
"Apa gue salah ngomong ya?" tanya Kallista pada diri sendiri. Pasalnya sejak semalam Arion tak membalas pesannya lagi, biasanya pria itu selalu menjadi akhiran obrolannya

Kallista kembali melihat pantulan dari jendela kamarnya lalu segera menutup penuh wajahnya ketika mengingat kejadian semalam. Sungguh perasaan yang tak berani ia bayangkan sebelumnya, apakah ini saatnya status mereka berganti? apa mungkin?
Gadis itu segera mengoyak rambutnya ketika menyadari pikiran-pikiran yang masih samar itu. Apa begitu? setelah kejadian semalam apa masih belum juga menjadi suatu hal yang pasti? sungguh ia tak paham dengan keadaannya saat ini
Flashback On
Setelah selesai aktifitas bersih-bersih sebelum tidurnya Kallista segera meraih ponselnya lalu hal yang pertama ia lakukan adalah menyetor potret dirinya pada Arion
"Aishh" Kallista segera mnyembunyikan wajahnya dalam bantal ketika sadar dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka
Kallista akan segera membatalkan kirimannya namun pria itu sudah membalasnya terlebih dahulu, tanpa sadar kedua ujung bibirnya melengkung keatas
Rasanya ciuman kedua ini lebih membekas dari pada first kiss nya, sampai sekang pun jantungnya masih berdebar kencang

Kallista menautkan alisnya ketika tanda typing pada kontak pria itu hilang tanpa memberi balasan apapun lagi.
"Apa udah tidur?" pikirnya
Flashback Off
Kallista melirik jam dinding yang ada di depannya "Masa jam segini belum bangun?" gumamnya ketika melihat jarum pendek itu menyentuh angka 10
Dering ponselnya memecah kebimbangan hatinya "Arion" pikirnya antusias dan segera patah ketika nama yang muncul bukan orang yang sedang memenuhi rongga otaknya
"Hallo" jawab Kallista
"Gue.." Ia menggantung ucapannya, apa ia harus mengiyakan ajakan temannya? mungkin dengan begitu ia tak harus galau menunggui pria itu menghubunginya
"Biasanya gue yang dicariin, kenapa sekarang gue yang nyari?" gumamnya berbau dendam
______________________
"Gue gak mungkin bisa jauhin Kallista" ucap Arion pada Alysa yang baru saja dipulangkan dari rumah sakit
"Kalau gitu gue akan.."
"Gue bakal pergi" potong Arion, menghela ucapan Alysa yang berupa ancaman nantinya
"Pergi?" ulang Kallista mempertanyakan penjelasan
"Gue setuju dengan pilihan papa, gue bakal lanjut kuliah di LA" jelasnya
"Lo serius?" tanya Alysa sembari menghampiri pria itu dengan sedikit tertatih karena kondisi tubuhnya yang belum stabil
"Jangan banyak gerak dulu" protes Arion segera menyangga tubuh adiknya untuk segera kembali pada tempat tidurnya
"Gue sayang sama lo" ungkap Alysa sambil memeluk tubuh pria yang hampir tak pernah membiarkannya untuk berperilaku seakrab ini
"Mungkin dengan berada jauh dengannya bisa meredam perasaan yang udah gak bisa ditahan ini" batin Arion
Cup
Arion mengecup kening Kesya pelan "Arion udah nurut sama papa, mama gak akan ngediemin Arion lagi kan?"
Tanpa menjawab, Kesya segera terbenam pada pelukan anaknya "Maafin mama" ucap Kesya lembut
"No, mama gak salah. Arion yang salah" sangkalnya
Kesya membingkai wajah anaknya "Mama gak mau kamu pergi jauh, tapi.."
"Arion paham, mama gak usah jelasin apa-apa?" potong Arion yang tak pernah kehabisan stok paling mengertinya yang ia dedikasikan hanya pada wanita itu
"I love you" tutur Kesya
"Love you more" balas Arion
_____________________
Tok tok
"Yon.." panggil Kallista memanggil penghuni kost an yang sudah biasa ia kunjungi
"Arion.." panggilnya lagi meninggikan intonasi suaranya
Pria itu sudah kelewatan, sudah benerapa hari ini ia tak memberinya kabar dan bahkan ponselnya tak pernah bisa dihubungi "Awas aja kalo ketemu" geramnya
Cklek
Brak
Kallista segera mendorong sosok yang membuka pintu rumah minimalis itu sampai menabrak meja yang ada di belakangnya
"Kamu ini siapa?" protes pria tak dikenal yang menjadi sasaran amukannya
"Ma-maaf" sesal Kallista segera membantu keterjatuhan pria itu
"Gak usah" tolaknya "Saya gak pernah nyari masalah dengan siapapun" tegas pria itu
"Ta-tadi aku cuman.." ucapannya terhenti
"Kenapa kamu disini? ini tempat teman saya?" protes Kallista segera melupakan rasa beraalahnya
"Teman kamu?" heran pria itu "Saya? saya gak kenal kamu" lanjutnya
"Bukan kamu, tapi ini kan.."
"Eh neng, baru keliatan" sapa wanita itu
"Bu, kenapa orang ini tinggal disini? ini kan tempat Arion" jelas Kallista
"Astaga ibu lupa, Arion sudah tidak tinggal disini lagi neng" jelas ibu itu
"A-apa?" kaget Kallista, bagai petir menyambar tepat pada ubun-ubunnya
"I-ibu gak bohong kan?"
"Enggak lah, masa bohong sih? tapi kok neng Kallista bisa gak tau? memannya Arion gak.."
"Makasih ya bu" ucap Kallista segera pergi meninggalkan penuturan yang belum sampai seslesai itu
"Sebenernya dia kenapa sih?" geram Kallista di sela langkah besarnya. Antara ingin menangis sekeras-kerasnya dan ingin marah secara bersamaan
"Kampus, ya gue harus ke kampusnya" pikir Kallista segera menghentikan taxi yang akan melintas di depannya
Dengan sedikit ragu, Kallista tetap memberanikan diri untuk masuk ke gerbang yang menjadi penghalang gedung besar yang ada di depannya itu. Seragam sekolah yang ia pakai membuatnya menjadi bahan bisikan orang-orang yang sudah jelas sedang kepo dengan keberadaannya
"Awas lo Arionn" geramnya. Sudah jelas ini bukan hal yang mudah, memakai seragam SMA ke tempat kuliahan?? aneh bukan? sangat !
"Kak maaf" tahan Kallista pada salah seorang wanita yang malah menatap dirinya darj bawah sampai atas tubuhnya, membuat Kallista tak nyaman
"Apa?" tanya wanita itu kemudian
"Kakak kenal sama Arion gak?" tanya Kallista melanjutkan niatnya
"Arion?" ulang wanita itu, membuat Kallista segera mengangguk mengiyakan
"Lo siapanya dia?" lanjut wanita itu malah mencari tau padanya
"Kakak kenal?"
"Gue tanya lo siapanya dia?" ulang wanita itu ngotot
"Temen" jawab Kallista cepat, agar wanita itu puas dan segera menjawa pertanyaannya
Wanita itu mengangguk "Tapi mulai sekarang gue udah gak mau kenal sama dia, cowok brengsek so kecakepan! cari aja sendiri" ucap wanita itu segera berlalu
Kallista melongo akibatnya, adakah orang kayak gitu? Mungkin cewek itu adalah salah satu cewek yang sudah termasuk dalam daftar penolakan pria itu. Tapi kenapa semarah itu? cinta bertepuk sebelah tangan kan sudah biasa terjadi
"Lo cari Arion?" tanya seorang pria menyapanya
"Elo?" tunjuk Kallista pada pria yang ingin sekali ia bakar hidup-hidup karena sudah membawa Arion ke tempat klub malam waktu itu
"Gue?" pria itu turut menunjuki dirinya sendiri
"Lo yang waktu itu.." Kallista menghentikan penuturannya, kewajibannya saat ini kan untuk mencari keberadaan Arion, bukan hal lain
"Lupain. Sekarang kasih tau gue, Arion dimana?" pinta Kallista tho the point
"Dia udah gak kuliah disini" jawab Zayn menohok
"Gak mungkin" gumam Kallista
"Lo pasti bohong" tuduhnya
"Ngapain bohong? yaudah kalo gak percaya, cari aja di tiap sudut kampus ini. Lo gak akan nemuin dia"
Kallista mematung, tubuhnya kaku, apa artinya semua ini? apa pria itu berniat untuk meninggalkannya?
"Hey" Zayn menyadarkan keterdiaman gadis itu
"Lo kemana??" teriaknya ketika Kallista tiba-tiba pergi dengan setengah berlari meninggalkannya "Makasih kek" gumam Zayn sedikit tak terima
Tinnnn
Suara klakson mobil dari arah kanan yang hampir mengenai tubuhnya "Woy kalo jalan pakek mata dong" bentak pria dari dalam mobil itu
Kallista segera berjongkok, rasanya ia tak sanggup untuk melangkah jauh lebih dari ini. Gadis itu segera membenamkan wajah pada lututnya lalu menangis sedih disana "Gak mungkin, hiks Arion gak mungkin ninggalin gue" sangkalnya di sela isakan tangis pilu nya itu
Namun sedetik kemudian ia kembali mendongakkan wajahnya lalu segera menghapus jejak menyedihkan itu, kekuatannya seperti terisi ulang "Gue yakin Arion gak kayak gitu" yakinnya sembari melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana yang ia yakini akan keberadaan pria itu

