
"Saya .."
Ctrek
Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya namun seluruh lampu tiba-tiba mati. Sudah jelas ini bukan bagian dari rencananya, kenapa harus ada hal yang menghambatnya begini? Bara tidak suka sesuatu yang tidak swmpurna seperti ini.
Lampu kembali menyala namun gadis yang tadi berada di depannya sudah tidak berada di tempatnya.
"Kallista mana?" tanya Bara sembari mengedarkan pandangannya.
Semua tamu saling lempar tanya dan ikut mencari keberadaan si pemeran utama.
Pria yang kedatangannya sama sekali tak diharapkan Bara pun tak terlihat keberadaannya. Apa ini ulahnya? mengacaukan rencana yang sudah ia susun susah payah.
"Arion mana?" tanya Bara pada Yara yang seolah diingatkan tentang sesuatu yang hilang.
"Arion?" ulangnya. "Tadi sih, tadi sama gue kok! hemm ke toilet kali." tambahnya.
"Kalo udah bisa berduaan ngapain repot-repot dateng ke sini sih? ke mana kek! tempat lain." deliknya tak bersahabat, membuat kebingungan yang melanda Yara semakin bertambah.
___________________
"Akkkkhh" Arion segera menarik lengannya dari gigitan gadis yang dibawanya dari kerumunan orang dengan cara menembus kegelapan.
"Arion?!" kaget Kallista setelah berhasil melepaskan diri. "Maaf saya pikir.." ucapan Kallista terhenti, kenapa ia yang meminta maaf? Bodoh!
"Bapak mau nyulik saya?" tuduh Kallista setelah berpikir banyak. Bahkan pria ini sudah membawanya ke gudang, butuh bukti apa lagi?
"Saya baru saja menyelamatkan kamu!" elak Arion, membantah tuduhan kejam gadis itu.
"Menyelamatkan?" ulang Kallista. "Dari apa?" tambahnya.
Arion diam sejenak, ia harus beri alasan apa lagi? "Mati lampu.." jawabnya asal.
Kallista berdecih, bahkan teriak pun ia tidak. Malah tingkah pria ini yang membuatnya takut. Membawanya pergi secara diam-diam. Bukankah itu keterlaluan.
"Maaf ya pak, saya harus kembali ke dalam." ucap Kallista tak ingin memperpanjang masalah.
"Untuk apa?" serobot Arion segera menghalangi jalan.
"Teman-teman saya pasti nyariin!" keluh Kallista.
"Gak bisa!!" tegas Arion. Sekarang ia sudah berani mencengkram lengan gadis itu.
Kallista memicingkan matanya tak paham. "Sebenarnya masalah bapak itu apa sih?" tanyanya.
Tak ada jawaban. Hanya saja genggaman tangannya tak berkurang sedikitpun.
"Maaf, pak. Saya minta tangan saya!" Kallista segera menghempaskan genggaman Arion, kesabarannya sudah dibuat habis.
"Saya hanya menyelamatkan kamu dari Bara!" suara Arion membuat langkah Kallista kembali terhenti.
"Maksudnya?" Kallista memutar kembali tubuhnya.
"Pria itu mau melamar kamu di depan umum, agar kamu tidak punya pilihan selain menerimanya." tutur Arion.
Arion memegang kuat kedua sisi bahu Kallista. "Saya tau kamu tidak punya perasaan apapun pada .."
"Siapa bilang?" potong gadis itu sambil melepas kedua tangan Arion yang menyentuh bagian tubuhnya.
"Saya berharap! amat sangat mengharapkan saat-saat seperti ini!!" tegas Kallista, membantah mentah-mentah tuduhan pria itu.
"Kallista?!" Arion kembali menarik tangan Kallista yang hendak pergi meninggalkannya.
"Jangan bodoh!"
"Saya hanya bawahan Bapak, jadi jangan ikut campur masalah pribadi saya!" tekan Kallista.
"Kallista cukup!!" tegas Arion. "Persetan dengan jabatan gue gak perduli!" tambahnya.
