ARION

ARION
TERGAPAI



"Kamu lihat Arion?" tanya Rangga pada Ririn yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.


Ririn terdiam sejenak berusaha mengingat kejadian sebelumnya. "Di ruangannya tidak ada?" ujarnya malah bertanya balik.


"Kalau ada, saya tidak akan bertanya!" jawab Rangga datar.


Benar juga apa kata bos nya itu. "Jadwal pemotretan sudah selesai satu jam yang lalu, jadi Arion tidak mungkin masih di sana, Tapi.." ucapan Ririn menggantung, nyatanya Rangga sudah tidak ada di hadapannya.


"Dari dulu gak pernah berubah." keluh Ririn, mengasihani dirinya yang dapat bertahan selama ini.


"Pagi pak!" sapa karyawan yang dilintasi Rangga sepanjang perjalanan menyusuri kantor hanya untuk mencari keberadaan anak kecintaan istrinya itu.


Kalau saja Kesya tidak bersikeras maka lebih baik tidak bersusah payah begini! Anak itu bukan anak kecil lagi yang harus diketahui di mana keberadaannya. Tapi tidak bagi istrinya! Arion tetap malaikat kecil baginya.


"A..rion?!" gumam Rangga, membuat 2 orang yang saling dekat di depannya segera menciptakan jarak.


Apakah kebahagiaan yang baru saja dirasakannya akan segera sirna karena tidak dapat restu? perbedaan kasta sudah pasti jadi alasan. Kallista menelan salivanya berat, ia terlalu takut dengan kenyataan.


Berbeda dengan Arion, ia masih terlihat sangat tenang bagai tak ada beban yang terlihat di depannya, walau tadi sempat sedikit terkejut karena sudah merasa dipergoki.


"Kalian?"


"Ahh tadi, kami hanya.." ucapan Kallista terhenti ketika tangan atasannya itu menyentuh pipi basahnya.


Arion menggeram, pemandangan itu terlalu membuat hatinya panas. Ia segera menarik tubuh Kallista agar berada di balik tubuhnya.


"Kamu bikin Kallista nangis?" tuduh Rangga, membuat si objek pembicaraan segera melap jejak air matanya.


Arion mengangguk, sedang Kallista berusaha menyangkalinya. "Tidak pak, bukan. Tadi.."


"Arion masih ada urusan!" ucapnya.


"Tunggu!" tahan Rangga. "Kenapa Kallista dibawa juga? papa mau bicara!"


"Urusan Arion sama Kallista!" balas pria itu tanpa mau menoleh lagi.


Sepanjang perjalanan Kallista terlihat pucat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, bahkan Ac menyala pun tidak membuat peluhnya berhenti menetes.


"Kenapa?" tanya Arion selepas menghentikan mobilnya.


Kallista menggeleng, isi kepalanya terlalu banyak, musti disaring terlebih dulu, dan untuk itu Kallista butuh waktu semalaman.


"Jangan dipikirin!" ucap Arion, ia tau jelas dengan apa yang sedang mengganggu gadis yang beberapa waktu lalu dianggap resmi menjadi pasangannya. Mungkin tidak pernah ada kata "Jadian" tapi satu adegan tadi secara tidak langsung meresmikan hubungannya.


"Tapi, gimana kalau papamu ...." Kallista menelan salivanya berat, terlalu sulit melanjutkan kalimatnya.


"Apa perduliku?" sahut Arion. "Kamu tidak pernah melihatku melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan, bukan?"


Kallista mengangguk pelan.


"Sudah terjawab!" Arion memastikan.


Kallista seperti diingatkan kembali. "Berarti kamu ninggalin aku selama ini? itu keinginan kamu?"


Arion berusaha mengalihkan kegugupannya, ia belum dapat memberi jawaban yang pas untuk saat ini. Ia melihat jam yang melingkar pada tangannya. "Ayo turun! sebentar lagi toko nya tutup." pungkasnya membuka seat bell yang masih terpasang pada Kallista.


Pria itu masih tidak berniat untuk memberi tahu alasannya. Keduanya berjalan beriringan tanpa suara, sebab Kallista tak berniat menjawab berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan Arion, walau sebenarnya ia sangat penasaran kenapa pria ini membawanya ke mall.


Langkah Kallista terhenti di depan toko baju, untuk apa kemari? apa pakaiannya masih dinilai tidak pantas untuk beriringan dengan lelaki sukses ini?


Arion segera menarik lengan Kallista yang hendak pergi. "Aku tidak ingin kamu memakai pakaian pemberian lelaki lain! jadi buang semua barang pemberian itu!!" tegasnya sambil membawa gadis itu masuk ke dalam toko.


