ARION

ARION
Tidak Berbakat



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading ♡♡


"Bara kok jadi gini sih?" protes Yara yang masih tak terima dengan hasil akhir


"Gue yang harusnya nanya sama lo, kenapa bisa jadi gini?? hah" balas Bara yang ia sendiri sedang emosi, sebab pengganti model best seller nya tidak better, malah cenderung kurang, sangat kurang


"Tapi percuma Bar, coba lo pikir, client kita bakal protes dan bukan hanya ngebatalin tapi kita semua bakal tamat" Yara masih kukuh untuk meyakinkan bos nya


"Lo bener, kita bisa minta uluran waktu" gumam Bara mulai terpikirkan


Yara menghembuskan napasnya lega, dia gak akan ngebiarin siapapun menggeser posisinya, apalagi si cewek tukang poto yang tampangnya sama sekali tidak menjual


"Arion, gue minta waktu buat ngomong sesuatu" pinta Bara pada Arion yang fokus mengontrol anggota team nya


"Gue sibuk"


"Ini penting, dan gue bakal tetep .." ucaan Bara terputus, membuat Arion yang sudah mau mengalihkan fokus kepadanya harus menunggu kelanjutan


Bara masih tak berniat untuk melanjutkan ucapannya "Bakal tetep??" tagih Arion


Namun Bara masih tidak menghiraukan, seolah Arion malah membuang-buang waktunya. Namun Arion sendiri malah dibuat bingung dengan para anggota team nya yang ikut kaku mengarah ke satu titik yang sama


Arion mengikuti arah pandang yang menarik perhatian semua orang.


Deg


Sosok fotografer yang biasanya tak terlalu memikirkan penampilan dan selalu apa adanya tanpa tambahan apapun, berubah drastis menjadi sosok wanita anggun yang dibalut dress indah dengan full make up yang hampir tak pernah dipakainya


"Eghhemmm" Arion berdeham, membawa nyawa tiap orang yang masih melayang kembali pada tempatnya masing-masing


"Tadi lo mau bilang apa?" tagih Arion pada Bara yang sudah memudarkan wajah tak mengenakan yang sempat ditunjukkan di awal


"Gue tetep bakal lanjutin project ini, itu maksud gue" jelas Bara yang langsung melewati tubuhnya untuk menghampiri gadis yang membuatnya terapana


"Bagus" tilai Bara sambil mengusap dagu nya sendiri "Gue gak salah milih lo" lanjutnya


"Btw tadi dia protes" bisik Deri


"Gue tau" balas Kallista


Bara melangkahkan kaki nya untuk lebih mendekat kepada Kallista "Gue yakin lo bisa" tuturnya memberi motivasi sambil memegang pundak Kallista, membuat gadis itu kebingungan dengan perubahan sikap pria yang tadi sempat menolak mentah-mentah untuk menolongnya


"Btw lo utang nyawa sama gue" bisik Bara diakhir motivasinya lalu melengang pergi





"Kaku" protes Arion yang masih mengomentari hasil jepretan model penggantinya itu


Kallista menghembuskan napasnya berat, pasalnya ia sudah lelah berganti gaya sampai ia rasanya sudah mati gaya. "Jadi model gak semudah ang gue pikir" keluhnya dalam hati. Bahkan model harus mau diatur-atur, sedangkan ia sendiri paling anti dengan itu, ia suka semaunya sendiri, aturan membuatnya canggung dan tak bebas





"Yupp, pegang ujung dres nya lalu kibaskan" tutur pria yang biasanya menjadi partner nya


Deri mengerutkan keningnya karena Kallista tak kunjung mengikuti arahannya yang selanjutnya "Ayo Ta" pinta Deri mengawaskan matanya dari lensa kameranya


Kallista melenguh, ia sudah mati-matian berusaha mempertahankan kepercayaan dirinya namun tetap sulit, tatapan pria itu membuat tubuhnya tak bisa bergerak


