ARION

ARION
RINDU



Sebenarnya Kallista tak terlalu suka menjadi objek perhatian seperti yang dialaminya sekarang. Jadi kurang cocok kalau ia beralih profesi menjadi seorang model, bukan hanya janji yang mengikat, memang dirinya sendiri baru menyadari porsinya.


"Wah wahhh bos agensy model ternama akhirnya datang juga" sambut pemilik pesta.


"Sudah saya pastikan, walau di detik-detik keterlambatan" sahut Bara.


"No problem, saya paham orang sukses seperti anda pasti banyak kesibukan" balas pria itu lagi. "Oh ya, wanita cantik ini?"


"Pasangan saya" jawab Bara, membuat Kallista hampir memberi penjelasannya sendiri "Dalam acara ini" lanjutnya.


"Gak usah berlebihan" bisik Bara, membuat Kallista kembali masa bodo dengan apapun tingkahnya di beberapa jam ke depan, setidaknya sampai pesta ini selesai.


Keterkejutan koleganya itu pun seakan tertahan, sudah seperti terkena prank. "Saya pikir anda sudah benar-benar bosan dengan kesendirian, baru saja ingin menyindir agar mempercepat undangan" tuturnya jujur.


"Do'akan saja semoga lancar" balas Bara semu berbisik, kenyataannya ia memang sedang mengalami hal yang baru saja dituduhkan kepadanya.


Kallista mulai tertarik dengan acara ini, desain dan interiornya terkesan mewah tapi tidak berlebihan, bagus juga kalau mengadakan acara pernikahan disini, bisakah ia menyewanya? harga hotel ini pasti sangat fantastis.


Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu, objek yang tak disangkai akan dilihatnya disini. Ataukah Kallista yang salah tempat?


Arion terlihat berbincang dengan gadis yang mengaku sebagai tunangannya, dan Arion tak menyangkalinya! itu artinya? mereka benar-benar pasangan, ditambah dengan datang bersama ke acara seperti ini.


Sebenarnya tak ada kebencian dalam dirinya, hanya rindu, kerinduan yang teramat sangat. Kallista hanya tak tau harus memulainya dari mana, sebab sejak dipertemukan kembali dengannya pria itu sudah berbeda. Bukan Arionnya yang dulu, Arion yang terakhir kali menciumnya di bawah langit malam dengan hiasan kembang api dan ramainya suasana kota pada saat itu.


Tanpa disadari air mata Kallista pun tumpah, deras dan semakin terisak. Perasaannya sudah tak terbendung, tapi kenapa harus pada saat ini? kenapa tidak pada saat pria itu bersamanya kemarin? lalu menumpahkan segala kekecewaannya yang mendalam. Sakit, tapi kenapa rasa itu masih saja bertahan?


Kallista sudah memakai kembali topengnya, raut wajah penuh kesakitan tadi sudah tak terlihat lagi, setidaknya sampai pada saatnya ia sendirian "Gue mau pulang" pinta Kallista.


________________________


Arion yang baru saja keluar dari lift dihadapkan dengan pasangan serasi yang jadi perhatian di pesta tadi. Lalu kenapa disini? bukankah seharusnya mereka berada di atas?


Kallista yang tak kalah terkejut berusaha menyembunyikan perasaannya, lelaki itu paham betul raut wajahnya, bisa tau isi hati tanpa bertanya. Tapi mungkin sekarang pria itu lupa dengan semua tentangnya?


"Kok lo bisa lewat situ?" heran Bara yang merasa dibodohi.


Arion menunjukkan kartu yang dimilikinya, ia punya akses khusus untuk ini, berjaga-jaga kalau seandainya ia ingin kabur, seperti yang terjadi pada saat ini.


Sejak tadi Kallista membuang muka, ia tak tahan melihat wajah yang masih terukir jelas dalam hatinya itu, ia talut tangisnya pecah pada detik ini juga dan membuat semua orang tau mengenai hal yang disembunyikannya sejak lama.


Bara belum mengiyakan, ia masih mengatur napasnya, tapi Kallista tak sabar, matanya sudah perih.


Wanita itu segera hengkang dari posisinya, bahkan kakinya masih bertelanjang, sepatunya menjadi sangat berat untuk dibawa, terlalu lama.



Tubuh Arion yang tadinya rapi dan wangi sekarang hanya berbalut kaos santai yang sudah basah oleh keringat. Selama ini hanya olahraga yang mampu membuat perasaannya membaik.


"Masih belum ngaku?" tanya Natasha yang kehadirannya tak disadari sejak kapan dan dari arah mana.


"Untuk apa?"


"Biar gue laku!! tar pada nyangka gue beneran tunangan lo lagi, menghambat jodoh orang tau gak?" oceh Natasha asal, masa harus serba jelas sih? ia tidak mau kelihatan terlalu care.