Jejeran dress dilaluinya begitu saja dan berhenti pada rak-rak kaos casual. "Pilih baju yang membuatmu nyaman, bukan untuk dilihat orang." tutur Arion.


"Kayak siapa?" potong Arion.


Kallista diam, ia dibuat kehabisan kata-kata.


"Aku tidak mau kamu jadi seperti orang lain! bagaimanapun kamu tidak akan merubah perasaanku." imbuhnya.


Kallista berusaha menahan senyum tak tertahannya. Kata-kata yang lelaki itu ucap terlalu manis untuknya. Dan untuk hal ini ia dibuat menunggu lama.


Sebelumnya ia kira Arion berubah seekstrim ini karena perubahan style nya, tapi ternyata style baru nya itu malah dianggap mengganggu dan Arion tidak tahan untuk membuat Kallista kembali pada dirinya sendiri.


"Tunggu di sini!" titah Arion sambil memberikannya segelas coffe latte yang sengaja dibelinya tadi.



Arion sudah kembali dari kasir lalu langkahnya terhenti. Dilihatnya Kallista dari jauh, apa ia bisa mempertahankan keinginannya ini? sedang ia pernah abai dengan tega demi kembali pada sesuatu hal yang telah lebih dulu ditinggalkan.


Kallista menyadari tatapan itu lalu sorot mata keduanya saling bertemu. Ketakutan yang tersirat segera tertutupi dengan kerinduan yang teramat sangat dan rasa ingin terus bersama.


Arion mengulurkan tangannya sebagai tanda agar Kallista menghampirinya.


"Sekarang ke mana?" tanya Kallista.


Kalau diingat, tidak ada hal yang tidak pernah keduanya lakukan. Sejak dulu mereka sering bersama dan sering kali dianggap sebagai pasangan oleh orang-orang yang melihatnya.


Kallista menghentikan langkahnya. Sejak dulu Arion sudah memperlakukannya layak pasangan namun pada kenyataannya mereka hanyalah teman. Ia tak ingin kembali keliru. "Kita ini apa?" tanyanya.


Arion melepas tangan gadis itu, lalu melipatnya di atas dada. "Kira-kira bagusnya apa?"


Kallista mendelik, pria itu sendiri benci dengan jawaban yang dibebankan pada penanya, tapi ia malah melakukannya.


"Teman!" tegas Kallista. Dari pada jawaban itu ia yang dengar, lebih baik ia yang katakan. Berucap sendiri sakit pun sendiri.


Arion kembali menarik lengan gadis itu, membuat tubuhnya memantul dan keduanya menjadi terlalu dekat.


Cup


Arion mengecup bibir Kallista singkat. "Teman tidak pernah melampaui batas!" pungkasnya.


Kallista tersipu, pipinya memerah, jantungnya berdegup cepat, mungkin sekarang hatinya sedang dipenuhi bunga bermekaran.


"Jadi apa?" Kallista kembali mengulas pertanyaannya yang belum terjawab.


Arion melenguh lalu melanjutkan langkah besarnya, meninggalkan Kallista yang masih berharap besar akan jawabannya.


"Apa susahnya sih? tinggal jawab!" tegas Kallista dengan suara melengking, membuat para pengunjung mall melirik penuh tanya ke arahnya. Sebenarnya ini bukan bagian dari rencananya, kini ia pun malau dengan perilaku tak sengajanya.


Gadis itu memang pantang menyerah dan sialnya Arion masih sangat suka.


"Aaakk" Kallista segera menutup mulutnya sendiri ketika tubuhnya melayang, Arion mengangkatnya.


"Hari Rabu tanggal 24 Desember 2019 pukul 8 lebih 15 menit, kami resmi berpacaran!" tegas Arion, menjawab rasa penasaran para manusia yang terlanjur kepo dan kemudian mereka bertepuk tangan dengan meriah sambil bersorak sorai bagai ikut merasa bahagia akan keduanya.


Kallista yang tadinya ngotot kini menciut, ia amat sangat malu karena menjadi sorotan seluruh pengunjung mall di sekelilingnya, bahkan dari lantai 2, 3, dan sampai lantai paling atas pun rela meluangkan waktu untuk ikut menontoninya.


Arion membawa tubuh Kallista menuruni tangga berjalan tanpa ragu, sedang Kallista masih menyembunyikan wajahnya pada badan tegap pria itu.


Kallista mengintip sedikit, dilihatnya wajah Arion yang tegas dan penuh percaya diri. Sampai-sampai ia merasa sangat berani dengan perasaannya ini. Bukankah tak seharusnya ia memiliki? terlalu tinggi tapi Kallista mampu menggapainya.


Bersambung ...