
"Mau pesan apa?" tanya Bara
Kallista membuka daftar menu dan seketika mata nya membelalak setelah melihat harga setiap makanan yang tertera, bahkan satu harga makanan termurah bisa untuk biaya makan selama seminggu untuknya.
"Biar saya pesankan" alih Bara hendak mengambil daftar menu yang dipegang Kallista, ia tau kalau gadis itu masih merasa sungkan dengannya.
Kallista memegang kuat apa yang dipegangnya, membuat Bara tak bisa mengambil alih. "Dibayarin?" tanya Kallista sekedar memastikan, ia takut kegeeran dan berujung di kantor polisi karena tidak sanggup bayar.
"Saya laki-laki, meskipun kamu yang ngajak makan sudah pasti saya yang bayar, apalagi.."
"Oke" potong Kallista merasa percaya diri. Kali ini ia bukan hanya sekedar makan, ia ingin mengerjai pria yang menjadi so dekat dengannya ini. Memesan banyak makanan sampai di luar bayangannya, mungkin seru, biar Bara kapok untuk kembali mengajaknya lagi.
Kallista mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan.
"Pesan apa Nona?" tanya pria dengan seragam rapi khas restoran mewah.
"Saya mau pesan pizza, Sushi ichi, Shabu Shabu Gen, Omakese, dan Ruth's Chris Steak" tutur Kallista lancar.
"Ada lagi?"
"Udah itu aja, kalau kurang tinggal pesan lagi!" jawab Kallista sambil melirik ke arah Bara yang sama sekali tidak masalah dengan tingkahnya.
"Lo mau apa?" tanya Kallista.
"Sepertinya meja ini akan penuh dengan semua pesananmu" sahut pria itu.
"Keberatan?"
Bara menggedikkan bahu "Perlu tambah meja lagi?" tawarnya.
"Enggak gak usah!" serobot Kallista, takut perkataan pria ini dianggap serius oleh si pelayan.
"Saya mau coffelatte" ucap Bara pada pelayan yang masih siap dengan alat tulisnya.
"Kamu mau makan aja? gak akan minum? seret nanti" tutur Bara mengingatkan.
Kallista menggigit bibirnya, mungkin rencananya kali ini tak akan berefek apa-apa. Makanan yang ia pesan tadi pun hanya asal tunjuk, tidak tau bentukannya seperti apa, yang jelas itu paling mahal dari yang lainnya.
"Jus alpukat" ucap Kallista.
Pelayan kembali menulisnya lalu segera menunaikan tugas.
"Kenapa cuman jus alpukat? harganya cuman 50rb" sindir Bara.
"Dasar orang kaya nyebelin" gumam Kallista pelan. Ia sudah tidak mood membuka daftar menu nya lagi, toh tidak akan berefek apapun. Jadi tidak tau minuman mahal apa yang harus dipesan, kalau sekedar jus kan di tempat manapun sudah pasti ada.
"Jangan bengong" Bara kembali berucap. "Saya yang bayar" tambahnya.
"Tau" ketus Kallista. Sungguh pria itu ingin sok kaya di depannya atau apa? tanpa diberitahu pun ia sudah tau duluan, bahkan semua orang yang baru mengenalnya sudah pasti langsung tau dari penampilannya yang khas kalangan atas.
Kallista menelan salivanya berat ketika pesanannya sudah mulai terhidang satu persatu, bahkan ia tak suka ikan-ikanan apalagi mentah, melihatnya saja Kallista sudah akan muntah.
"Uekkk" Kallista segera membungkam mulutnya, perutnya mual dan ini tidak direncanakan.
"Kamu kenapa?" Bara segera menghampiri gadis itu dan mengambilkannya tissu.
Kallista tak bisa menjawab, mual nya semakin jadi, ia hanya bisa menunjuk-nunjuk makanan yang ia yakini menjadi sumber utamanya.
"Bawa makanan itu kembali!" titah Bara.
"Tapi ini sudah dipesan" keluh sang pelayan.
"Akan tetap saya bayar" tekan Bara, Bahkan restoran ini saja bisa ia bayar detik ini juga, kurang ajar sekali pelayan itu karena tak percaya dengannya.
Pelayan tersebut terlihat menyesal lalu mengangguk paham, ia segera mengikuti perintah dari sang pelanggan yang banyak mau ini.
"Sorry, gue gak tau kalau bentukannya kayak gitu" sesal Kallista, ia sudah membuat makanan mahal itu terbuang sia-sia, ia benar-benar merasa bersalah.
"Pesan yang kamu suka, jangan asal pesan karena mahal." sahut Bara, membuat wajah Kallista memerah seketika, ia tertangkap basah.
