
Alysa melihat jam tangannya beberapa kali dan sslama itu pula seseorang yang pamit pergi ke toilet tidak kunjung kembali.
"Gak mungkin pingsan kan?" pikirnya.
Makanan yang tadinya panas sudah menjadi dingin, perut yang tadinya meminta segera diasupi tak lagi melakukan pemberontakan, dan Arion yang tak ditemukan di manapun.
"Permisi, Bu Alysa?" sapa seseorang asing yang menghampirinya.
"Pak Arion meminta saya untuk membawakan belanjaannya." Lelaki itu mengutarakan maksudnya.
"Kakak saya ke mana?"
"Katanya ada sesuatu yang mendesak."
Alysa sudah mempersilakan belanjaannya diambil alih oleh orang yang diutus Kakaknya, dan Arion yang tanpa kejelasan pun masih tidak bisa dihubungi, padahal ia sengaja memesan banyak makanan untuk dimakan bersama.
Mungkin ada sesuatu hal penting yang amat mendesak sampai membuat Arion tak sempat berpamitan kepadanya secara langsung. Dengan sedikit memaksa Alysa berusaha untuk mencoba memahami Kakaknya.
Beberapa orang yang mengantar pulang mulai menurunkan belanjaan Alysa keluar dari mobil. "Itu kok nggak diturunin?" tanya Alysa pada beberapa kantong yang masih tertinggal di dalam.
"Ini punya Pak Arion,." jawaban yang tentu saja tidak dapat Alysa benarkan. Sejak tadi Arion yang menemaninya belanja, mana ada lelaki itu membeli sesuatu.
Ketidakpercayaan Alysa membuatnya harus memeriksa sendiri. Dan memang benar bukan miliknya, tapi apa yang membuatnya percaya milik Arion jika isinya pakaian wanita? "Habis ini kalian mau ke mana?"
***
Arion membawa Kallista ke sebuah Restoran yang kebetulan sedang tidak banyak pengunjung. Jangan berharap pria itu akan benar-bebar membuat Restoran kosong karena telah disewa penuh. Baginya hal seperti itu hanya menyusahkan banyak orang yang sedang kelaparan mencari tempat makan, tidak ramah bukan? Lagipula mau seramai apapun jika kedua hati saling tersambung maka tak ada suara yang dapat mengganggu obrolan keduanya.
"Makan lagi?" Kallista memastikan.
"Aku belum." Arion membuka daftar menu. "Dari pagi gak ada yang ngingetin. Padahal sebelum pacaran biasanya.."
Kallista mengelus pipi dari lelaki yang sedang merajuk di depannya lalu mengambil alih sebuah buku yang sedang dipegangi Arion. "Biar aku yang pesenin."
Arion menyangga dagunya. "Nikah yuk." sontak saja ucapan yang tidak terencana itu membuat gadis yang mendengarnya tertawa geli.
"Becanda?" sahutnya sambil merapikan helaian rambut Arion yang sedikit berantakan.
Arion berdesis, "Masa becanda!?"
"Lagian, masa ngelamar kayak gitu doang."
"Mau yang serius?" Arion beranjak dari kursinya. "Wait!"
Kallista menyandaraan punggungnya pada sandaran kursi, menunggu hal seperti apa yang bisa lelaki ini lakukan tanpa melakukan persiapan.
Tiba-tiba keberadaan Arion terganti dengan sebuah balon terbang yang seolah menuntun Kallista agar mengikutinya. "Tapi kayaknya ini udah terencana," gumam Kallista yang tak bisa berhenti tersenyum.
Kallista sudah berada di lantai 2, ia masih tak menemukan sesuatu yang aneh selain balon yang kini sama sekali tak bergerak. Sampai akhirnya secara tiba-tiba semua lampu mati, sama sekali tak ada penerangan juga suara yang tadinya riuh seketika senyap.
"Arion!!" teriak Kallista yang sudah memeluk lututnya sendiri.
Selang beberapa saat tiba-tiba hembusan angin menyentuh rambut membuat Kallista membuka matanya dan lampu sudah kembali menyala, namun yang tadinya terdapat beberapa meja yang terisi kini tak ada yang lain selain dirinya sendiri.
Angin kembali menyapa dari arah balkon yang entah sejak kapan pintunya sudah terbuka lebar. Belum sempat Kallista bergerak, sosok yang namanya ia panggil ketika merasa takut sudah menampakkan dirinya.
"Di mana pun kamu merasa takut, maka di sana ada aku." Arion berucap bersamaan sengan munculnya beberapa balon terbang yang mungkin teman dari balon terbang yang hanya satu-satunya tadi.
Arion mengulurkan tangannya lalu memberi tanda agar Kallista berjalan ke arahnya. "Kamu ingin apa lagi?" tanyanya.
