
Kallista sudah memantapkan diri untuk memulai karir barunya, mungkin untuk sekarang ia tidak perlu memberi tahu Arion, agar nanti lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima.
Langkah pertama yang musti dijalankan adalah dengan memulai perawatan diri. Wajah yang sudah mulai kering perlu dilembabkan, rambutnya pun butuh diperkilau, lalu mengoleksi beberapa pakaian khas cewek banget, sepatu ber-hak tinggi, juga melengkapi peralatan makeupnya yang tadinya cuma seadanya.
Ponsel Kallista menampilkan notifikasi pesan masuk.
Hari ini kamu ke mana? aku sibuk, maaf kalau gak sempet nemuin.
Isi pesan dari Arion. Oke, cocok! Kallista bisa memulainya hari ini dengan berleluasa, tanpa harus beralasan, atau berbohong mengenai apa pun.
Kallista sudah berada di salah satu salon kecantikan yang banyak direkomendasi oleh para model yang pernah menjadi objek fotonya. "Apa bisa?" gumamnya, memikirkan sesatu yang ke depannya akan menjadi rutinitas.
Dengan slogan "Be beautifull is the number one." bukan hanya wajah tapi juga tubuh, harus ideal dan itu berarti ia pun mesti menjaga ketat asupan makanannya. Kuat kah? selama ini, ketika sedang sedih yang bisa mengembalikan semangatnya adalah memakan segala jenis apapun itu makanannya. Tapi bukankah sekarang ada Arion? penawar dari segala ketidaknyamanan.
Kallista sedang menahan perihnya wajah yang dipencet-pencet, ditarik sana-sini. Ini bukan kali pertama, dulu ia pernah mencobainya dan langsung kapok, tak mau lagi. Tapi sekarang ia malah datang sendiri untuk menjemput kesakitan, mentang-mentang mata sudah lama tidak berair.
Menjadi cantik itu perlu mengorbankan banyak biaya, melangkan waktu yang tak sedikit, juga kesakitan yang gak main-main, tapi kenapa masih banyak wanita yang ingin menjadi super cantik? mungkin rasanya pun akan melebihi dari tingkat awal yang dirasakannya saat ini.
Wajah yang sudah seperti ditempeli tempreglass, juga rambut yang berkilauan layaknya iklan di Tv, Kallista pun bergegas pada tujuan selanjutnya.
Oke, jadi wanita sama sekali gak mudah. Membeli pakaian khas cewek jauh lebih sulit dari yang biasa dibelinya. Apalagi harus tahu trend yang sedang happening saat ini, mana Kallista tahu? harus yang berlengan lebar, nampak bahu, atau yang memperlihatkan sedikit bagian di atas pusar? No! gak perlu yang terlalu mempertontonkan. Selain Kallista yang tidak berkenan, Arion pun sudah pasti menentangnya.
Berjam-jam Kallista berada dalam satu toko hanya untuk memilih pakaian, dan dalam waktu yang selama itu hanya mendapatkan beberapa pasang pakaian saja. Ia baru melihat sendiri, kalau baju yang kurang bahan ternyata harganya lebih mahal dibanding yang berbahan lebih tebal dengan segala kelebihannya.
"Kallista?!" Bara menyapa, membuat gadis yang sedang diribeti dengan belanjaannya merasa harus menanggapi setidaknya sampai beberapa obrolan.
"Eh, hai."
Bara yang menyadari perbedaan dari sosok Kallista pun menjadi semakin tertarik untuk mengobrol lebih banyak. "Sendirian?"
"Ahh, iya." Kallista mengiyakan. Sendiri saja sudah dibuat bosen karena kelamaan, apalagi harus belanja dengan yang suka belanja? mungkin waktu yang ditempuh akan berkali lipat. Pantas saja para lelaki seringkali mengeluhkan hal semacam ini, sekarang ia memaklumi dan sebisa mungkin tidak akan pernah melibatkan sosok tersebut.
"Arion gak nemenin?" tanya Bara, melihat tanda ketidakbergunaan dari kolega bisnisnya.
"Dia lagi sibuk, gue gak mau ganggu!" jawab Kallista, walau sebenarnya Arion akan datang jika diminta hanya saja ini kesempatan untuk Kallista berleluasa.
Bara mengangguk seolah mengerti. "Udah selesai belanjanya?"
"Kayaknya sih gitu, " balas Kallista yang harus kembali mengingat apa yanh belum dibelinya.
"Biasanya kalo cewek udah belanja suka laper." Bara menyimpulkan dengan sangat tepat.
"Lo tau banget perihal cewek?!"
Bara tiba-tiba jadi awkward karena merasa menunjukkan diri yang sering melakukan hal semacam ini.
Kallista yang menyadari hal itu pun dibuat tertawa. "Siapapun yang ko temenin beruntung, gak usah capek ngode!" ucap Kallista. "Ayok, makan di mana?"
