ARION

ARION
Menyusahkan



"Pah.. kamu gak bisa apa bikin Arion tinggal di rumah aja?" keluh Kesya.


"Kamu kan tau sendiri bocah itu kayak gimana?"


"Kalo dia kelaperan gimana? kamu tega apa?"


"Sayang.. Arion udah gede, bukannya kamu selalu dukung dia?" tutur Rangga membuat istrinya diam tak bersuara.


"Hiks.." Kesya menjatuhkan bokongnya di tepi kasur, membuat Rangga mendesah. Istrinya ini semakin hari malah semakin sensitif, apa mungkin hamil lagi? bukan hal yang mustahil kan?


"Kenapa kau selalu menangisi anak itu? aku saja tidak pernah kau tangisi lagi" keluh Rangga sambil menghampirinya


"Kamu tuh gak tau perasaan seorang ibu yang jauh dari anaknya" tutur Kesya sambil terisak


"Kamu juga gak tau gimana perasaan suami yang terlupakan oleh istrinya" timpal Rangga lagi


"Kenapa kamu mikir kayak gitu??" protes Kesya memukul tubuh suaminya


"Buktinya selalu Arion dan Arion lagi, sampai-sampai kamu lupa kalau sekarang hari ulang tahunku" ucapnya merengut membuat wanita yang sudah berumur 38 tahun itu segera mengusap pipi nya.


Kesya membulatkan matanya ketika ia mengecek kalender di atas nakas "A-aku.."


"Sepertinya aku sudah telat, aku berangkat" ucap Rangga setelah melihat jam tangan miliknya


Kesya segera memeluk tubuh pria tegap iti dari arah belakang "Maaf" ucapnya


Rangga memutar tubuhnya lalu menatap wajah wanita yang tak pernah sedetikpun hilang dari pikirannya.


Kesya menampilkan senyum yang selalu berhasil memikat suaminya "Dengan begini, Arion bisa pulang" ucapnya sumringah


Seketika Rangga memudarkan kebanggaannya "A-Arion?" tanyanya heran


Kesya mengangguk "Kita adakan makan malam dan Arion pasti gak akan nolak" tuturnya dengan percaya diri lalu memeluk erat suaminya lagi


Rangga mendengus, wanita itu memang tak berperasaan


________________________


Alysa melangkahkan kakinya penuh semangat, sebab sudah lama sekali ingin bertemu dengan kakak kesayangannya


Cklek


Pintunya gak dikunci


Alysa segera masuk dan menerka-nerka keberadaan pria kesayangannya itu


Gadis itu membuka pintu salah satu kamar yang ia yakini pasti itu kamar kakaknya


Cklek



"Kok tidur sih?" gumam Alysa sambil menghampirinya


"Yon, gue udah selesai.." Kallista menghentikan ucapannya ketika melihat siapa yang ada di hadapannya


"Elo ??" geram Alysa yang langsung naik darah


Prang


Mangkok berisikan bubur buatannya pecah ketika gadis itu menyeret tubuh Kallista keluar kamar itu tanpa dipikir lebih dulu


Arion segera bangun dari ketidaksadarannya ketika mendengar keributan


"Ta.." panggil Arion


Arion mengerutkan keningnya ketika melihat pecahan piring di lantai kamarnya.


"Udah gue bilang jauhin Arion" tegas Alysa sambil mendorong tubuh gadis yang amat sangat tak disukainya sampai terdorong menyentuh sofa


"Lo bisa gak sih ngomong baik-baik" protes Kallista kembali membangkitkan tubuhnya


"Lo tuh gak bisa dibaikin, bakal ngelunjak. Gue tau type cewek kayak lo yang suka nempel sama cowok tajir. Dasar matre"


"Alysa!!" bentak Arion yang baru saja menyadari ada ketidak beresan di rumahnya


"Lo ngapain kesini?"


"Lo yang ngapain? kenapa bawa cewek ke rumah? jangan-jangan lo habis.."


"Cukup. Ini yang gak gue suka dari lo! sekarang lo pergi" titah Arion


"Gak! harusnya cewek itu yang pergi, bukan gue" protes Alysa


"Arion udah" ucap Kallista


"Dia bener, gue yang harusnya pergi" lanjutnya sambil meraih tas miliknya


"Bagus deh kalo sadar diri" gumam Alysa


"Udah punya pacar juga masih aja deketin abang gue" sindirnya lagi


"Alysa cukup! lo sebenernya mau apa kesini?"


"Gue disuruh mama buat jemput lo" jawab Alysa


"Gue bisa dateng sendiri"


"Ya tapi kenyataannya mama minta gue jemput lo"


"Tapi gue bisa pergi sendiri Alysa.. sekarang lo pergi" tekan Arion


Alysa mengkerutkan keningnya "Lo ngusir gue?"


"Iya" ketusnya


"Gue adek lo"


"Terus masalahnya apa?"


