ARION

ARION
JADIAN



"Sorry tadi.."


"Perlu saya bantu?" sela Bara.


Kallista memicingkan matanya tak paham.


"Lelaki macam dia perlu dikasih pelajaran!" jelas Bara, seolah tau banyak tentang hal yang sama sekali tak pernah Kallista bahas kepada siapapun.


"Lo tau apa lagi tentang gue?"


Bara berdeham, sepertinya kali ini ia terlalu membuat segalanya kentara. Siapa yang suka dimata-matai? "Jangan salah paham dulu, saya cuman.."


"Kita pacaran!" pungkas Kallista, membuat napas pria itu tercekat seketika. "Di depan Arion." tambahnya.


Bara terbatuk-batuk ketika mendengar lanjutan dari kalimat gadis itu. "Di depan Arion?" ulangnya.


Kallista mengangguk cepat. "Lo bilang mau bantu, kan?"


Hampir saja Bara lupa akan hal yang baru saja ditawarinya. Sebenarnya perasaan miliknya bukan untuk hal semacam ini, dipermainkan, sekedar kepura-puraan.


Bara bukan pria yang gampangan! Hatinya tak mudah merasakan hal yang tak biasa seperti saat dimana ia berdekatan dengan gadis ini. Memang bukan kali pertama, namun sesuatu semacam ini telah lama tak menyapanya.


Menyerah? kenapa tidak diperjuangkan dulu? untuk siapa pemenangnya biar jadi urusan belakangan, hanya saja Bara tidak kenal kata kalah.


"Oke." sahut Bara.


Bahkan persetujuan Bara pun belum mampu membuat gadis yang duduk di bangku penumpang ini menampilkan garis senyumnya.


Kallista masih ragu, haruskah melakukan hal semacam ini? atau lebih baik pakai jalur cepat? sebenarnya hanya butuh keberanian! tapi Kallista tau diri, dia perempuan, tidak mungkin mendahului Arion yang bahkan baru sampai ke depan pintu.


"Mau kemana?" tanya Kallista ketika jalan yang ditempuhnya bukan jalan biasa menuju kost-annya.


"Membuatmu seolah menjadi pasangan saya yang sebenarnya. Butuh sesuatu yang meyakinkan, bukan?" jelas Bara.


Kallista menelan salivanya berat, maka sekarang ia benar-benar merasa jadi pasangan dari pria ini.


_____________________


"Mah, Natasha mana?" tanya Arion dengan terburu-buru, bahkan ia melupakan budayanya setiap akan pergi dan ketika sampai rumah.


Kesya yang sudah bersiap untuk dicium anaknya pun segera urung lalu menatap pria itu heran. Arion bukan type yang terburu-buru!


"Mungkin di kamarnya ...." sahut Kesya.


Mendengar jawaban ibunya membuat Arion segera menaiki anak tangga tanpa menengok ke belakang lagi.


Kesya hanya menatap punggung Arion dan berharap tak ada masalah serius yang sedang dialami anak sulungnya itu.


"Natasha.." panggil Arion sambil membuka pintu kamar sepupunya tanpa mengetuk terlebih dulu. Siapa yang akan melarang? ini rumahnya!



"Apa sih? teriak-teriak segala." Natasha melirik sebentar lalu kembali melihat pantulan dirinya di cermin.


"Lo denger dari tadi?"


Natasha yang masih fokus menghapus riasan pada wajahnya hanya mengangguk.


"Terus cuman diem aja?"


"Kapan lagi kan dicariin lo?" sahut Natasha lagi. Gadis itu menyimpan kapas yang sudah menyerap kotoran hasil makeupnya. "Apa?" tanyanya yang sedari tadi menunggu namun tak kunjung diberi tahu.


Natasha menjentikan jarinya. "Nyari gue mau apa?"


Arion menggelengkan kepalanya. "Besok aja!" pungkasnya hendak pergi.


Flashback On


Arion memang tidak bisa diandalkan! Kenapa pria itu lebih memilih pergi bersama model abal-abal macam Yara? bahkan kalau Natasha memutuskan untuk terjun ke dunia modelling detik ini juga maka karir gadis itu akan tersisihkan olehnya.


Bagi sebagian wanita, memilih baju bukanlah perkara yang mudah. Perlu ada orang lain yang menilai penampilannya! kalau hanya si pekerja tokonya saja mau nyoba pakek baju paling jelek pun akan dibilang bagus.


Natasha masih berdiri di luar toko namun matanya sudah menjelajah ke setiap penjuru di dalamnya. Ketemu!



Dress yang membalut patung di dalam sana menyita perhatian Natasha, membuat gadis itu segera masuk sebelum seseorang yang lain mendahului.


Tap


Tangan yang lain ikut menyentuh apa yang baru saja didapati Natasha. Tidak bisa! musti Natasha yang dapat. "Sorry, tapi gue lebih dulu lihat!" tegasnya segera merebut paksa patung itu.


Prak


Patung dibiarkan terjatuh ketika Natasha melihat siapa yang sedang berhadapan dengannya.


"Hai!" sapa Natasha. Raut wajah yang tadinya jengkel berubah drastis menjadi super manis.


Kallista hanya membalasnya dengan senyum tipis lalu segera pergi sebelum hatinya kembali tersayat.


"Lo mau belanja juga? kita bisa jadi partner loh?" tawar Natasha yang memang sedang membutuhkan teman untuk sekedar saling menilai, setidaknya untuk saat ini.


Flashback off


________________________


"Kamu kenapa?" tanya Bara yang sedari tadi tak melihat pergerakan dari gadis yang baru 2 jam lalu menyandang sebagai pacarnya itu.


Merasa terpanggil membuat Kallista menengok ke arah suara. "Tadi aku ketemu Natasha!" adunya.


Ckiit


Mobil menepi secara tiba-tiba. "Lalu apa?"


"Dia sama Arion gak pacaran." jelas Kallista.


"Dan kamu percaya?"


Kallista memicingkan kedua matanya. Kalau saja Arion yang bilang begitu maka ia mungkin tak begitu percaya walau ingin sekali begitu kebenarannya. Tapi ini? perempuan itu sendiri yang bilang. Bahkan untuk pertama kali yang mengaku mereka pacaran itu Natasha! hanya saja Arion tidak menyangkalinya.


"Ayolah Kallista! jangan mau dipermainkan." keluh Bara.


Tangan Bara sudah memegangi kedua lengan Kallista. "Kita tuntaskan rencana kita!" tekannya sungguh-sungguh.


Kallista menelan salivanya berat. Ia benar-benar merasa terjebak, sampai-sampai tak bisa menarik kembali keputusannya beberapa waktu lalu. Tapi apa salahnya? labil itu haknya. Kalaupun harus disudahi maka seketika itu berakhir.


Bara mendapat apa yang diinginkannya. Gadis itu mengangguk, mengiyakan permintaannya. Berharap gadis itu akan lupa kalau hubungan ini hanya sekedar pura-pura. Dan Bara akan memastikan itu! membuat Kallista ingin semua menjadi nyata.


Bersambung ....