
Arion meraih lengan Kallista yang hampir menjauh, membuat gadis itu terhuyung karena Arion telah menariknya sampai terjatuh tepat di sampingnya.
Deg
Kallista mengerjapkan matanya berkali-kali, jantungnya seakan tak berdetak, ia mati rasa, jarak tubuh keduanya amat dekat.
Lengan pria itu melingkar pada tubuhnya, membuat Kallista tak bisa bergerak bebas.
Hening
Posisi seperti ini sungguh tidak nyaman.
"Yon.." panggil Kallista pelan.
Bukannya menjawab, Arion malah menarik tubuh gadis itu dan membenarkannya agar berhadapan dengannya.
Arion memeluk kembali tubuh gadis itu, entah dalam keadaan sadar atau tidak, yang jelas pergerakan itu tidak disertai dengan berjalannya otak seperti biasanya.
Kallista diam, ia tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya seakan kaku, seperti beku di tengah gunung es.
Dup dup
Detak jantungnya semakin nyaring, mungkin pria yang sedang memeluk erat tubuhnya ini dapat ikut merasakan detakannya.
Suara jam weker bunyi dengan semestinya, membuat Arion segera bangun dari ketidaksadarannya.
Badannya seperti sangat lelah, apa hari ini ia harus absen? ini demi kebaikan tubuhnya.
Arion membuka matanya perlahan, pandangannya masih meremang namun ia yakin posisi tidur seperti ini bukan posisi tidurnya yang biasa.
Arion tersenyum kecut "Ck segitu rindunya" gumamnya karena melihat wajah gadis yang selalu bisa membuatnya senang dan marah dalam satu waktu.
Hembusan napas menyentuh kulit wajahnya, Arion menautkan kedua alisnya, ia rasa ini bukan hanya sekedar khayalan, ini nyata.
"Kallista?!" gumamnya pelan
Pergerakan Arion terhenti ketika menyadari bahwa lengannya menjadi bantalan kepala Kallista dan jika ia bergerak maka akan membuat gadis itu bangun.
Dengan hati-hati Arion berusaha meraih jam weker yang masih mengeluarkan suara nyaringnya. Untuk pertama kaliya ia merasa jengkel dengan benda itu, ia rasa benda itu tak boleh ada lagi di kamarnya.
Arion mengusap wajahnya dengan tangan satunya. "Gue kenapa?!" keluhnya merutuki diri sendiri.
Arion menekan kuat kedua matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ini.
"Sial!!" umpatnya. Minuman keras memang tak akan memberi efek yang baik, ia harusnya memegang teguh prinsipnya.
Apalagi? Arion melihat ke arah Kallista yang masih damai dalam tidurnya. Kenapa ia harus ditemukan Kallista dalam keadaan buruk seperti itu?? Alasan apa yang harus ia buat nanti??
Arion menyumpah serapahi kebodohannya. Memang ia hampir tak pernah melakukan kesalahan, tapi sekalinya keliru itu tak tanggung-tanggung. Seperti kejadian kali ini contohnya.
Ada pergerakan kecil dari gadis itu, membuat Arion segera melihat ke arahnya.
Kallista membuka matanya lalu mengerjapkannya beberapa kali untuk mengawaskan pandangannya yang masih buram.
Kallista segera bangkit dari tidurnya, ia mengusap wajahnya. "Kenapa harus ketiduran sih?" sesalnya dalam hati.
"Kenapa lo bisa di sini?" tanya Arion yang berusaha bersikap dingin seperti biasanya, seolah tak terjadi sesuatu yang aneh.
Kallista membuka tangan yang menutupi wajahnya lalu segera melirik ke arah orang yang masih berani bersuara tanpa rasa bersalah itu.
"Lo sadar kan?!" tanya Kallista.
"Gue ada kelas pagi!" alih Arion segera bangkit dari kasurnya.
"Lo mau ngehindar?" tahan Kallista.
"Gue serius mau mandi." Arion menjawab tanpa melihat lawan bicaranya
"Lo itu kenapa sih?" tanya Kallista, segera menghalangi pintu toilet yang akan dimasukinya.
Arion berbalik arah, ia melengos keluar kamarnya lalu memakai toilet satunya
"Yonn.. kenapa lo mabuk?!" teriak Kallista walau pria itu sudah mengunci diri dalam toilet.
Kallista mengembuskan napasnya berat. "Gue harus nyari alesan lagi!" keluhnya yang sudah ke sekian kalinya tak pulang.
Arion masih tertegun di pintu kamar mandi sejak 10 menit yang lalu walaupun aktifitasnya sudah selesai, ia masih menimang-nimang antara keluar atau berdiam diri disini sampai gadis itu bosan dan memilih untuk pulang.
"Astaga" kaget Arion ketika mendapati ujung hidung tepat di depan pintu yang baru saja ia buka.
Pria itu hampir aja terhuyung, untung saja pertahanannya kuat. Ia masih mengusapi dada bidangnya, berharap jantungnya tidak mengalami cedera.
Kallista menghalangi langkah Arion yang selalu mencari celah "Ta gue telat" keluh Arion yang sebenarnya memang sedang menghindari ribuan pertanyaan yang akan datang menghadang.
