalau saja ia bisa menjaga adiknya dengan benar, mungkin Kallista tak akan kehilangan siapapun.


Kring kring


Arion melirik layar ponselnya yang menampilkan nama ibunya. Untuk pertama kali ia mengacuhkan panggilan dari wanita itu, ia tau kalau Alysa pasti mengadu pada ibunya dan seperti biasa ia akan menerima nasihat dari ibunya yang hanya ia dengarkan tanpa perah ia turuti.