ARION

ARION
Ingatan



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading β™‘β™‘


Arion menghirup nafas sebanyak-banyaknya setelah sampai ke dalam ruangan yang mulai hari ini resmi menjadi miliknya. Sedari tadi jalur pernafasannya seperti tersendat karena keberadaan gadis yang telah lama tak ditemuinya.


3 tahun berlalu, tapi selama itu juga perasaannya masih tak berubah, masih sama seperti malam terakhir kebersamaannya dengan Kallista. Bahkan ingatan itu masih terpampang jelas dalam kepalanya. Karena memang ingatan itulah yang menguatkannya, yang menjadi obat selama ia tak bisa menemui gadis itu


"Bukannya Kallista sangat ingin jadi model? kenapa sekarang malah jadi fotografer?" gumamnya.


"Siapa?" tanya Rangga


"Pa-papa" kaget Arion segera menurunkan kaki nya dari atas meja "Maaf" ucap Arion "Sejak kapan papa disini?" tanyanya


"Baru saja" jawab Rangga


"Emm untuk masalah tadi Arion mau minta maaf" sesal Arion


"Masalah apa?" tanya Rangga


"Tadi Arion hampir bikin kacau, hampir saja agensi model itu menolak kerja sama dengan kita" jelas Arion dengan penuh penyesalan


Rangga mengangguk "Bisa dimengerti" ucapnya


"Papa gak marah?"


Rangga tertawa "Untuk apa?"


"Ka-karena.."


"Kamu persis seperti papa dulu" ucap Rangga


"Seperti papa?"


Rangga mengangguk "Dulu papa pernah melakukan hal serupa, dan yang papa lakukan tadi adalah yang kakek mu lakukan dulu" jelas Rangga mengulas masa lampau


"Entah kenapa ini bisa terulang lagi, lagi pula sikapmu tadi itu tidak salah, hanya saja mereka terlalu tidak sabaran dan kamu belum bisa mengatasinya. Untuk tugas pertama itu masih sangat wajar dan biasa terjadi" tutur Rangga sambil menghampiri Arion dengan menepuk-nepuk bahunya


"Untuk hari ini cukup, kamu bisa pulang atau masih mau disini pun tidak apa-apa." jelasnya


"Iya pa" jawab Arion ikut bangkit dari duduknya


"Kenapa kamu keringatan begini? ac nya papa rasa sudah cukup dingin" heran Rangga


"Ahh iya, Arion masih sedikit gugup karena masalah tadi" alibinya sambil mengusap beberapa butir keringat pada pelipisnya


"Apa mau papa panggilkan OB untuk bawakan kamu kopi atau.."


"Enggak pah, gak usah. Lagipula Arion mau ke kantin kantor, sambil keliling biar tau isi kantor sebesar ini ada apa aja" jelas Arion


Rangga mengangguk "Bagus, yasudah kalau begitu papa pergi dulu"


"Kenapa pah?" tanya Arion ketika Rangga kembali memutar tubuhnya


"Pertahankan kharismamu. Padahal tidak ada yang tau kalau kamu anak dari pemilik perusahaan ini tapi sepanjang jalan papa dengar obrolan para karyawan tentangmu, apalagi karyawan cewek-cewek pada heboh kayaknya haha" tutur Rangga yang diakhiri dengan suara tawa renyah darinya


"Oh ya pah" tahan Arion


"Kenapa?"


"Biarkan seperti ini dulu, gak ada yang tau siapa Arion"


Rangga mengangguk "Tapi ada waktunya nanti untuk diketahui, kamu penerus perusahaan ini"


"Iya pah, hanya sementara"


_______________________


"Lo pasti belum makan" ucap Deri


"So tau lo" sahut Kallista


"Untung sekarang bisa nafas lega, kita hampir mati karena lo Ta, asal lo tau" ujar Deri


Kallista mengangguk "Sorry" sesal Kallista


"Lo mau pesen apa?" tanya Deri


"Cake aja deh"


"Serius? lo kan belum sarapan"


"Mendadak gue gak laper"


"Gara-gara tadi?" tanya Deri


Kallista mengangguk lalu diakhiri dengan tertawa antara keduanya


"Eh kok CEO tadi bisa tau lo sih? untung ada dia yang nyelametin lo Ta"


"CEO ??" heran Kallista


"Iya, yang tadi bawa balik si Bara itu" jelas Deri


"Dia CEO??" kaget Kallista


"Ya ampun Ta, lo gak tau? berkasnya gak lo cek ya"


Kallista menggelengkan kepalanya "Sibuk gue"


"Sibuk menata masa depan?"