Kallista menundukkan kepalanya "Makanan tadi biar gue yang bayar" pungkasnya dengan penuh pertimbangan.
"Yakin?" tanya Bara.
"Bahkan makanannya pun tidak kamu makan, bukankah sia-sia? sayang sekali gajimu sebulan habis untuk ini"
Kallista melenguh, pria itu malah memperjelas semuanya.
Bara tertawa kecil "Bahkan restoran ini bisa saya beli sekarang juga jika kamu memintanya. Jadi jangan sungkan" ucap Bara memperjelas kekhawatiran gadis di hadapannya.
Memang benar yang pria itu katakan, lalu apa yang Kallista pikirkan? ia memang tak berpeluang jadi wanita pengeretan, ia terlalu baik, terlalu mengasihani.
Pelayan tadi kembali dengan membawa 1 wadah ice cream yang langsung menyita perhatian Kallista.
"Kenapa cuman diliat?" tanya Bara.
"Buat gue?"
Bara mengangguk "Ice cream bisa mengobati rasa mual" ucapnya.
Kallista tersenyum, ia segera menarik gelas berukuran jumbo itu lalu melahap isinya.
Bara menarik sebelah ujung bibirnya ketika melihat potret yang ada di depannya. Sebenarnya apa yang membuat Kallista senang adalah sesuatu yang kecil, tapi kenapa harus bersusah payah dulu? Ya, ia tau kalau wanita ini ingin mengerjainya dan itu tidak berhasil.
Cara Kallista terlalu kecil, kenapa tidak sekalian saja menyuruhnya membeli hotel atau restoran ini saja seperti apa yang sudah ia katakan tadi, kenapa hanya beberapa makanan yang harganya tak senilai dengan pakaiannya sekalipun. Kallista memang terlalu percaya diri.
________________________
Arion masih menatap tajam ke arah 2 orang yang sedang saling berinteraksi itu, sampai lupa untuk berkedip.
"Yonn" panggil gadis yang masih setia di sampingnya.
"Hufft payah dasar" lanjut gadis itu setelah menyeruput minumannya yang baru datang.
Mendengar ledekan itu membuat Arion menoleh ke sumber suara, ia paling tidak bisa disepelekan sebab sejak dulu Arion sudah terbiasa jadi yang terbaik.
"Sekarang apa?" tanya gadis itu.
"Apanya?"
"Mau lo yang nyamperin atau gue?"
"Makannya udah selesai? kita pulang!" Arion hendak bangkit dari tempat duduknya, padahal ia sendiri pun tau kalau pesanan baru saja datang, dan itu artinya pertanyaannya sama sekali tidak sesuai.
"Oke, gue yang nyamperin" gadis itu mendahului pergerakan Arion, ia sangat cepat.
"Natasha!!" panggil Arion dengan suara yang amat sangat keras, membuat si pemilik nama merasa malu karenanya.
"Lo itu apa-apaan sih? gak malu apa?" protes Natasha yang bahkan tak mendapat respon apapun dari si pembuat onar, beberapa pasang mata masih menatap ke arahnya, termasuk orang yang membuat Arion tak berkedip tadi.
Natasha segera merangkul lengan kekar pria yang masih terdiam seribu bahasa itu, bahkan perlakuannya pun tak mendapat protes, dalam hal ini Arion memang penuh pengertian, termasuk rencana Natasha kali ini.
"Arion?!" sapa seseorang.
Arion mendongak untuk melihat siapa yang sedang menghampirinya.
"Boleh gabung?" tanya Bara
Arion mengangguk "Silahkan" ucapnya mempersilakan.
Bara menjatuhkan bokongnya di kursi kosong yang berhadapan dengan tempat Arion "Lalu wanita cantik ini??"
"Natasha" jawab Natasha sambil mengulurkan tangannya. "Tunangan Arion" tambahnya.
Bara segera menyambut hangat uluran tangan Natasha "Anda pintar dalam memilih pasangan" pujinya.
Arion melenguh, bahkan kaki nya sedang diinjak gadis itu agar tak bersuara. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Semuanya sudah terlambat, Kallista yang ia syukuri tak ada di tempat ternyata sudah berdiri di belakang Bara dan mendengar jelas ucapan Natasha barusan.
Tak ada yang bisa Arion lakukan, tak ada alasan untuknya memberi penjelasan. Begitupun dengan Kallista, tak ada alasan untuknya menerima penjelasan.
Dua orang yang saling menjauh namun secara tak sadar masih saling butuh, tepatnya sedang memaksakan diri untuk tak saling mengungkap.
Bersambung ....