"Gue gak pulang lagi gara-gara lo!" geram Kallista dengan menunjukkan ekspresi garangnya.
"Nanti gue anter dan jelasin sama ibu." Arion menawarkan solusi.
"Bukan itu masalahnya!" Kallista tak cukup puas.
"Apa lagi sih Ta?!" Arion melenguh.
Kallista melipat kedua tangannya di atas dada. "Kalau lo gak jelasin sekarang juga, gue gak mau ngomong lagi sama lo."
Kallista sudah berharap lebih untuk itu. Namun sayang, Arion memilih untuk masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan gertakannya.
"Dia pikir gue bercanda apa?" geram Kallista.
Kallista melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.00, ia harus pulang sekarang juga atau akan terlambat lagi seperti kemarin.
_______________________
Alysa menaruh rasa penasaran dengan keadaan koridor sekolahnya yang amat sepi. "Pada kemana?!" gumamnya. Ia pun tak melihat keberadaan Via di mana pun, biasanya temannya itu selalu muncul tanpa harus dicari.
*Eh katanya dia ngambil IPA
Kayaknya pinter banget yaampun
Kita liat aja siapa yang bisa dapetin dia hahaha*
Obrolan para pencibir yang berlalu lalang membuat Alysa memicingkan matanya, ia melihat seseorang yang berada jauh di depannya sedang digandrungi banyak gadis di sepanjang jalannya
Alysa membulatkan matanya, apa ingatannya tidak salah? "Aksa?" gumamnya ragu, ia masih menilik wajah pria itu dari kejauhan, langkah pria itu semakin dekat padanya yang masih diam di tempatnya.
Senyumnya merekah menyadari bahwa pria itu akan menghampirinya tepat 2 langkah lagi.
Alysa tertegun, langkah pria itu lebih dari 2 kali. "Aksa kan? gue yakin dia Aksa" pikirnya sambil menoleh ke arah pria itu yang sudah melewatinya
"Lo gapapa?" suara bariton itu akhirnya mencuat
"Dugaan gue bener." Alysa segera memutar kembali tubuhnya, namun senyumnya tiba-tiba pudar ketika mendapati gadis perebut kakaknya itu sedang berbicara dengan pria yang ia yakini sebagai teman kecilnya.
"Oh tuhaaaannnnn! Al, gue nyariin lo tau gak sih?!" keluh Via. "Demi apapun, lo harus tau dan ini berita yang amat sangat epic!" lanjutnya dengan menggerakkan kedua ibu jari dan telunjuknya di depan wajahnya membentuk sebuah cubitan, diikuti dengan mimik wajah yang mendukung rasa gemasnya.
"Al, lo dengerin gue kan?" protes Via yang serasa tak didengarkan
Alysa masih menatapi langkah Kallista yang baru saja menyudahi perbincangan konyolnya.
"Alysaaaa?!" rengek Via.
"Apa sih, Vi??" geram Alysa jengah
"Itu.."
"Gue udah tau, udah tau!!" Alysa memotong ucapan teman si tukang pembawa beritanya itu.
"Lo telat." °Alysa melengos, meninggalkan Via yang keheranan dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba dingin.
_________________________
"Kenapa semalem gak pulang?" tanya Gilang ketika Kallista sudah memasuki mobilnya.
"Huh, emm kata siapa?" ucapnya tertawa kecil berusaha menghilangkan kecanggungan
"Ibu semalem nelpon nyariin kamu, Ibu pikir kamu sama aku."
"Oooh."
"Cuma itu?"
"Emm semalem aku nginep di.."
"Jangan bilang di rumah temen cowok kamu itu!" potong Gilang
Kallista yang sama sekali tak bisa berbohonh itu pun akhirnya mengangguk mengiyakan sangkaan Gilang.
Gilang sambil meminggirkan mobilnya untuk menepi. "Lo itu cewek, dia cowok, mana bisa begitu?"
"Lang.. lo gak kenal Arion, dia gak mungkin macem-macem!" Kallista tak lelah terus membelai sahabatnya.
"Pokoknya gue gak suka lo temenan sama dia!" tegas Gilang, tak mau dibantah.
"Kamu tuh apaan sih?"
"Lo yang apaan? kenapa gak pernah dengerin omongan gue?" geram Gilang yang mulai meninggikan intonasi suaranya.
"Aku aja gak pernah ngatur.."
"Dengerin gue!!" potong Gilang lagi penuh tekanan, membuat Kallista terkejut dengannya
Sebelumnya Kallista tak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun, bahkan Arion yang jauh lebih lama ia kenal tak pernah membentaknya seperti ini, jika terlalu marah maka ia akan memilih diam sampai semuanya kembali normal sendiri.
Cklek
Kallista segera membuka pintu mobil untul memilih keluar dari mobilnya.
"Kallista!" panggil Gilang segera menyusul, namun gadis itu sudah berhasil beralih pada taksi.
tok tok
"Kallista.." panggil Ratih. Wanita berumur 50 tahun, wanita yang sudah dianggap Kallista sebagai ibunya, begitupun sebaliknya. "Gilang nyariin, tuh"
"Kallista capek, Bu. Suruh pulang aja!" ujar Kallista setengah berteriak agar suaranya terdengar.
Bersambung...