ARION

ARION
Keputusan



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading ♡♡


"Sudah baikan pak?" tanya Ririn pada Arion yang baru saja keluar dari villa


Arion mengangguk "Terima kasih kompresannya" ucapnya


"Iya pak sama-sama, lain kali jangan sungkan ya pak. Kalau butuh apa-apa panggil saya, jangan bersusah payah sendiri" tutur Ririn


Arion tersenyum "Saya teringat mama saya kalau lihat ibu, jadi tidak tega" jawabnya


"Kalau begitu anggap saja saya ibumu di kantor, agar lebih nyaman"


"Boleh?"


"Tentu" pungkasnya


"Baiklah terima kasih atas kehormatannya" ucap Arion sambil menundukkan kepalanya


Ririn mengusap pipi Arion lembut lalu tiba-tiba matanya perih, matanya berkaca-kaca seolah menyimpan banyak kerinduan disana


"Kenapa? saya salah bicara ya?" heran Arion


Ririn yang disadarkan karena pertanyaan yang dilontarkan itu segera mengusap mata berairnya "Enggak, gapapa"


_____________________


Kallista menggigit bibir bawahnya "Gue naik setinggi ini?" gumamnya, melihat jarak dari dirinya ke tanah itu terasa sangat jauh tak terjangkau


"Perasaan pas naik gampang kok" keluhnya yang tiba-tiba ciut, ingin bergerak pun ia urungkan kembali, takut kalau kakinya terpeleset dan akan membuatnya jatuh. Mungkin akan mengalami patah tulang yang butuh penyembuhan berbulan-bulan


"Si Deri mana sih?" gumam Kallista sambil mengedarkan pandangannya yang sejauh apapun ia melihat hanya desiran pasir dan pesawahan.


Mengingat bahwa jadwal pemotretan 3 jam lagi, wajar saja kalau belum ada yang sampai kemari, hanya saja Kallista selalu ingin memastikan lokasi beberapa jam sebelum ia melakukan pekerjaannya. Namun setelah kejadian hari ini mungkin lain kali akan mengajak dua orang untuk menemani. Kalau hanya satu orang maka begini kejadiannya, sudah mau setengah jam tapi Deri tak kunjung kembali.


"Memang tak bisa diandalkan, orang lagi kesusahan malah ilang" kesal Kallista


Kallista memicingkan matanya ketika ia menangkap bayangan orang dari kejauhan yang sedang mengarah padanya.


"Maaf siapa disana?? saya minta bantuan" teriak Kallista pada seseorang itu sambil melambaikan tangannya, takut kalau suaranya dianggap horor karena berasal dari sebuah pohon


Pria itu semakin mendekat dan Kallista yakin bahwa ia akan selamat karenanya. Namun ternyata Zonk, langkah pria itu sudah melewati posisinya. Bahkan Kallista yakin kalau orang itu sudah jelas melihatnya dan bahkan menangkap maksud dari teriakannya sejak tadi


"Weyyy gue minta tolong" kesal Kallista


Bara memutar tubuhnya, lalu melihat ke arah kanan dan kirinya "Gue?" tanyanya


Kallista diam "Bukannya dia orang yang.." pikirnya menggantung "Halah bodo amat yang penting bisa turun" lanjutnya


"Iya lo, siapa lagi?" jawab Kallista


"Gue gak punya waktu" ucap Bara sambil menggedikkan bahu nya tak perduli


Kallista berdecak " Lo pikir gue kejebak disini tuh ngapain?? ini demi model lo. Tau kayak gini gue gak akan bela-belain"


"Emang siapa yang nyuruh manjat pohon?"


Kallista diam


"Gak ada kan?"


"Iya-iya terserah deh, yang penting tolong bantuin gue turun cepetann pegel nih" keluh Kallista


"Bikin mood orang hancur aja ni cewek" gumam Bara yang dengan malas menghampiri Kallista


"Gue harus ngapain?"


