ARION

ARION
INSECURE



Happy Reading ♡♡♡


Secangkir kopi panas melengkapi pagi Arion, begitupun dengan tumpukkan kertas yang rasanya tak pernah habis.


Nafas berasa pengap, Arion pun berjalan ke arah jendela untuk sekedar membukanya sedikit agar udara segar masuk menggantikan udara kamarnya yang belum berganti dari sejak semalam.


Arion meregangan otot tubuhnya, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Akhirnya tak hanya sedikit, Arion sekarang sudah berada di balkon untuk sekedar melihat pemandangan pagi yang masih menyisakan embun.


Namun ada sosok yang mengalihkan fokusnya "Kallista" gumamnya.



Ia melihat sosok pria yang sedang menemui gadis itu. Rasanya Arion mengetahui jelas siapa pria itu, tapi selama ini ia tidak pernah mengetahui kalau Kallista masih berhubungan dengan pacarnya. "Bagaimana bisa?"


Pandangan Arion tak terlepas dari keduanya, meskipun sangat mengganggu mata begitupun hatinya tapi ia harus mengawasi gerak-gerik pria itu.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuat Arion harus beralih sebentar


Cklek


Ririn membuka pintu kamar Arion.


"Pak" panggilnya


"Ah ya, ada apa?" tanya Arion sembari keluar dari balkon kamarnya


"Bisa ikut saya? ada yang akan saya tunjukkan". pintanya


"Sekarang?"


Ririn mengangguk


Arion diam sebentar seolah berpikir, ia kembali ke balkonnya namun 2 orang yang ia lihat tadi sudah tak ada lagi disana.


"Cari apa pak?" tanya Ririn membuntuti.


Arion menggelengkan kepalanya "Ayok" ajaknya untuk mengikuti permintaan Ririn.


______________________


"Wah enak nih" ucap Bara melihat Kallista dan Deri sedang makan ala masakan rumahan.


"Eh iya pak, punya Kallista nih" sahut Deri dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.


"Kamu masak?" tanya Bara ingin tau banyak hal.


Mendengar itu membuat Deri tak kuasa menahan tawanya "Berani pakek bikini saya pak kalo pasakan Kallista seenak ini" ledeknya.


Kallista berusaha tak terganggu, tak menjawab ataupun menyalahi ucapan temannya, ia terlalu malas dengan pria yang menjadi sok akrab ini.


"Tadi mantannya.."


"Deri .." geram Kallista memperingatkan agar temannya mengehentikan mulutnya yang ember


"Mantannya?" ulang Bara meminta dilanjutkan.


Glek


Deri hanya bis menelan ludah karena dihadapkan dengan kedua orang yang sedang memelototinya saat ini.


"Awhh perut gue sakit Ta, pedes banget si sambel nya" keluh Deri sambil memegang perutnya dan segera berlalu untuk menghindari bos agensi model agar tak menanyainya, setidaknya jangan di depan orang yang jadi objek pembicaraan.


"Belum siap-siap?" suara Bara kembali mencuat.


"Astaga gak liat apa orang lagi makan, lagian gue kan bukan model nya kok jadi berasa kerja di dia si" gerutu Kallista dalam hati


"Masih laper" sahut Kallista


Bara mengangguk "Tapi gue gak percaya omongan Deri" ujarnya kembali mendapatkan bahan obrolan


"Dari cara makannya sih gue yakin kalo lo bisa masak" lanjutnya menjelaskan tanpa perlu diminta penjelasan sebab mau sekepo apapun Kallista pasti tidak akan balik bertanya.


"Apa hubungannya?"


Bara terkikik lalu menggelengkan kepalanya "Gur ngarang aja kok" ucapnya.


"Yaudah jangan sampe telat ya, gue nunggu di lokasi" lanjutnya lalu tersenyum simpul.


2 kata untuk pria itu "SOK AKRAB!!"


Padahal kemarin Bara bersikeras gak bantu Kallista turun dari pohon, kenapa tiba-tiba jadi baik? apa karena Kallista menjadi pengganti salah satu modelnya? ia merasa terbantu dan kemudian bersikap baik. Sesederhana itu?


"Doi udah balik ke habitatnya kan?" tanya Deri yang sudah kembali dari persembunyiannya.


"Udah"


"Syukur deh" ucap Deri kembali duduk di tempat semulanya.


"Mau ngapain?"


"Lanjut makan lah, lagi enak-enak makan juga" sahutnya sembari meraih beberapa butir nasi beserta tempe oreg terenak yang pernah ia makan.


Kallista hanya menggelengkan kepalanya, mimpi apa dia bisa dapet temen seenaknya gini "Habisin" titahnya yang sudah bangkit dari duduknya.


"Tidak akan tersisa" sahut Deri penuh penekanan.


"Di ruang meeting kayaknya."


"Kok bisa?"


"Daripada ilang, mending gue taro disitu" jelasnya.


