ARION

ARION
PERLU



Pesan teks yang Arion terima membuatnya ingin bekerja tanpa henti. Mungkin hari ini tak boleh ada space untuk otaknya memikirkan Kallista atau ia tidak akan mampu menahan diri untuk mencari keberadaannya.


Arion menekan bel panggilan untuk memanggil Sekertarisnya. Dalam hitungan detik seseorang yang dipanggilnya pun telah masuk ke dalam ruangan.


"Hari ini ada jadwal apa saja?"


"Interview karyawan baru."


Arion menyatukan kedua lengannya di atas meja. "Saya tidak tahu kalau kita kekurangan karyawan. Di bagian apa?"


"Sekertaris, untuk menggantikan saya."


Arion menyandarkan punggungnya. "Ibu bercanda?"


Ririm tersenyum simpul. "Mohin maaf sebelumnya, kemarin Bapak tidak berada di kantor jadi saya membicarakan hal ini dengan Pak Rangga."


"Papa setuju?"


"Tentu saja."


Arion berdecak, ia merasa tak terima karena dibiarkan tahu belakangan.


"Saya sudah cukup lama bekerja di sini, sepertinya ini waktu saya untuk fokus pada diri saya sendiri."


"Ibu kerepotan? kalau begitu biar saya carikan asisten untuk .."


"Tidak, bukan begitu." Ririn mengelak. "Saya ingin suasana yang baru, mungkin tinggal di luar negeri menjadi jawaban yang tepat."


"Tapi apa jadinya saya tanpa Ibu, cuma Ibu yang kompeten."


"Seseorang yang kompeten terlahir dari seseorang yang tak banyak tahu namun tak menyerah untuk mencari tahu banyak." Ririn berucap. "Dulu Pak Rangga pun sering kewalahan menghadapi saya yang lamban, tapi Pak Arion tenang saja, saya tidak akan keluar sebelum pengganti saya bisa mengimbangi kinerja Bapak."


"Apa benar-benar harus seperti itu?"


Ririn mengangguk. "Pekerjaan adalah hidup saya, tapi saya tidak mungkin menghabiskan masa tua saya hanya untuk bekerja."


"Kalau begitu, apa saya bisa mengunjungi Ibu semau saya?"


"Sangat dianjurkan! itu persyaratan yang ingin saya ajukan sebagai kompensasi."


Arion bangkit dari duduknya lalu memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, setidaknya selama ia di kantor tidak pernah kekurangan sosok ibu dalam dirinya. "Baiklah kalau begitu, kapan interviewnya?"


Ririn membuka tablet untuk melihat jadwal. "30 menit lagi."


"Adakah jadwal lain setelah itu?"


"Tidak ada."


"Bisakah jadwal besok dipajukan saja?!"


"Maaf Pak, anda harus konsisten, tidak bisa mengganti jadwal semaunya, pertahankan.."


"Pesona Rangga Aditya, begitu?" Arion melenguh, "Baiklah, akan saya ingat kata-kata itu. Tapi apa yang harus saya lakukan setelah itu, kalau dia tidak mau saya temui."


Ririn mengerutkan dahinya. "Dia? Kallista?"


"Siapa lagi memangnya? sejak dulu hanya gadis itu saja yang mengganggu."


"Bukankah wanita selalu mengatakan kebalikan dari yang sebenarnya?"


"Lebih bagus begitu. Tapi Kallista tidak seperti wanita kebanyakan, semua perkataannya adalah hal yang sebenarnya."


"Apa anda harus menurutinya? bukankah anda punya hak juga untuk tidak menuruti?!"


Selama ini apa yang Kallista inginkan adalah hal yang harus Arion lakukan, sekalipun dengan kepergiannya. Jika Kallista menyuruhnya pergi maka ia akan pergi dan pada kenyataannya gadis itu tak pernah menginginkannya pergi, maka itu keuntungan besar bagi Arion.


Interview sudah dilaksanakan, sekertaris baru pun sudah terpilih dan besok adalah hari pertamanya. Beberapa kesibukan yang dibuat-buat pun sudah Arion lakukan, seperti hal-nya membaca ulang berkas yang sudah ditandatangani, atau memeriksa file persentasi minggu depan yang sudah hapal di luar kepala.


Arion kembali melirik layar ponselnya yang menampilkan foto gadisnya. "Sial!" umpatnya. Lelaki itu pun mengutak-ngatik benda pipihnya tersebut, setidaknya jika tidak diijinkan tatap muka maka hanya sekedar mendengar suara seharusnya bisa.


Hampir saja Arion menekan kontak yang sudah dipandanginya cukup lama, namun sebuah pesan masuk mengalihkan fokusnya.


Kita udah damai, gue gak akan cari masalah sama calon Kakak ipar.


(picture)


Alysa mengirimkan foto selfienya dengan Kallista. Tentu saja hal itu membuat Arion gemas, tapi apa itu artinya ucapan Kallista sudah tak berlaku?


Arion menekan ikon panggil pada kontak yang baru saja mengirimkan pesan.


"Di mana?"


Alysa tak langsung menjawab karena terdengar suara orang yang saling bersahutan yang akan membuat suaranya tak jelas. Namun tak lama kemudian gadis itu memutuskan panggilannya secara sepihak.


Sesuatu terjadi, bahkan Arion pun segera memutuskan untuk menyusul, meruntuhkan pertahanan yang seharusnya tidak ia lakukan.


***


"Pamit sama Kallista doang? gue enggak?"


Alysa memutar matanya. Setelah Kallista, gadis ini lah yang suka mencari perhatian Arion. Seringkali ia dibuat sebal, dan sempat hidup tenang ketika gadis ini pergi jauh dari keluarganya.


