ARION

ARION
Salah Paham



Happy Reading ♡♡♡


Ririn terlihat celingak-celinguk karena tidak mendapati bos nya yang sudah cukup lama tak kembali dari toilet.


"Kallista, tadi di belakang ketemu pak Arion gak?" tanyanya


Baru saja Kallista membuka mulutnya, tapi seseorang yang lain menyerobot kesempatan itu "Baju saya basah, jadi tadi ke Villa dulu" jawab Arion dari arah belakang.


Ririn menghembuskan nafas lega, ia takut kalau sampai anak dari bos nya terdahulu ini sampai kenapa-napa, walaupun bukan anak kecil lagi tapi ia merasa bertanggung jawab penuh pada pria yang sudah beranjak dewasa ini. "Syukurlah kalau begitu" ucapnya lega


"Kamu tidak ingin tau siapa yang membuat saya basah kuyup?" ucap Arion membahas hal yang sebenarnya tidak dipertanyakan siapapun.


Ririn memicingkan matanya, seolah menjadi penasaran akan hal yang baru saja diutarakan bos nya tersebut.


"Kallista, bisa jelaskan.."


Okhho okhoo


Mendengar hal itu sontak membuat Kallista terbatuk-batuk, bagaimana mungkin pria itu ceroboh? Tidak seharusnya hubungan dekat yang pernah terjalin antara mereka terungkap gara-gara masalah sepele seperti ini. Lagi pula Kallista tidak seharusnya bersalah, Arion yang terlalu memaksakan kehendaknya untuk ikut masuk ke dalam toilet wanita. Siapa suruh? salah dia sendiri bukan?


Semua pasang mata tertuju hanya pada Kallista, menagih cerita yang dijanjikan pria yang tampak tak berdosa di sampingnya.


"Sa-saya.. saya.." ucap Kallista terbata-bata


"Ada apa? kenapa kamu gugup?" tanya Bara menelisik.


"Tadi pak Arion salah masuk toilet wanita, lalu mereka salah sangka pada pak Arion yang pikirnya akan mengintip, jadi pak Arion kena siram" lanjut Kallista fasih, menyingkirkan tuduhan Bara. Ia meninggalkan kenyataan bahwa ia yang membuat Arion sampai menjadi bulan-bulanan kumpulan cewek tadi.


Terlihat para pendengar seperti tak kuasa menahan tawa namun tak enak pada orang yang pasti akan merasa jadi bahan lucu-lucuan.


"Tertawa saja, saya tidak masalah" ucap Arion sambil menggedikkan bahu nya santai


Tatapan Bara masih tertuju pada Kallista, ia melihat sesuatu yang aneh dari objek penglihatannya. Tatapan Kallista dan Arion terlihat beberapa kali saling bertemu dan ia yakin ada sesuatu di dalamnya. "Gue harus cari tau" batinnya


_________________________


Masih tersisa 1 hari lagi di tempat dingin khas pegunungan ini, rasanya ia rindu suasana perkotaan yang selalu membuatnya risih dan kadang sampai marah-marah sendiri karena harus terjebak macet.


Seperti hal nya drama pertama kali ketika ia harus datang dalam meeting penting waktu itu. Memang bukan ingatan yang indah, seharusnya tak perlu dibahas. Yang jelas Kallista sangat merindukan rumahnya, rumah yang bisa ia kunjungi setiap hari walau sudah tak lagi berdiam diri disana.


Notif ponsel mengaburkan pikiran pagi nya, setelah membuka pesan masuk ia segera berlari keluar Villa untuk menemui seseorang disana.


Kallista menghela nafas "Tetep kesini?" ucapnya, membuat pria yang sedang membelakanginya segera memutar tubuhnya.


"Ibu yang minta" sahut Gilang


"Ibu minta apa?"


Gilang menjawab pertanyaan Kallista dengan memberikan sebuah wadah bekal untuk segera diambil alih.


"Jangan telat makan, nanti magh nya kambuh."


Kallista mengangguk "Enggak kok, emm makasih ya udah mau direpotin"


Gilang membuka jaketnya lalu dipakaikan pada Kallista yang terlihat cuek walau cuaca pagi ini amat sangat membuat menggigil "Kalau keluar pakek jaket, gak dingin apa?"


"Lupa hehe"


"Masih aja gak berubah" keluh Gilang sambil mengacak rambut gadis yang ada di depannya. "Gue masih ada jaket di mobil, jadi ini pakek aja" lanjutnya.


Kallista segera kembali ke Villa setelah Gilang berpamitan untuk pulang, sebelum ada yang memergokinya dan mengepoinya, itu merepotkan.


"Ciee yang udah diperhatiin mantan" celetuk Deri yang sudah nongol di depan pintu.


"Rese lo"


"Balikan ya?"


"Apaan sih Der, jangan ngeselin ya, masih pagi"


"Cuman nanya, emang salah?"


"Sekali lagi bacot gue gak kasih makanan enak bikinan ibu gue nih" ancam Kallista


"Wehh jangan dongg ampun deh ampunn" sesal Deri menyerah, segera menghampiri Kallista untuk bisa mengicip makanan yang dibawanya.


_______________________


"Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani" ucap Ririn sembari menyerahkan beberapa lembaran kertas.


Arion mengangguk lalu tersenyum simpul "Kalau lagi berdua gini panggil Arion aja buk" ujarnya sambil sibuk membaca lembaran sebelum akhirnya ditandatanganinya.