Kallista tertawa "Kok tau sih lo hahaha"


"Tau lah, kan masa depan lo itu gue" jawab Deri


"Sialan, suram dong" keluh Kallista


Deri tertawa mendengarnya, gombalannya memang tak mempan untuk gadis satu ini.


"Tadi gue tabrakan.."


"Hah tabrakan? tapi lo gapapa kan?" kaget Deri


"Enggak, bukan tabrakan lalu lintas Der. Jangan motong dong, kebiasaan banget sih" protesnya


"Oh, kirain hehe terus gimana"


"Tadi di lobi ada yang nabrak gue, terus berkas yang gue pegang jatoh berantakan, dan orang yang nabrak gue gak tau pergi gitu aja. Udah gitu tiba-tiba yang lo bilang CEO tadi itu bantuin gue mungutin berkas"


"Oh gitu" sahut Deri mengangguk paham


"Mana gue tau kalo dia CEO, tau-tau pas di ruangan eh dia muncul bawa balik si siapa tuh namanya rese banget si telat 10 menit juga" lanjut Kallista yang kembali terpancing emosi


"Wehh wehh sabar buk, nih makanannya udah dateng"


Kallista menghirup napas untuk menggantikan udara keluar yang sudah tercampur dengan emosinya "Moodbooster" ucapnya seraya menampilkan kembali garis senyum pada wajahnya


"


Kallista mengangguk "Yakin" jawabnya


________________________


"Mau pesan apa mas?" tanya pelayan


"Moccacino dingin satu" pesan Arion


"Ada lagi mas?"


"Udah, itu aja dulu"


"Arion?" sapa seseorang


Arion mendongak lalu mengingat-ngingat siapa yang sedang menyapanya ini


"Gue Yara, lo lupa?" ucap gadis itu


"Astaga .. gue model yang lo telantarkan" jelasnya nyaring, membuat orang yang mendengarnya otomatis langsung berpikir negatif


"Ya-yara?" kaget Arion segera membawa gadis itu untuk duduk di bangku yang ada di sampingnya


"Lo jangan sembarangan, gue gak pernah menelantarkan siapapun" protes Arion


"Ups sorry" ucap Yara yang menyadari kesalahannya "Maksud gue bukan itu, tapi menelantarkan dalam hal emm ditinggalkan gitu aja. Lo kemana aja sih selama ini? tiba-tiba hilang tanpa kabar and look, sekarang gue tiba-tiba ketemu lo di tempat ini" lanjut Yara excited


"Oh yaa gue inget, lo yang gak bisa difoto kalo lagi badmood" ujar Arion mulai mengingat


"Astaga, malah itu yang lo inget? bukannya model tercantik dan terlaku gitu sih" protes Yara


"Haha sorry, itu yang bedain lo dari yang lain. Kalo happy pasti hasil foto nya paling bagus, seolah lo menyalurkannya lewat gambar. Tapi beda lagi kalo sebaliknya yah begitu lahh haha" tutur Arion


"Sorry, udah bawaan" sahut Yara "Terus lo disini ngapain? jangan bilang kalo.."


Arion mulai panik dengan sangkaan yang akan dilontarkan Yara


"..Kalo lo cuman lewat sini, gak mungkin kan? lagian ini bukan tempat umum" ucapnya


"Ahh haha iya kebetulan gue kerja disini" jelas Arion


"Oh ya? di bagian apa? kebetulan banget loh, tempat kerja gue juga baru aja kerja sama dengan perusahaan ini" tutur Yara


"Oh ya? kebetulan ya" sahut Arion yang tak mau membahasnya lebih jauh


"Emm tadi sih katanya temen gue disini" Yara mengedarkan pandangannya


"Nah itu dia" tunjuk Yara, membuat Arion melihat ke arah yang dimaksudkan


"Kallista" gumam Arion


Senyumnya masih sama, masih menghiasi wajahnya tanpa berkurang sedikit pun. Seperti magnet, garis senyum Arion seolah ikut ditarik, mengikuti garis senyum milik seseorang yang sedang ia lihat saat ini.