"Lo gak bisa jawab! dan gue gak akan pernah menanyakan hal ini lagi!" ucap Kallista lagi segera kembali ke tempat yang seharusnya, meninggalkan Arion dengan segala pikiran yang saling berbenturan.
"Kok, semua pada kemana?" heran Kallista dengan ruangan yang hanya menyisakan Bara.
"Saya pikir kamu tidak akan kembali lagi, jadi acaranya selesai." jelas Bara. "Saya belum pulang karena masih ingin memastikan, setelah tau kamu baik-baik saja saya pamit, sekali lagi selamat ulang tahun buat kamu" lanjutnya.
Kallista menelan salivanya berat, apakah ia harus melakukan ini?
"Tunggu!" tahan Kallista, membuat Bara memutar kembali tubuhnya.
"Tadi mau bilang apa?" tanya gadis itu.
"Kapan?"
"Sebelum listrik mati!"
"Ahh itu.. biar saya cari waktu yang.."
"Lo mau lamar gue?" tebak Kallista tak sabar, bersamaan dengan kemunculan Arion tepat di belakang tubuh pria yang semakin mendekat karena pernyataan menohoknya.
Bara tersenyum, memang sudah sepantasnya ia memiliki kepercayaan diri yang kuat, tapi kalau untuk masalah serius seperti ini maka terlalu berlebihan.
"Saya baru berencana untuk mengungkapkan perasaan saya sama kamu." ralat Bara.
Wajah Kallista memerah, kenapa ia harus menyatakan hal yang tidak benar?
"Lupakan! saya mau sesuatu yang membuatmu berkesan, biar nanti.."
"Gue mau." potong Kallista. Sorot matanya masih melihat seseorang yang lain, seseorang yang telah lama menghuni hatinya meski telah lama hilang, seseorang yang ingin sekali ia gantikan dengan yang lain. Mungkin ini saatnya!
"Gue mau, Bara!" ulang Kallista, kini matanya sudah melihat pria yang sedang ia ajak bicara.
Memang ini jawaban yang Bara harapkan, tapi kenapa ia tak bisa berkata-kata? semua terlalu di luar perkiraan, sampai-sampai untuk berekspresi saja ia takut keliru.
Kallista segera meraih lengan pria yang masih mencerna ucapannya lalu segera membawanya pergi, atau otak liarnya akan memaksa lagi untuk segera mencium Bara di hadapan pria ini.
Apa gadis itu serius dengan ucapannya? bukankah terlalu terburu-buru? padahal tadi ia sudah menambahkan bumbu berlebihan tapi ia melupakan satu hal, Kallista memang satu-satunya gadis pemberani yang ia kenal. Dan sampai sekarang gadis itu tak pernah berubah, masih sama.
"Lo kemana aja sih?" keluh Yara yang sudah menunggui di depan mobil Arion sejak tadi.
"Arion?" panggil Yara lagi, pria itu sama sekali tak meresponnya.
"Lo bisa pulang naik taksi?" Arion bersuara.
"Loh kok? Arionn..."
Pria itu sudah masuk ke dalam mobilnya dan beranjak pergi meninggalkan Yara dengan ketidakterimaannya.
Mobil Arion sudah terparkir di depan club malah yang isinya bukanlah hal yang biasa baginya.
Tapi untuk apa? ketidak sadarannya nanti malah akan membuat gadis itu semakin memenuhi kepalanya.
"Lalu apa? Kalau bukan sebatas urusan pekerjaan lalu apa lagi?"
Kalimat itu kembali muncul, membuat Arion memukul setirnya kuat.
"Kita! ini tentang gue yang pergi dan lo yang udah dibikin nunggu." geramnya.
Kenapa kalimat sesederhana itu amat sulit keluar dari mulutnya?? apa terlalu tidak mungkin??
Tapi bukankah sudah terlalu jelas? Gadis itu ingin melupakannya! benar-benar ingin menggantikan posisinya dengan yang lain.
Keinginan tidak selalu terjadi, hati tak mudah berubah kalau hanya sekedar ingin. Kalau begitu artinya?
"Gue masih punya kesempatan! meski kecil bukan berarti gak ada."
Bersambung ...