
Alysa masih terduduk di atas kasurnya, menghadap jendela sambil memejamkan mata, mencoba meresapi sinar mentari pagi yang menerpa wajahnya. Begitu hangat dan menenangkan, sekejap membuatnya lupa dengan segala permasalahan hidup yang seakan tak pernah menyerah padanya.
Ponsel berdering, memang sejak pertama ia memilih pergi pun benda pipih berwarna silver itu selalu menggangguinya. Ingin sekali ia melempar benda itu jauh-jauh, hanya saja ia tak benar-benar dengan keputusannya. Perlu dipastikan lagi, hatinya terlalu rapuh.
Tok tok
Suara pintu yang diketuk, sepagi ini, sangat mengganggu.
"Belum laper!" teriak Alysa.
"Gue Arion."
Seseorang yang ada di balik pintunya mulai bersuara, bahkan sejak semalam pria itu sudah mengetuki pintunya, bukankah seharusnya fokus dengan acara penting yang sama sekali tak melibatkannya? itu berarti, kehadirannya sungguh tidak penting. Ya, Alysa harus menyadari fakta itu.
"Alysa buka!" Arion kembali bersuara, namun kali ini tidak dengan nada yang memohon.
Cklek
Pintu terbuka ketika Arion iseng menggerakkan handle besi yang sejak tadi hanya ia pegangi, ternyata pintu sama sekali tidak dikunci.
"Kenapa belum turun?"
"Udah gue bilang, belum laper."
"Semalam,"
"Semua keluarga hadir, kecuali gue." Alysa mendahului.
Arion diam, tak mampu menyangkali.
Alysa tersenyum miris, pilihannya untuk pulang memang hanya menjadi penghambat saja. Seharusnya ia bisa menyelesaikan masalah tanpa harus berlari ke mana pun, ia terlalu payah, terlalu ingin berlindung pada seseorang yang tak pernah bisa melindunginya.
"Alysa lo mau apa?" Arion menautkan kedua alisnya ketika adik satu-satunya itu mengambil sebuah koper dan hendak memindahkan pakaian dari lemarinya.
Tak ada suara selain suara saling beradunya gantungan yang ikut dimasukkan ke dalam koper.
"Alysa, gue minta maaf."
Alysa masih saja tak menghiraukan perkataan Arion, bahkan ia sudah selesai mengepak pakaiannya.
"Keluar! gue mau mandi."
"Apa cuma ini yang bisa lo lakuin?" Arion berdecak frustasi.
"Jangan kayak anak kecil yang kalo ada masalah bisanya cuma kabur."
Alysa terlalu sensitif dengan sebutan "Anak kecil", itu dianggap terlalu kejam baginya yang sudah pantas memiliki, bukan lagi yang disebut dengan kata itu.
"Alysa denger, gue cuma belum siap dengan penolakan lo atas pilihan yang gue buat."
Alysa menekuk kedua alisnya, "Pilihan lo atas dasar keinginan lo?"
"Gue gak pernah melakukan hal yang gak gue mau."
"Bahagia dengan pilihan lo?"
Arion kembali mengangguk, "Ini satu-satunya hal yang paling membahagiakan setelah adanya lo." ia membingkai wajah Alysa, menatapnya dalam, menyalurkan segala keseriusannya dalam setiap kata.
"Gue gak bisa milih antara lo atau Kallista, kalian berdua berharga bagi gue."
"Kallista selalu berada di atas gue."
"Alysa, gue mohon."
Alysa menghela napas panjang, "Lo pikir gue masih Alysa yang mau lo seutuhnya? gue udah punya Aksa, walaupun .."
"Walaupun?" Arion mempertanyakan kelanjutan kalimatnya.
Alysa menggelengkan kepalanya. "Gue mau lo bahagia, lo bisa pilih apa yang lo mau tanpa mikirin siapapun."
"Semua bisa gak gue pikirin, sekalipun itu Papa. Tapi lo, punya sebagian tempat yang musti gue pusingin."
Alysa memeluk lelaki itu erat, "Gue mau pulang!" ujarnya menyudahi.
"Ini rumah lo, kenapa harus.."
"Lo lupa kalau adik manja lo ini udah nikah?"
Arion mengangguk, "Setelah ini gue akan lupa, jangan pikir gue gak tau tentang hubungan lo yang menyengsarakan."
Alysa menggelengkan kepalanya tak setuju. "Gue bisa mengatasinya, bukannya gue selalu mendapatkan apa yang gue mau?"
"Tapi lo butuh bahagia."
Arion mengacak rambut Alysa yang sudah lepek, membuatnya menyesal akan pergerakannya itu yang sama sekali tidak bisa dibatalkan. "Tapi berkat kelakuan lo itu juga hubungan gue sama Kallista bisa seerat ini."
___________________
Kallista masih tak menerima permintamaafan Arion, lelaki yang sudah memilih pergi saat setelah berhasil menyematkan cincin pada jari manisnya.
Padahal gadis itu sudah memberi Arion pilihan untuk tetap tinggal atau pergi dan sama sekali tidak bisa kembali. Tapi, lelaki itu malah memilih pergi. Kepercayaandirinya yang akan selalu diterima saat kembali terlalu disalahgunakan.
Aku marah! hari ini jangan cari aku ke mana pun atau aku bakal makin marah.