Tanpa mau berdebat lebih panjang lebar lagi Kallista segera membasuh lengannya sebelum pergi ke ruangan yang selalu berpenghuni itu. "Mudah-mudahan gak ada siapa-siapa" harapnya


Cklek


Kallista diam mematung.


Kakinya seperti dipaku, kenapa ia harus dihadapkan dengan situasi seperti sekarang ini? melihat bos dan sekertarisnya berpelukkan di ruangan tertutup. Ia harus apa?


"Kallista" gumam Ririn setelah melihat keberadaannya.


"Maaf" sesal Kallista segera menutup pintu ruangan.


"Begok!" gusarnya. Ia lupa dengan maksud utamanya masuk kedalam ruangan ini, rasanya aneh kalau ia harus balik lagi ke dalam.


Cklek


Pintu ruangan dibuka dari dalam.


"Masih disini?" tanya Ririn


"Ahh i-iya buk, saya lupa mau ngambil kertas di dalam, permisi buk" jelas Kallista memberanikan diri masuk ke dalam ruangan.


"Maaf mengganggu, saya tadi cuman mau ngambil ini aja" jelas Kallista lagi sebelum akhirnya pergi.


Kallista mengacak asal rambutnya, sedari tadi otaknya terus mereplay kejadian yang seharusnya tak ia lihat.


"Tapi buk Ririn kan.. ah walaupun terlihat berumur tapi dia masih cantik, gue aja kalah" pikirnya. "Kok gue jadi banding-bandingin diri gue gini sih?" protesnya pada diri sendiri yang seolah menjadi insecure.


"Sadaaarrrrr" Kallista memukul pelan kepalanya.


"Aduh aduhhh kok acak-acakkan lagi sih" keluh MUA yang mendandaninya.


"Ahh so-sorry" sesal Kallista kembali menyisir rambutnya.


"Untung aku sabar lohh say, kalau enggak emm udah aja kamu foto-foto acak-acakkan gini, mau diomelin kali sama si bos" ucapnya panjang lebar.



"Kalo mau basah-basahan gini ngapain make up sihh" keluh Kallista yang sudah turun ke dalam kolam ikan.


Tidak ada kolam renang disini maka kolam ikan pun jadi. Tak ada yang mau turun maka Kallista pun jadi, ya sepertinya sekarang ia sedang dimanfaatkan model lainnya yang hanya mau berfoto tanpa mau berkorban.


Tidak masalah, ya ini bukan masalah besar untuk Kallista, masih bisa diarnulir. Tapi masalahnya sekarang kenapa ia yang menjadi salah tingkah ketika bertatap muka dengan bos yang sudah ia pergoki tadi? bukan Kallista yang salah tapi kenapa jadi Kallista yang merasa malu?


Okkhho okhoo


Batuk mulai melanda, tidak aneh, sebab cuaca disini sangat dingin bukan? ya, tak ada seorangpun yang merasa iba padanya.


"Break" teriak Deri, si temen sialan satu ini entah tidak tau dengan penderitaan temannya atau pura-pura tidak tau.


"Naik Ta" Deri mengulurkan tangannya. Tapi bersamaan dengan itu sepasang tangan terulur dari arah lain, membuat Kallista tak langsung menerima uluran tangannya.


"Naik" pinta Bara.


"Gak usah" tolak Kallista lalu kembali mengarah ke tempat dimana temannya terletak. Nihil, Deri dengan santai membawa tripod dan meninggalkannya begitu saja.


Kallista menghela nafas lalu dengan terpaksa harus menerima bantuan pria yang membuatnya harus basah-basahan seperti ini.


Sebuah handuk tiba-tiba tersampai di pundaknya "Dingin ya, sorry tiba-tiba harus nambahin konsep" tutur pelaku.


Kallista yang sedang mengeringkan rambutnya pun segeta mengangguk. Ya, ia memang penuh pengertian. Setidaknya untuk sekarang, karena kalau orang yang melakukan itu adalah bos nya sendiri maka ia masih bisa protes.


"Besok kita pulang"


Kallista kembali mengangguk "Saya tau"


"Terimakasih atas bantuannya"


"Terimakasih kembali" sahut Kallista sambil menunjukkan senyum fake nya. "Kalau begitu saya duluan" pamitnya.


"Tunggu" tahan Bara


"Ada apa lagi pak?"


"Saya ingin kamu menjadi model saya" ucapnya serius.


"Maaf pak.."


"Saya tidak terima penolakan"


"Tapi maaf.."


"Saya hanya ingin jawaban Ya" tekannya lagi.


"Sekarang bukan saatnya ngobrolin itu pak, saya gak bisa mikir, saya kedinginan, anginnya kenceng loh pak" gerutu Kallista panjang lebar. Tanpa menunggu balasan lagi Kallista segera melengang pergi sebelum akhirnya ia akan benar-benar menjadi beku disana.


bersambung ...