Arion masih anteng dengan bunga mawar yang dipeganginya sejak tadi, seharusnya tadi ia memaksa dirinya untuk sekedar memberikan benda ini, setidaknya gadis itu tau kalau ia tak pernah lupa dengannya.


"Happy birthday.." gumam Arion "..Kallista" lanjutnya dalam hati.


_________________________


"Kamu nangis?" kaget Bara ketika mendengar isak tangis dari arah gadis yang menolak untuk menghadap padanya.


"Apa saya melakukan kesalahan? sorry, gak ada maksud buat nyinggung, aku hanya.."


"Kenapa sih gue ini? kenapaaaaa??? hikss" teriak Kallista, untung saja area parkir masih sangat sepi, tak ada satupun orang dari pemilik mobil yang terparkir disini, acara belum selesai, mereka masih berpesta pora.


"Kallista?" panggil Bara hati-hati, suara tangis yang didengarnya sudah memudar, mungkin ia bisa bersuara sekarang.


Bara mengangguk "Gak usah dibahas kalau gak mau membahas" balasnya penuh pengertian.


Kallista kembali menampilkan senyumnya, ternyata Bara tidak seburuk yang ia pikir "Ayok" ajaknya.


"Tunggu" tahan Bara "Kok bekas tangisnya udah gak ada?" herannya sambil menyentuh pipi Kallista yang sama sekali tidak meninggalkan bekas, hanya sorot matanya yang berbeda, cukup sulit untuk dibedakan.


"Gue udah baikan" elak Kallista mengalihkan pandangannya.


"Oke, saya percaya" putusnya menyerah.


"Gue laper" adu Kallista mulai berani berterus terang tanpa perasaan sungkan seperti pertama kali jalan.


Bara segera menginjak pedal gas mobilnya "Meluncur" turutnya tanpa berlama-lama atau mencercanya dengan berbagai pertanyaan, cewek kalau lagi laper biasanya tambah sensitif.



Kallista meraih sebuah lilin yang tak dipergunakan di meja-nya, lalu diberi api dan ditaruh di atas pinggiran piringnya.


Bara masih tak banyak tanya, ia hanya memperhatikan gerak-gerik Kallista yang semakin lama malah semakin manis, sial!


"Gak mau ngucapin selamat?" tanya Kallista, melirik sebentar ke arah pria yang setia menatapinya sejak tadi.


"Selamat? untuk apa" tanya Bara.


"Ulang tahun" jawab Kallista, ia melihat jam yang melingkar pada lengannya, jarum panjang sudah lewat dari angka 12, sedikit melewati jarum pendek yang berada di bawahnya.


"Pas, hari ini gue ulang tahun" jelas Kallista.


Bara terkejut dengan pernyataan mencengangkan itu, bahkan ia melupakan hal penting yang seharusnya menempel pada otak cerdasnya. "Kamu gak lagi bercanda kan?" tanyanya memastikan.


Kallista terkikik "Gue pikir lo tau semua tentang gue" sindirnya.


Fyuhhhh


"Lo minta apa?" tanya Arion.


"Gue mau lo disini terus" bebernya tanpa diminta dua kali.


"Gue mau lo nemenin gue terus" ulangnya penuh penekanan.


"Lo??" tanya balik Kallista.


"Apa?"


"Tadi lo minta apa?"


"Gue minta.. lo tiup lilin kan?" jawab Arion konyol.


Kallista membuka matanya yang tertutup beberapa saat, lalu meniup lilin, sebagaimana suara yang selalu ia dengar pada hari ulang tahunnya.


"Saya sebenarnya sudah menyiapkan suprise, kalau saja kamu tidak memaksa pulang, sudah pasti pesta tadi akan menjadi pestamu." tutur Bara, kalau saja ia lebih dulu tau maka itu yang akan terjadi.


Kallista tertawa "Untung gue pulang, kalo enggak mungkin udah disangka calon istri" candanya sedikit berlebihan, membuat dada pria itu kembali berdegup. "Gue bercanda" tambah Kallista, tak mau memberi harap atau disangka menaruh harap, No! never!


"Dari candaan biasanya bisa jadi sungguhan?" pungkas Bara.


Oke, Kallista sudah salah kaprah, kalimat itu begitu saja terucap, ia sama sekali tak merencanakannya.


"Saya bercanda, kenapa kamu jadi gerogi gini?" jelas Bara "Gimana kalau nanti benar-benar saya lamar?" tambahnya, membuat geplakan Kallista mendarat pada lengan atasnya.


"Becanda mulu, gue laper" Kallista segera menyantap hidangan malamnya, berharap agar bukan perut kosongnya saja yang terisi, tapi hati-nya yang hampa, semoga lekas bahagia dan tak lagi dirundung duka.


Bersambung ....