Kalimat yang ia kirimkan sebelum akhirnya menekan tombol switch off, agar keberadaannya sama sekali tak bisa ditemukan, lagipula ini kesempatan pertamanya dalam memulai karir baru menjadi seorang model, mimpi yang sempat ia kubur dalam-dalam karena Arion akan kembali ia buka lebar-lebar dan Arion harus menerimanya.
"Gue pikir lo udah gak perlu banyak latihan lagi." Natasha sebagai partner sudah memberikan dukungan.
Ponsel Natasha berdering, membuatnya fotografer lembali mengelus dada karena jadwalnya yang molor.
Kallista terkekeh, kejadian semacam ini membuatnya mengingat akan dirinya yang tak asing dengan hal semacam ini. Hal ini pula yang membuatnya tak ramah dengan obhek foto yang sering bermasalah namun tak merasa bersalah.
Ketiadaan Natasha yang begitu lama membuat Kallista kembali gugup. "Gue ijin ke toilet."
Bruk
Kallista terjatuh karena menginjak bagian dressnya yang menyentuh lantai. Memalukan! tapi, untung saja di lorong ini tak dilalui banyak orang, hanya saja sekarang bokongnya terlalu sakit untuk bisa bangkit sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" seseorang mengulurkan tangan.
Kallista mendongak, melihat siapa pemilik tangan besar yang hendak menolongnya.
Deg
Jantungnya berderu hebat, keringat dingin mulai bercucuran, begitu pun dengan wajah yang menjadi pucat pasi.
"Kamu sakit?"
Kallista segera memalingkan wajahnya dari tangan yang hendak menyentuhnya, ia memaksakan diri untuk berdiri secara mandiri.
Ingatan itu muncul lagi, di mana kedua tangan Kallista dibuat mati rasa, pergerakan kaki nya pun seakan tidak berguna. Tubuh Kallista yang sedang dihadapkan pemangsa pria laknat yang haus akan dosa.
"Kallista, lo gapapa?" seseorang yang lain membantunya.
"Bara?!" gumam Kallista ketika menyadari siapa yang sekarang sedang memegangi bahunya karena masih gontai, tak sanggup menyeimbangkan.
"Kamu kenal gadis ini?" tanya lelaki yang sudah nampak lebih tua dari yang terakhir Kallista lihat.
Bara mengangguk, "Kallista partner kerja Saya, Dad"
Kallista menautkan kedua alisnya, "D-dia?"
"Oh iya Kallista, perkenalkan ini Ayah saya."
Kedua mata Kallista membelalak, seingatnya perusahaan yang menipunya itu sudah bangkrut lama, lalu pemiliknya hilang entah ke mana. Tapi sekarang? secara tidak sadar Kallista sudah berteman baik dengan seseorang yang memiliki keterkaitan darah dari pria yang seumur hidupnya tak ingin lagi ia lihat.
Kallista pergi begitu saja meninggalkan Bara yang keheranan, tapi tidak dengan Bram, ia tahu jelas permasalahannya. Apakah kejadian hampir 5 tahun lalu itu belum juga bisa terlupakan?
Belum selesai keterkejutannya dengan kejadian tadi, Kallista sudah dibuat terpaku lagi dengan keberadaan gadis yang sudah mengalihkan fokus Arion semalam.
Bukan hanya itu, ketika menyadari keberadaannya Alysa dengan berani menghampirinya. Ya, gadis itu selalu menjadi pemberani, terutama kepadanya yang sejak dulu sudah dianggap sebagai perebut.
"Selamat." Alysa mengulurkan tangannya kepada Kallista yang hampir menjauh pergi.
Alysa menyadari betul ketakutan Kallista yang tak beda jauh dengan yang Arion ungkapkan tadi pagi. "Gue secara sadar memberi ijin lo atas Kakak gue, Arion."
Kallista masih tak berekspresi, entah terlalu bingung akan sikap Alysa yang tiba-tiba menjadi seperti Malaikat, atau pikirannya memang tidak sedang satu frekuensi dengan tubuhnya.
"Hello! Kallista.." Alysa mengibaskan tangannya di depan wajah gadis yang seperti tidak dalam keadaan sadar.
Kallista mengerjapkan matanya, "Sorry, gue hampir gak percaya kalo yang ngomong barusan itu lo, Alysa."
Alysa mendengus, tapi memang kenyataannya begitu, ia tak bisa menyalahkan. "Gue ke sini bukan buat nyuruh lo pergi dari Arion, tapi sebaliknya. Menjadi yang tak pernah menjauh meski disuruh pergi, menjadi satu-satunya yang tetap tinggal ketika semua orang meninggalkan."
"Bukannya pasti ada lo juga?"
"Selama lo ada, gue gak perlu ada."
Ketika Kallista tak pernah mendapat balasan dari senyuman yang selalu ia lukiskan pada Alysa, kini gadis itu memberikan senyumnya terlebih dahulu, dengan sedikit keraguan ia pun membalasnya.
"Satu hal yang gak berubah dari gue." Alysa berucap, membuat Kallista kembali dilanda rasa curiga.
"Gue gak bakal minta maaf, karena apa yang gue lakukan hanya ..."
"Dan gue masih gue yang dulu, gak perlu permintaanmaaf hanya untuk melupakan."
Bersambung ...