"Emm lo berdiri di bawah sini, biar kaki gue nginjek bahu lo" ujar Kallista


"What?? bahu gue lo injek? enggak-enggak, enak aja" tolak Bara mentah-mentah


"Terus gimana? ada solusi lain emang?"


"Ya lo loncat aja dari situ, udah beres kan"


"Kalo gue mampu, gak akan gue minta tolong sama lo" protes Kallista


"Berarti gue gak bisa bantu apapun" ucap Bara


kring kring


Ponsel Bara berdering, pria itu segera menjawabnya dan hendak pergi meninggalkan Kallista


"Dasar gak punya hati" gumam Kallista penuh dendam. Perlahan ekspresi wajah Kallista berubah, merasakan ada yang merayap pada lengannya yang sedang erat memegang ranting pohon


"Aaaakkkkkk"


Bruk


"Ahww" ringis Kallista, merasakan seluruh tubuhnya yang hampir patah


"Woyy awas, berat" teriak Bara di bawahnya, membuat Kallista terlonjak kaget dan segera mengangkat tubuhnya yang sekarang ternyata berada di atas punggung bos modelling terkenal itu


"Malah bengong, bantuin" protes Bara yang belum bisa mengubah posisi tubuh tengkurapnya


"So-sorry" Kallista mengulurkan tangannya


"Deketan, gue gak bisa gerak sama sekali" pinta Bara


"Aishh lemah banget sih gitu doang" gerutu Kallista pelan sambil mengikuti permintaan pria itu


"Lo pikir kebanting badan sebesar lo gak bikin tulang remuk apa?" timpal Bara yang mendengar omelan Kallista


Kallista menguras otot tubuhnya untuk mengangkat tubuh besar Bara dengan cara membawa lengan pria itu di atas bahu nya "Coba tadi lo mau turutin cara gue, gak akan jatoh kayak gini"


"Lagian kenapa lo loncat tanpa pergitungan kayak tadi ? itu lebih bahaya, tulang lo bisa patah"


"Gue gak loncat, tadi ada laba-laba ngerayap kena tangan terus gue kepeleset" jelasnya


"Eghh berat banget sih" keluh Kallista yang sudah berhasil membuat Bara berdiri 


"Lo ngapain Ta?" tanya Deri dengan ekspresi tak terdeteksi


"Deri lo kemana aja sih?" protes Kallista segera menghampiri temannya itu dan melupakan satu yang lainnya


Brukk


"Ahhwww gadis sialan" geram Bara yang sekarang bokongnya jadi sasaran


"Oopss" Kallista menghentikan langkahnya dan memukul pelan kepalanya "Kok gue bisa lupa sih" batinnya


"Duhh maaf pak maaf" sesal Kallista kembali menghampiri Bara


"Gak usah" Bara menepis lengan Kallista


______________________


"Bagaimana persiapannya?" tanya Arion pada Ririn


"Sudah siap pak, tadi Kallista sedang memastikan lokasinya"


Arion mengangguk "Gadis itu memang pekerja keras, kita harus mempertahankannya pak." tilai Ririn


"Memang sekeras apa kerjanya?"


"Tadi saya lihat dia memanjat pohon" jawab Ririn, membuat Arion segera menghentikan langkahnya


"Manjat pohon? untuk apa?" tanyanya


"Karena ada beberapa model yang harus difoto di atas pohon, jadi gadis itu mau memastikan aman atau tidaknya"


"Harus manjat pohon? kata siapa?"


"Dalam konsepnya seperti itu pak"


"Konsep? yang mana?"


"Yang tadi pagi sudah bapak tanda tangani"


"Tempatnya dimana?"


"Tempat apa pak?"