Kallista menggelengkan kepalanya, "Cukup kamu."
"Yakin?"
Kallista baru saja melangkah melewati pintu lalu secara bersamaan suara riuh kembang api meletus di atasnya. Bukannya mendongak ke atas untuk melihat indahnya benda bertebaran yang ikut menghiasi langit Kallista masih tetap fokus pada yang di depannya.
"Jangan terburu-buru." Arion melangkah mundur setiap kali Kallista melangkah maju.
Kallista berdecak, ia terlalu tidak sabar untuk melihat benda indah di atasnya dalam pelukan lelaki itu.
Belum sempat Arion membalas, tubuhnya sudah oleng lewati batas pagar.
"Arionnnnn!!" teriak Kallista sejadi-jadinya dengan satu tangan ingin meraih walau jarak yang terlalu jauh tidak memungkinkannya berhasil.
"Enggak, gak boleh!!" Kallista berlari sekuat tenaga ke arah di mana Arion terjatuh.
Tubuh Arion terlentang di atas trampolin sambil menampilkan senyum jarangnya. "Bahkan aku tidak bisa mati tanpa ijinmu."
Kallista sungguh ingin membunuhnya saat ini juga. Lelaki itu membuat jantungnya hampir berhenti berdetak, bahkan untuk bernapas saja masih terasa sesak.
Dengan sekuat tenaga Kallista berusaha menggerakkan tubuhnya untuk segera turun menuju tempat di mana Arion sedang berbangga hati karena telah berhasil membuatnya hampir mati walau tidak dengan fisiknya yang terbanting hanya saja sakitnya hampir menyamai.
Kallista sudah berada di luar restoran, tepat berada di bawah balkon tadi. Namun semua sudah tak berjejak seolah apa yang sudah dialaminya tak sungguh-sungguh terjadi.
Hampir saja Kallista kembali menyuarakan nama dari lelaki yang ingin sekali ia pukuli tiba-tiba balon penuntun tadi kembali muncul, membuatnya harus kembali mengikuti agar bisa menemukan apa yang dicarinya.
Kelopak bunga mawar merah bertebaran di sepanjang arah yang dilaluinya sampai pada banyak lilin yang membentuk lingkaran, di mana terdapat sosok yang ingin sekali ia temukan.
Duarr
Kembang api kembali meledak di atas langit, namun Kallista tak ingin mengalihkan pandangannya walau Arion memberi tanda agar ia mendongakkan wajahnya.
Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Kallista malah memaksakan dirinya untuk berlari agar bisa segera menggapai manusia yang tak ingin lagi hilang dari pandangannya.
Arion melenguh, rencananya tidak berjalan mulus sepenuhnya. Padahal yang menjadi inti dari semua rencananya ini ada pada petasan tadi yang kini sudah lenyap di atasnya.
Hampir saja kedua tangan Kallista meraih tubuh Arion, lelaki itu sudah merendahkan tingginya lalu berlutut sambil menyodorkan sebuah kotak kecil yang ketika dibuka terlihat sebuah cincin dengan satu permata yang berkelap-kelip.
"Lihat ke atas." Arion menginterupsi.
Kallista menggelengkan kepalanya.
"Ayolahhh." Arion menengadahkan kepala Kallista yang tak mau lepas darinya.
Kallista
Tulisan dari hasil ledakan kembang api pertama. Arion tahu hal ini akan terjadi, jadi ia mempersiapkan beberapa stok untuk mengkafer kegagalan yang mungkin kejadian lagi.
Will you marry me??
Susul kembang api setelahnya membentuk sebuah kalimat pertanyaan yang sebetulnya tidak memerlukan jawaban karena sudah pasti Kallista akan menerimanya.
Suara tepuk tangan membuat sesi romantis sedikit terganggu, bahkan Kallista tidak menyangka kalau rekan kerjanya menjadi bagian dari yang menontoninya saat ini.
Arion sudah menyematkan cincin pada jari manis Kallista, lalu sebagai gantinya tubuh Arion dipeluk habis oleh gadis yang sudah disiksanya mati-matian.
"Aku udah bilang, cuma mau kamu."
"Masih mau lihat yang lebih serius?" Arion menyambut pelukan Kallista.
Tiba-tiba Kallista menyudahi pelukannya, lalu menggenggam erat jemari Arion seolah talut kalau lelaki itu meninggalkannya.
"Jadi, ini maksud dari sesuatu yang mendesak?!" gumam Alysa yang sudah berada di belakang tubuh Arion dan Kallista melihat jelas sosok yang berada di antara kerumunan.
Arion yang merasa sedang terjadi keanehan pun mengikuti arah pandang Kallista.
"Jangan pergi!" Kallista tak melepas tangan Arion yang hendak melepaskannya.
"Cuma sebentar."
Kallista menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku gak mau ambil resiko."
Bersambung ....