"Kalau dia gak ada keterkaitan keluarga, pasti Arion udah digondol pergi." Alysa memberi peringatan pada Kallista agar lebih berhati-hati dalam mempercayai orang.


"Kallista?" Alysa memastikan gadis yang sedari tadi tak banyak bicara. "Lo denger kan? apa kata gue barusan?"


"Arion selalu tau apa yang dia lakuin."


Alysa tak lagi berkomentar, mungkin ada benarnya, terbukti dari bersatunya kembali walau sempat terpisah.


Natasha memeluk Alysa lebih dulu. "Gue juga sayang sama lo, kok. Walau lebih sayang sama Arion."


"Ya, ya, ya. Sekarang tau akibatnya, harus cari pasangan yang lebih oke dari Arion, biar dia gak insecure kayak mantan-mantan lo." Alysa menyudahi pelukannya. "Gue gak ngatain, ini petuah! walau gue jauh lebih muda, tapi gue jauh lebih berpengalaman dalam hal beginian."


Ponsel Alysa berdering, menyela obrolan.


Di samping itu seorang makeup artist datang menghampiri, memeriksa kesiapan dari kedua bintang utamanya.


"Ayok, biar aku touch up lagi, pemotretan udah mau dimulai."


"Kallista duluan deh, gue mau ke toilet dulu."


"Tunggu!" Alysa menahan kedua orang yang hendak masuk ke dalam studio.


"Lo di sini bukan sebagai fotografer?"


Wanita 30 tahunan itu pun merasa keahliannya tidak dianggap. "Are you kidding me?" deliknya. "Udah secantik ini ya jelas jadi objek foto lah."


"Kallista! gue yakin lo tau kalau Arion gak pernah suka dengan hal ini."


Kallista tak banyak bicara, ia tetap melengang pergi. Ia tetap mempercayai apa yang ingin ia percayai.


"Kallista udah ke dalem ya?" tanya Natasha yang baru kembali.


"Siapa yang ngijinin Kallista jadi brand ambassador?"


Natasha menekuk alisnya, pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. "Pemilik perusahaan lah, Alysa."


"Arion?"


"Dia baru calon penerus, pemilik resmi masih Bokap lo."


"Papa di mana?"


Natasha mengangkat bahunya. "Dari tadi belum liat, sih."


Alysa menekan salah satu kontak di ponselnya lalu melengang pergi. 1 jam lagi keberangkatan pesawatnya, jika hanya untuk memastikan mungkin tidak akan membuatnya harus ketinggalan pesawat.


Baru saja Natasha hendak pergi ke tempat yang sudah menungguinya, tapi kemunculan seseorang mencuri perhatiannya. Namun Arion malah melewatinya begitu saja seolah tak melihat keberadaannya di sana.


Terlihat Kallista sedang akan berganti pose, entah jepretan ke berapa hanya saja hal itu mampu membuat darah Arion mendidih. Kebebasan yang ia berikan bukan untuk ini, apa gadis itu lupa? kalau begitu, biar Arion ingatkan.


"Kallista?!" Deri memanggil mantan partner-nya yang malah terpaku.


"Kamu mengingatnya? lalu apa alasannya?" Arion bersuara, membuat semua mata yang kebingungan mendapat jawabannya sendiri.


"A-aku.."


"Siapa yang mengijinkanmu untuk melakukan ini?"


Oke, Kallista tak bisa berkata-kata, tiba-tiba kepercayadirian yang tadinya penuh seketika dibuat habis.


"Kamu pikir aku akan menyetujui karena terlanjur?" Arion menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kubuat perusahaan rugi besar."


Arion meraih lengan Kallista agar ikut dengannya, tak peduli dengan tatapan penuh pertanyaan dari banyak orang di sekitarnya.


"Sudah mengambil berapa gambar?" Arion pun mengambil alih kamera yang sudah dipenuhi dengan potret Kallista lalu menghapusnya tanpa ijin.


"Arion?!" protes Kallista dengan kelakuan lelaki itu yang sudah sangat keterlaluan, bahkan sama sekali tidak menghargai usahanya.


"Kenapa harus seperti itu?" sela Rangga. "Biarkan Kallista melakukan apa yang ia mau. Bukankah sebagai calon Suami mestinya harus mendukung?"


"Apapun, tapi tidak dengan yang satu ini."


"Ini mimpi gue!" Kallista menarik paksa lengannya agar terlepas dari cengkraman Arion. "Sekali ini aja, gue mohon."


Arion kembali menggelengkan kepalanya. "Ayo pergi!" ia mengarahkan tangannya pada gadis itu.


"Beri Kallista kesempatan untuk .."


"Aku gak perlu pandangan orang, Pah!" sela Arion.


"Tapi aku perlu." Kallista menyela. Ia mengangkat tangan kirinya untuk menampilkan cincin yang sudah tersemat pada jari manisnya. "Aku bisa melepas cincin ini sekarang juga. tapi tidak dengan menarik kembali keputusanku."


Arion menatap tajam wanita yang mencoba untuk tangguh di depannya itu. "Aku yakin kamu memahami apa yang sudah kamu ucapkan." Ia menghampiri Kallista, lalu melepas cincin yang begitu pas dari jari manisnya. "Seperti yang kamu tau, aku akan selalu mengikuti inginmu." dilemparkannya benda itu asal, membuat sang empunya mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat terjatuhnya benda kecil tersebut.


"Selesai bukan?!" Arion menentukan pilihan.


"Lo itu apa-apaan, sih?!" napas Kallista terengah, ia tak habis pikir dengan kelakuan Arion yang sungguh berlebihan.


"Hal seserius itu, tidak seharusnya dijadikan ancaman." Arion melengang pergi, sebelum gadis itu yang mengatakannya sendiri.


Bersambung ...