"Pohonnya, kenapa harus perempuan yang memastikan? kan masih banyak kru laki-laki yang lain" keluh Arion segera mempercepat langkahnya


"Hhh hhhh" Dada rata Arion kembang kempis karena langkah terburunya untuk sampai ke tempat dimana Kallista terlihat


Arion menghela nafasnya, ternyata gadis itu tidak sedang berada di atas pohon seperti yang diceritakan sekertarisnya tadi. Tapi penglihatannya terganggu dengan pakaiannya yang penuh pasir dan lusuh, lalu tatapannya turun ke bawah yang menampilkan beberapa baret di sekitar betis dan tumit nya "Shit" umpatnya


Tanpa disadari gadis itu, Arion sudah berjongkok di dekat kakinya, agar bisa melihat luka itu lebih detail, menyita semua tatapan orang di sekitarnya


Kallista yang terheran karena tatapan orang-orang ke arahnya, membuat gadis itu ikut melihat apa yang sedang jadi perhatian semua orang


Kallista segera mundur beberapa langkah dari posisinya, membuat tangan Arion tidak jadi menyentuhnya


Arion berdeham, ia sudah mengira kalau sekarang dirinya sedang menjadi sorotan.


Arion bangkit dari jongkoknya "Ririn, obati lukanya" titah Arion pada sekertarisnya yang langsung diangguki si penerima tugas


"Kenapa sampai begini?" tanya Ririn ikut merasa sakit karena dilihat dari luka nya


"Gak ada yang harus naik-naik pohon lagi, konsepnya mana? nanti saya coret yang tidak perlu." ucap Arion lantang, membuat suaranya terdengar oleh semua kru


"Dari sekian banyak laki-laki disini kenapa harus kamu yang naik ke atas sana? kalau tidak bisa naik jangan maksain" tuturnya yang sudah pasti ditujukan pada Kallista


"Dengar semuanya, jangan ada insiden seperti ini lagi" lanjutnya yang langsung diangguki semua tim nya


"Yara, kenapa baru dateng sih?" protes Bara yang langsung bisa mengenali gadis bermasker di hadapannya


"Dia bisa jalan? kenapa tadi.." gumam Kallista tak percaya, padahal saat membantunya berdiri tadi ia rela tak menghiraukan perih pada lukanya


Yara segera salah tingkah ketika bos nya itu menyuruhnya bersiap-siap "Gu-gue.." ucap Yara gugup


Bara masih menunggu kelanjutan dari ucapan ayara yang menggantung


"Sana siap-siap" titahnya lagi


"Tapi gue.."


Bara berdecak " Lagian ini gak panas, kenapa pakek beginian sih" protesnya sambil meraih topi yang menutupi kepalanya dan masker penutup sebagian wajahnya





"Yara? lo Yara kan? kenapa bisa.." kaget Bara


Yara menghembuskan nafasnya berat lalu menundukkan wajahnya "Ini gara-gara gue perawatan di tempat kemaren, wajah gue iritasi." jelasnya pelan


"Bukannya cantik, malah zonk. gue bakal nuntut mereka" lanjutnya sambil mengepal kuat lengannya, sambil berusaha menutupi wajahnya dari orang yang tadinya ia niatkan untuk dibuat terpesona, sekarang malah jadi sebaliknya


"What the ****" umpat Bara mengusap kasar rambutnya


"Kenapa lo gegabah sih? lo kan, lo itu penting disini" geram Bara


"Sekarang gimana? waktunya udah mepet, gak mungkin kalau calling yang lain, apalagi ini di luar kota" lanjutnya


"Gue minta maaf" sesal Yara yang masih tak berani melihat bos nya yang terdengar garang dari segala umpatan yang didengarnya


Arion menghampiri "Kamu gak salah, ini diluar kendali, lagipula kamu juga gak mungkin menginginkan hal ini kan?" ucapnya


"Gak ada pilihan" batin Arion "Kallista, kamu gantikan Yara" tegasnya


"APA??" kaget Bara dan Yara secara bersamaan, namun seketika Yara segera menundukkan wajahnya lagi ketika tatapannya bertemu dengan milik bos nya


"Mana bisa?" protes Bara


"Lalu ada opsi lain?" tanya Arion memberi kesempatan, namun pria itu tak bisa menjawabnya


"Ririn cepat obati lukanya dan biarkan dia siap-siap" titah Arion


"T-tapi pak.." tahan Kallista, membuat Arion kembali mendengarkan keluhan yang ia anggap sudah selesai


"Kenapa harus saya?" keluh Kallista


"Lalu siapa lagi?" tanya Arion


Kallista mengedarkan pandangannya, yang kebanyakan kru yang ada disini adalah laki-laki. Perempuan selain model hanya ibu Ririn dan dirinya saja


"Kurang satu tidak akan jadi masalah kan?"