"Arion, heyy" panggil Yara


"Ah yaa" sadar Arion


"Kenalin, ini temen gue" ucap Yara


"Oh i-iya" sahut Arion singkat lalu kembali melihat ke arah tadi, namun Kallista sudah tak lagi ada di tempatnya.


Arion mengedarkan pandangannya, namun gadis itu tak ditemukannya


"Lo bukannya yang tadi ya? Arion kan?" tanya Deri "Sorry takutnya salah, batu pertama ketemu soalnya" jelasnya


"Ah iya haha gapapa" Arion segera meminum minuman dinginnya, baru saja ia berhasil menghindari obrolan mengenai pekerjaan eh sudah ada lagi yang kembali membahasnya


"Loh, ketemu dimana?" heran Yara


"Dia ikut meeting juga, di daftar nya sih gak tercantum. Mungkin ada revisi" jawab Deri


"Kebetulan ada yang tiba-tiba gak bisa ikut projek ini, jadi disini gue cuman pengganti aja kok" jelas Arion


"Lo sendirian?" tanya Arion


Deri mengangguk "Tadinya sih sama temen, cuman dia pulang duluan. Capek katanya haha dia kan udah lari maraton" jelas Deri


"Lari maraton?" ulang Arion mempertanyakan


"Ahh gak seharusnya juga sih gue cerita, gak akan lucu juga menurut lo" sahut Deri mengurungkan niatnya


"Tapi gue penasaran"


"Hahaha" Arion tertawa mendengar cerita Deri namun tiba-tiba Arion sadar dan tawanya pun memudar "Dia jalan kaki sejauh itu?" tanyanya setelah penuturan pria itu benar-benar sampai pada kepalanya


"Tapi Kall, emm maksud gue temen lo gak mengeluh apa-apa kan? kayak sakit di sekujur badan atau lemes mau pingsan? semacam itu"


Deri menggelengkan kepalanya "Gak usah khawatir, Kallista sering nge-gym jadi badannya lebih kuat lah, dia bukan model yang harus lemah lembut halus semampai" jelasnya


Arion mengangguk "Sejak dulu hobby nya gak berubah" gumamnya pelan, gumaman yang berupa bisikan, yang tak bisa didengar oleh selain telinganya sendiri


"Bisa aja karena ada gue, dia kan gak suka banget tuh sama gue" sindir Yara


"Bukannya gak suka Yar, tapi.."


"Udah deh untuk kali ini lo gak usah belain dia, orangnya gak ada juga masih aja dibelain" protes Yara


"Gue kan cuman meluruskan" sahut Deri


"Kalo gitu gue duluan ya" pamit Arion "Lo siapin aja semuanya, besok kita harus udah fokus ke projek ini dan bakal sering ketemu disini" jelasnya yang kemudian berlalu


Yara menghela napasnya "Gue pikir gue bener-bener kehilangan lo" gumamnya


"Apa Yar? kehilangan? kehilangan apa?" tanya Deri ingin tau


"Kehilangan pendengaran, ya untungnya lo gak denger" sahut Yara


"Yee rese lo, udah ah gue mau balik"


"Eh kok balik sih?" tahan Yara


"Siapin badan lo biar fit, besok kita pemotretan di Bogor. Dan yang penting atur mood lo, di meeting tadi bos lo bilang kalo lo bakal jadi bintang dari semua model yang ada, jadi harus paling cantik" jelas Deri


"Oh jelas dong, mood gue lagi bagus banget. Eh tapi kok gue gak tau sih kalo mau pemotretan di Bogor?" tanya Yara menyusul langkah Deri


"Mana gue tau?! tanya bos lo."


β€’


β€’


β€’


PLEASE VOTEMENT


Vote Vote Vote


Comment Comment Comment