"Biar lebih akrab aja, ibu sudah saya anggap seperti ibu saya di kantor" jelasnya setelah selesai dengan lembar tugasnya.


Ririn tersenyum "Saya merasa tersanjung" ucapnya haru.


Tanpa segan Arion pun membalas senyumnya, tapi tiba-tiba memudar ketika melihat tetesan bening mulai jatuh membasahi pipi wanita paruh baya yang masih berdiri di depannya.


"Ibu kenapa?" tanyanya segera bangkit dari duduknya lalu segera membuat Ririn terduduk di tempatnya.


Ririn masih terisak, seperti terdapat luka yang dalam pada hati nya.


"Ada masalah?" tanya Arion lagi.


Ririn menggelengkan kepalanya "Tidak apa-apa, maaf saya jadi menangis seperti ini" ucapnya sambil mengusap pipi basahnya.


"Kalau ibu bersedia, ibu bisa cerita apa saja pada saya, selagi saya tidak sibuk saya bisa menampung" jelasnya


"Saya hanya mengingat anak saya, kalau dia ada mungkin dia sudah seumuran kamu" tuturnya kembali sedih


Arion ingat, ia pernah mendengar kalau sekertaris setia dari ayahnya ini pernah hamil dan pernah memundurkan diri lalu akhirnya kembali lagi.


"Saya sangat terobsesi dengan pekerjaan, itu membuat saya lupa akan kodrat saya sebagai wanita, sampai-sampai tak mengikuti permintaan suami untuk tak lagi bekerja dan mengabaikan kehamilan saya. sampai akhirnya saya melahirkan dan pada hari itu juga saya kehilangannya." tuturnya, menjawab pertanyaan dalam benak Arion


"Lalu saya sadar, saya sempat resign sebagai sekertaris pak Rangga, tapi masalah tak sampai disitu, kenyataannya saya tak bisa memiliki anak lagi. Suami saya marah, dia menyalahkan saya lalu meninggalkan saya." lanjutnya.


Arion merasa tersentuh, matanya pun ikut perih "Cerita macam apa ini?" batinnya.


"Kalau terlalu sakit untuk diulas, tidak usah dilanjutkan" tutur Arion karena tangis wanita yang sedikit lebih tua dari ibu nya itu semakin pecah.


Ririn menggelengkan kepalanya, ia merasa harus menceritakan semuanya, hatinya terlalu lama menanggungnya sendirian. "Sampai akhirnya saya berada di titik terendah, saya sempat mencoba untuk bunuh diri karena merasa tak sanggup lagi hidup, tapi untung lah saat itu orangtuamu berniat untuk menjengukku dan menghentikan semuanya, sampai akhirnya saya kembali terobsesi dengan pekerjaan ini dan akan menghabiskan waktu saya untuk bekerja disini." tutur Ririn yang sudah kembali tersenyum.


Arion mengangguk "Lagi pula saya sangat butuh sekertaris sehandal ibu untuk mendampingi saya" ucapnya.


Ririn mengangguk "Saya tau itu" jawabnya penuh percaya diri lalu diakhiri dengan tawa keduanya.


"Sudah beberapa hari ini saya tidak memeluk mama saya, boleh saya memeluk ibu?" izin Arion


Ririn segera merentangkan tangannya "Sepuasnya" ucapnya mempersilahkan.


Cklek


Kallista mematung dengan pemandangan yang tak sebgaja dilihatnya, membuat kedua orang yang terlihat dekat itu melihat ke arahnya.


"Maaf mengganggu, saya hanya mau ngambil sesuatu" ucap Kallista kikuk "Tapi.. emm saya ambil nanti aja" lanjutnya merasa blank dengan apa yang harus ia bawa tadi.


"Kenapa masih belum prepare?" tanya Arion, membuat Kallista kembali urung untuk segera pergi dari ruangan tertutup itu.


"Prepare?" ulang Kallista. Pikirannya benar-benar sedang tak berada di tempatnya. Walaupun bos dan sekertaris tak aneh kalau sampai menjalin hubungan, tapi untuk kasus ini perlu dipertanyakan, sebab Perbedaan umur yang sudah sangat terlampau jauh


Cetrek


Arion menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya di depan wajah Kallista yang melamun, membuat gadis itu segera tersadar.


"Apa yang sedang kamu lamunkan?"


Kallista mengerjapkan matanya, ia sudah seperti tertangkap basah, bukankah seharusnya kedua pasangan ini yang salah tingkah? kenapa terbalik?


"Pemotretan masih 2 jam lagi, jadi saya masih punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan saya yang lain" jelas Kallista "Kalau begitu saya izin keluar" lanjutnya segera hengkang dari tempat yang sudah membuat pikirannya buyar.


"Sepertinya Kallista sudah salah paham" ujar Ririn


"Salah paham? mana mungkin?"


"Tidak ada yang tidak mungkin, terlihat jelas dari tingkahnya."


Arion menggedikkan bahu nya tak perduli.


"Tidak mau menyusul?"


"Menyusul? untuk apa?"


"Menyelesaikan apa yang belum terselesaikan" tutur Ririn mengandung banyak arti mendalam


Arion diam, memikirkan tentang apa yang sekertarisnya ketahui. "Maksud ibu apa?"


"Kamu baru tau cerita ibu, tapi ibu sudah tau banyak tentang kamu."


Bersambung....