Arion melipat tangannya di dada "Menurut siapa? kamu bisa menjamin?"


Kallista diam


"Keputusan sudah bulat, kita tidak bisa mengubah perjanjian yang sudah tertulis di awal. Atau image kita di mata client akan tercoreng, dan itu sudah pasti akan berpengaruh pada kontrak kerja yang tidak akan diperpanjang, atau parahnya mereka akan membatalkan perjanjiannya." tutur Arion


"Sebisa mungkin kita harus bisa mewujudkan ekspetasi client, kalau melebihi itu sudah terbilang mustahil maka setidaknya bisa mendekati" lanjutnya lagi


"Paham semua?"


"Iya pak" jawan semua yang mendengarkan dengan seksama


"1 jam lagi kita mulai, kembali fokus pada pekerjaan masing-masing" titah Arion yang segera meninggalkan tempatnya untuk kembali menuju Villa


"Kamu pasti bisa" ucap Ririn, menyemangati gadis yang sedang digiringinya karena langkahnya sedikit pincang


"Lama banget sih Ta"


"Aahkk Deriii" protes Kallista yang sudah berada di atas punggungnya


"Sejam itu gak lama, nanti kehabisan di jalan lagi" ucap Deri


"Duluan ya bu" pamit Deri


"Iya sana, langsung bersih-bersih yaaa" teriaknya pada dua orang yang sudah jauh





Kallista berganti-ganti pose di depan cermin, mencari dimana angle yang pas. Dulu memang suka difoto, tapi sekarang sudah tidak lagi. Itu hanya masa lalu, ketika masih ada orang yang selalu menjadikannya objek foto


"Ppfffttt" Deri tertawa


"Lo ngapain sih Ta?" ledeknya


"Berisik lo" protes Kallista


"Buset, galak banget si. Model itu harus lemah lembut"


"Gue bukan model" protes Kallista


"Tapi sekarang iya, sekarang lo yang bakal gue foto" sahut Deri yang kembali tertawa "Akhirnya gue bakal punya foto lo ang lagi fose cantik" lanjutnya


"Pergi gak?" geram Kallista yang sudah mengambil bantal sofa untuk siap-siap dilempar ke arahnya


"Aduh kakak sini-sini, waktunya udah mepet" ajak MUA berjenis kelamin laki-laki dengan sikap lebih lembut dari Kallista yang natobene perempuan sesungguhnya


"Sini kak, duduk yang manis ya" ajaknya sambil membuat Kallista duduk di depan cermin dan beberapa alat makeup lainnya


"Setelah tangan ajaibku membuat wajah kamu cantik membahana maka harus gemulai, agar auranya keluar dan hasilnya pun akan sangat bagus, itu artinya job ku bakal nambah banyak" tuturnya "Janji?" tagihnya pada gadis tak banyak komentar itu


Kallista menghela nafasnya panjang "Do'akan supaya gak ada manusia kayak tadi" jawabnya


"Kakak tampan tadi?" tanyanya


"Tampan? uekk" dengan menampilkan ekspresi mau muntah


"Lumayan banget kok kak, emm ada nomor WA nya kah?"


"Katanya udah mepet" alih Kallista, menyelamatkan hidup temannya yang semengesalkan apapun tapi ia tak tega kalau temannya itu harus terjatuh pada perempuan jadi-jadian


"Astaga sini sayang, merem yaa"


•


•


PLEASE VOTEMENT