Dengan napas yang sudah tak karuan Alysa segera keluar dari rumah yang jauh lebih kecil dari rumah keluarganya "Apa sih yang bikin dia lebih ngebela si Kallista dari pada gue??" geramnya


___________________________


"Malem mam" Arion segera memeluk ibunya dari arah belakang


Cup


Arion mengecup kening wanita paruh baya itu


"Mama sehat kan?"


"Sangat sehat" timpal papa nya mewakili


Kesya tersenyum dibuatnya lalu mengangguk mengiyakan. Ia memutar tubuhnya lalu membingkai wajah anaknya yang tak terasa sudah menjadi dewasa "Kamu gak lupa pulang ternyata" ucapnya merengut


"Enggak lah mam" jawab Arion sambil duduk di kursi yang sudah tersedia


"Mama pikir kamu lupa sama mama, mangkanya kamu gak pernah pulang" lanjut Kesya lagi


"Mam.. Arion baru satu bulan, jangan lebay gitu ah" jelas Arion


"Kamu tuh bisa banget ya nyari alasan? tau gak sih mama kangen banget sama kamu?"


Arion mengerucutkan bibirnya, membuat wanita itu kembali menampilkan senyumnya "Arion tau, sekarang mama duduk yang manis yaa" ucapnya sambil menggiring tubuh Kesya untuk duduk di samping papanya sekaligus sampingnya juga


"Oh ya, Arion panggil Alysa" titah Rangga


"Katanya dia gak mau keluar kalau bukan kamu yang bujuk" lanjutnya


"Apasih pah, dia kebiasaan"


"Lagian kamu apain dia sih? sampe adikmu merengut gitu"


"Gak diapa-apain kok"


"Udah sana bujuk dulu"


Arion menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu selalu begitu, menyusahkan.


tok tok tok


"Alysa" panggil Arion


Cklek


Alysa langsung membuka pintu kamarnya.


"Nyamperin juga" gumam Alysa merasa menang


"Turun" titah Arion


"Gak mau!" jawab Alysa sambil melipat tangannya di depan dada


Arion tak menghiraukannya, ia meninggalkan gadis yang masih berharap banyak padanya itu


"Adikmu mana?" tanya Rangga yang tak melihat keberadaan gadisnya


"Dia bilang gak mau turun" jawab Arion


Sikapnya ternyata masih tak bisa membuat pria itu iba kepadanya. Apa ia harus pura-pura mati? hanya untuk tau keperdulian sosok kakak nya itu


Cup


Alysa mencium pipi Rangga dari arah belakang "Happy birthday pap" ucapnya dengan posisi masih memeluknya


"Terima kasih princess" ucap Rangga sambil mengelus tangan yang melingkar pada lehernya


"Pahh kenapa Arion gak lanjutin kuliahbke luar negeri sih?" ucap Alysa tiba-tiba ketika duduk di kursi samping papa nya


Arion yang baru saja meminum air putihnya langsung tersedak karena usul ya g mengada-ngada itu.


Rangga menautkan kedua tangannya yang berada diatas meja seraya memikirkan usul anak gadisnya


"Biar kualitasnya lebih bagus, kan papa juga dulu kuliah di luar negeri" lanjut Alysa sambil sesekali melirik Arion sambil memainkan alisnya


"Gak mama gak setuju" ucap Kesya


"Kenapa sih mam? kan demi kesuksesan Arion juga." timpal Alysa


"Tapi apa yang dikatakan Alysa ada benernya juga" pikir Rangga, membuat anaknya tersenyum menang


"Aku gak mau" ucap Arion


"Kenapa? alasannya kenapa?" tanya Alysa minta penjelasan


"Karena gue gak mau jauh dari mama" jawab Arion


Alysa berdecak "Bohong" ketusnya "Pasti gara-gara.." ucapannya terhenti ketika mendapat tatapan tak suka dari lawan bicaranya


Kesya menghembuskan napasnya ketika melihat kedua anaknya yang seakan bertengkar lewat tatapan keduanya. "Udah.. makanannya keburu dingin" ucap Kesya memecah keheningan


"Jangan dipikirin" ucap Kesya pada Arion sambil mengelus punggungnya


________________________


"Sayang kamu kenapa?" tanya Gilang, memudarkan lamunan Kallista


"Yon.." ucap Kallista refleks


"Uhh .." Kallista mengusap wajahnya pelan


"M-maksud aku, tadi aku cuman lagi kepikiran sama .."


"Arion??" potong Gilang


Kallista bergeming.


"Apa sahabat sepenting itu? sampe ngalahin pacarnya sendiri" sindir Gilang


"B-Bukan, gak gitu.."


"Aku jadi curiga, jangan-jangan kalian ada apa-apa"


"Kamu ngomong apa sih? yaa .." Kallista diam sebentar


"Y-yahh gak mungkin" lanjutnya meyakinkan Gilang sekaligus dirinya sendiri yang sulit mengatakan itu.


Gilang mengangguk "Oke, aku pegang kata-kata kamu" ucapnya.