"Ta.." pinta Deri lagi yang akan mengulangi jepretannya


Kallista menghela napasnya, lagi pula yang memperhatikannya itu bukan Arion yang ia kenal, bukan Arion sahabatnya, hanya pria asing





Arion yang melihat dari layar laptop hanya bisa menyangga dagu nya. Wanita itu memang tidak berbakat dalam hal ini


"Relax, kamu tau relax gak sih? jangan kaku" protes Arion


Kallista sudah jengah dengan segala komentar pria itu "Udah gue bilang kalo gue gak bisa" timpalnya yang tak lagi bisa bersabar. Tanpa menoleh lagi gadis itu segera meninggalkan tempat pemotretan


"Break" titah Arion, membuat suasana hening menjadi kembali bising karena semua orang yang sudah mulai bisa kembali bersuara


"Ngapain keluar sih" rutuk Kallista yang salah mengambil arah, harusnya ia masuk kamar saja dan mengunci diri sampai sesi pemotretan sialan ini selesai


"Goodjob" ucap seseorang dari arah belakang. Siapapun dan apapun yang diucapkannya tak membuat mood Kallista balik, gadis itu tak berniat untuk menimpali


"Untuk pertama kali lo cukup berbakat kok" lanjut Bara "Nanti bakal better kalo lo udah biasa" jelasnya


Kallista masih bungkam


"Lo pasti haus" ucap Bara sambil memberikan segelas es jeruk


"Thank's" Kallista langsung meraihnya dan meneguknya sampai tandas


"Astaga hati-hati keselek" Bara melap lelehan air yang keluar dari mulut Kallista yang masih tersumpal gelas itu dengan tissu


"Okkhho okkhoo" Kallista terbatuk-batuk


"Diingetin kok malah jadi keselek beneran sih" heran Bara


Kallista mengambil alih tissu tersebut dari tangan pria itu dan melap ujung bibirnya sendiri


"Ehh kamu disini lohh aku cariin juga" ujar MUA yang sedari tadi mencari keberadaan artist nya


"Dipinjem dulu bentar ya bos ganteng" pamit pria melambai namun pintar berdandan itu


"Enggak, gue gak bakal lanjut" tolak Kallista


"Ehh, bos nya tadi bilang suruh ganti kostum lohh yuk ahhh cantik imut"


"Siapa bilang?"


"Bilang apa?"


"Siapa yang bilang lanjut?"


"Pak Arion dongg masa aku sih, suka aneh kamu tuh untung cantik"


"Dia bener, sana ganti baju" titah Bara


"Gue gak mau" tegas Kallista


"Keras kepala" ujar seseorang yang lain


"Kamu baper dengan ucapan saya tadi? sana ganti baju, saya tunggu 10 menit gak pake telat" lanjutnya tanpa memberi waktu untuk Kallista menyela ucapannya


"Lo pasti bisa, demi kesuksesan project ini" tutur Bara


Kallista melenguh, kenapa ia jadi merasa terbebani seperti ini?? merasa punya peran penting dari project yang tidak bisa dibilang kecil ini, bukan apa-apa tapi apakah ia bisa menanggungnya? membawa keberhasilan untuk hal yang tidak kecil seperti ini kayaknya mustahil


"Gue pasti bisa" yakin Kallista setelah lengkap dengan kostum baru nya. Ia memejamkan kedua matanya guna membuat kepercayaan dirinya terpancar, setelah dirasa telah menemukan titik terang Kallista segera membuka matanya dan melangkahkan kaki nya keluar dari ruang tertutup itu





"Good job" Deri semakin semangat untuk mengambil gambar dari objek foto nya kali ini. Aura gadis ini mulai terpancar dan ia mulai meyakini kalau pesona temannya ini tak kalah bagus dengan model terkenal yang mungkin sekarang sedang merutuki dalam hatinya karena merasa tersaingi.