Mendengar hal itu membuat Bara kembali dengan kepercayaandirinya. "Tunggu sebentar gak apa-apa ya?"
Bara terlihat sedang berbicara dengan orang terdekatnya di balik telepon, dan seperti membatalkan kegiatan yang seharusnya dilakukan hanya untuk sesi makan siang.
"Lo udah ada janji?" tanya Kallista.
"Tadinya, tapi sekarang udah enggak."
Kallista melenguh, kalau tahu begini ia tidak akan mengiyakan ajaknnya.
"Udah! sini saya bawain." Bara mengambil alih beberapa kantong belanjaan Kallista yang tak terbilang sedikit.
Bara sebenarnya orang yang asik, hanya saja ia masih menilai orang hanya dari luar. Walau untuk jumpa pertama, tapi itu tidak etis karena banyak cover yang tidak begitu bagus namun kualitasnya lebih dari yang terlihat menjanjikan dari luar.
"Hai! gue gak perlu ijin gabung karena seharusnya ini janji temu gue dengan lo." Yara terduduk di sebelah Bara.
"Sorry, gue gak bermaksud ..."
"Gapapa, bos gue emang suka mengorbankan hal-hal penting demi hal biasa yang dianggap lebih penting." Yara tak menampakkan raut wajah keberatan.
"Apa gue perlu pindah meja? bar gak ganggu kalian?"
Yara terkekeh, "Gak usah, gue yang jadi pengganggu di sini. Gapapa kan?"
Kallista menggelengkan kepalanya, "Gapapa kok."
"Bos?"
"Bukannya tadi lo yang bilang gak perlu ijin?"
Yara yang merasa dapat persetujuan pun segera memesan, mendahului dua orang yang lebih dulu datang. "Belanjaan ini bukan punya lo kan?" tanyanya pada Bara.
"Punya gue, tadi Bara cuma bantu bawain."
Yara mengangguk paham, "Selama kenal, dia gak pernah inisiatif kayak gini."
"Lo yang inisiatif duluan buat minta gue bawain kan?"
Kallista tertawa melihat tingkah atasan dengan bawahan yang tidak punya batasan. "Kalian udah kenal lama ya?" simpulnya.
Yara mengangguk, "Kita 1 SMA, dan gue sempet dibikin baper terus dia ghosting. Najong!"
"Lo nya aja yang kebaperan."
"Cewek gak akan baper kalo cowoknya gak bikin baper." Kallista membelai.
Bara melenguh, baiklah yang ia katakan barusan hanya dalih ampuh para lelaki yang tak ingin dianggap bersalah. "Oke, awalnya tertarik beneran cuma setelah itu nemu yang lebih menarik jadi pindah haluan."
"Kerdus!!" sungut Yara, ia masih kesal jika mengingatnya.
"Lo belanja segini banyak buat menempuh hidup baru sama bos lo?"
Kallista berdecak, entah mengapa lebih suka ketika Arion disebut sebagai temannha saja. Ia benar-benar tidak mau dianggap sebagai parasit, yang menghabiskan sisa hidupnya dengan menempel saja.
"Sebelum jadi bos, dia temen gue. Kita udah kenal jauh lebih lama dari kalian berdua."
"Kalo diulangtahunkan mungkin tahun ini jadi sweet seventeen?!"
"Gak heran!" ungkap Bara. "Kalo tau gini gue gak ngerasa kalah karena sudah jelas Arion yang bakal menang."
Kallista membalasnya dengan senyuman. "Lo gak kalah dari siapapun, dari awal emang hati gue udah milik dia."
"Gue sempet deketin dia, dan itu sama sekali gak berhasil. Dia terlalu jelas, gak bikin siapapun salah paham, dan itu yang membuat orang yang punya keinginan untuk deket pun jadi segan." Yara menambahkan.
Kallista mengangguk, "Gue sempet takut kalo dia Gay karena saking gak pernah deketnya sama cewek selain gue. Ternyata dia cuma gak mau ngasih celah buat siapapun, bahkan buat kesenangan dia sendiri."
"Gue gak mau punya cewek yang jadi perhatian banyak orang! itu kalimat Arion yang bikin gue mundur alon-alon." Yara terkekeh, "Kalo dipikir-pikir sekarang, emang lo yang paling cocok! mungkin karema dia juga udah menakar semua yang ada pada diri lo sekarang."
_______________________
Ini sudah waktu jam makan siang tapi pesan singkat yang ia kirimkan tidak kunjung mendapat balasan. Sempat khawatir karena tak ingin membuat wanitanya mencari kebingungan, nyatanya wanita itu yang membuatnya penasaran dengan alasan tak berkabarnya.
"Gue mau naik ituuu!" Alysa menunjuk area Bombongkar.
"Yaudah sana."