Matahari sudah terbenam, namun tak berhasil membenamkan semangat pencariannya. Ia takut, Kallista takut kalau Arion benar-benar pergi darinya
Dengan napas terengah ia berhasil sampai di depan rumah yang amat sangat besar, yang sama sekali belum pernah ia datangi sebelumnya
Kallista kembali melenguh, semangatnya runtuh ketika melihat rumah yang seperti sedang tak berpenghuni itu "Arion" teriak Kallista "Arion keluar" teriaknya lagi
"Kalo gue salah harusnya lo bilang, bukan pergi kayak gini" ucapnya lagi
Tak ada respon
"Arioooooooonnnnn" teriak Kallista gusar, napasnya tersendat akibat lari jauhnya. Butiran bening mulai jatuh kembali membasahi pipi nya, harapannya hilang. Arion benar-benar pergi darinya "Lo jahat" ucapnya sambil menangis pilu
Tap tap
Suara derap langkah kaki menghentikan segukannya "Arion" gumam Kallista kembali berharap
Perlahan Kallista memutar tubuh lemasnya, senyum lebarnya seketika memudarkan bekas tangisnya.

"Gue yakin lo gak akan pergi ninggalin gue" ucap Kallista lemah. Ia hendak menghampiri pria itu, namun tubuhnya gontai, pandangannya meremang.
"Kallista" Pria itu segera merengkuh tubuh Kallista yang tumbang.