"Bara kok jadi gini sih?" protes Yara pada keadaan yang berbanding terbalik dengan apa yang sudah dibicarakan beberapa waktu lalu


"Sepertinya gue tertarik dengan cewek ini" gumam Bara yang sontak membuat Yara bingung


"Maksud lo jadiin dia model??" kagetnya


"Mungkin, atau sesuatu yang lain" jawab Bara sambil berlalu, meninggalkan ketidak pahaman Yara


"Sialan" Yara mengepal kuat tangannya, ini semua gara-gara klinik yang mengendorse nya itu, seperti jatuh dan tertimpa tangga pula. Tak ada yang bisa ia lakukan kali ini, mungkin hanya sekali tidak akan berpengaruh banyak terhadapnya, ia bisa menghalangi di lain waktu, yang paling penting sekarang ia harus meminta ganti rugi.


Kallista menghirup nafas panjang, akhirnya sesi foto nya sudah selesai dan tanpa mendapati komentar-komentar pedas seperti sebelumnya. Padahal sebenarnya ia bisa begini sejak tadi, hanya saja keberadaan Arion sangat mengganggunya, sehingga membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya.


Mengingat pria itu tak menyukainya untuk menjadi seorang model, terbukti saat kejadian waktu itu, ketika ia keras kepala dan diam-diam untuk mengikuti dunia permodelan yang berakhir tragis. Ia hampir kehilangan harga dirinya.


Sejak saat itu Kallista mengubur dalam-dalam impiannya, ia hanya akan menjadi objek foto pria itu, hanya dia.


Dan sekarang pria itu yang dengan terang-terangan memintanya seperti ini, kenapa seenaknya begitu? ia sungguh tak mengenal sosok pria dengan wujud sahabatnya dulu. Dia bukan Arion yang ia kenal, ya sepertinya ia memang harus mengubur kenangan indah yang menyakitkan kalau diingat. Arion nya tlah lama pergi, itu kenyataannya.


"Wahh bentar lagi kayaknya gue harus cari partner baru nih" ucap Deri, membuyarkan lamunan temannya


"Lo apaan sih? cuman kali ini, gak akan lagi" sangkal Kallista


"Lo gak liat betapa terpukaunya bos agency model itu ngeliat lo? bentar lagi lo pasti direkrut"


"Gak usah ngada-ngada, gue gak akan mau"


"Tuh kan tuh nyamperin" gumam Deri memelankan suaranya


"Gue yakin project ini akan sukses berkat lo" puji Bara dari arah belakang


"Berkat kerja semuanya, bukan gue"


"Tetep aja, kalo gak ada lo project ini gak mungkin bisa lanjut." jelasnya


Kallista malas meladeni, sebaiknya ia kembali ke kamar dan menyudahi dandanan yang bukan dia banget ini. "Gue balik ke kamar dulu" pamit Kallista


Bara mengangguk "Nanti malam ada party, lo harus ikut"


Tanpa menghiraukan ucapan Bara, Kallista berjalan menuju kamarnya sampai akhirnya langkahnya terhenti karena ada sosok yang menghalangi jalannya.


Kallista yang menunduk hanya melihat kaki, tak kunjung enyah membuat Kallista yang tak berniat melihat sosok tersebut menjadi jengah karena sudah capek gak ketulungan, rasanya pengen marah-marah.


"Saya harap ucapan saya tadi tidak dimasukan dalam hati" tutur pria itu


"Hemm" jawab Kallista


"Itu hanya cara saya untuk memotivasi" lanjutnya


Kallista mulai mendongakkan wajahnya, dan tanpa sengaja tatapannya jatuh pada manik mata pria itu. "Masih sama" batinnya


"Btw barusan kamu berhasil termotivasi" ucap Arion dan berlalu, tak sadar tatapan Kallista mengikuti ke arah mana pria itu pergi


Kallista menggelengkan kepalanya "Sadaaarrr" keluhnya sambil memukul pelan kepalanya.


"What? tadi dia bilang apa?" gumam Kallista yang mulai menyadari.


•


•


•


PLEASE VOTEMENT