"Ayoookkk!" rengek Alysa ingin lelaki itu menjadi lawan untuk bertabrakannya karena mengingat hari kerja yang membuat tempat bermain sedikit sepi.
"Gue malu, Alysa!" gumam Arion agar gadisnya ini sadar kalau dalam arena tersebut tak menampakkan orang dewasa, ia tak mau jadi yang satu-satunya.
Alysa merengut, "Yaudah gue mau pulang."
"Oke, okee ayok!" Arion tak punya pilihan, menjadi konyol demi orang yang disayangi bukan hal yang tidak bisa ia lakukan.
Arion menikmati permainan, bahkan sudah beberapa kali perpanjangan. Ternyata kesenangan seperti ini satu-satunya hal yang membuatnya tak memikirkan kehidupan yang sedang berjalan. Namun setelah selesai Arion kembali diingatkan kalau Kallista benar-benar perlu ditemukan.
"Thank's, ya." ucap Alysa karena Kakaknya ini sudah mau mengorbankan hal penting untuknya yang sedang berada dalam masa yang sedikit sulit.
Arion mengusap rambut Alysa. "Terima kasih juga karena sudah menjadi kuat, gue bangga."
Krwukk
Alysa menyentuh bagian tubuhnya yang sedang protes.
"Laper?"
Alysa mengangguk, "Gue tau makanan yang enak!" usulnya, membuat Arion mengekorinya ke tempat yang dimaksudkan.
Tanpa waktu lama Alysa sudah memesan beberapa makanan yang dianggapnya dapat membuat orang yang berkunjung pertama kali akan kembali datang di lain hari.
"Gue ke toilet dulu!" ucap Arion.
"Jangan lama." Alysa memperingatkan.
"Siap my obsessive sister!"
Ponsel Kallista masih tak bisa dihubungi. Oke, sebentar lagi ia bisa mencari tahu apa yang dilakukan sahabat yang baru menyandang sebagai kekasihnya beberapa waktu lalu tapi sudah berani bertingkah itu.
Arion sudah keluar dari toilet lalu tak sengaja ia melihat sosok yang ia kenali, ingin tak acuh hanya saja Yara sudah menangkap keberadaannya.
Yara melambaikan tangan ke arah Arion. "Lo ngajak Arion juga?" tanyanya pada Kallista.
Kallista menggelengkan kepala. "Enggak."
"Tuh, dia di sana!" tunjuk Yara, "Nyusul lo apa?"
Kallista kembali menggelengkan kepalanya, bahkan ia sengaja mematikan teleponnya seharian.
Arion yang hendak bertegur sapa sebentar pun beralih maksud ketika mendapati sosok yang membuatnya tak tenang seharian ini.
"Maaf aku telat!" ucapnya pada gadis yang sekarang sudah menampilkan raut wajah penuh bersalah.
"Tadi katanya Kallista gak bilang lo, gue hampir takut jadi penyebab masalah." Yara tak menyadari kekeliruan yang sedang berlangsung di hadapannya.
"Mungkin marah karena gue gak on time, gue juga akan begitu kalau dia gak berkabar seharian."
Glek
Kallista menelan salivanya.
Canggung, suasana menjadi tak seasik sebelumnya dan Kallista tidak bisa bertahan lebih lama.
"Gue udah selesai, gue duluan!" pamit Kallista, bersikap seolah-olah memang Arion yang bermasalah.
"Ini punya Kallista." Bara menunjukkan semua barang milik Kallista tak dibawa pemiliknya.
Arion yang tak punya waktu untuk membawa barang sebanyak itu pun menghubungi beberapa orang yang bisa dimintai tolong atau ia tidak akan berhasil menyusuli langkah besar kekasihnya.
"Hey!" Arion berhasil menggapai lengan gadis itu.
Kallista hanya menunduk, ia tak berani menangkap mata lelaki yang sudah pasti akan menyalahinya. "Sorry!" ucap lelaki itu, membantah segala tuduhannya.
"Tadinya aku yang takut kamu nyariin karena gak bisa dihubungi, tapi malah aku yang nyariin." tuturnya lagi, membuat gadis itu mulai membalas tatapnya.
"Tadi ..."
"Aku punya sesatu yang bisa bikin kamu gak marah lagi." Arion menawarkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian Kallista karena sebenarnya gadis itu lah yang melakukan kesalahan.
"Apa?" Kallista mulai memudarkan raut wajah tak mengenakannya.
Tak banyak bicara lagi Arion pun segera membawa gadis itu pergi ke tempat di mana ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, bahkan dari sebelum Kallista dapat menerima keberadaannya kembali.
Kallista, seseorang yang mampu membuat Arion melupakan segalanya termasuk seseorang yang masih terduduk menunggui kedatangannya kembali.
Lagi dan lagi, tak ada yang berbeda. Sejak dulu sampai sekarang Alysa selalu kalah dengan orang yang sama.
Bersambung ....