ARION

ARION
Menahan Diri



Kallista merasakan tubuhnya yang masih sangat tak bertenaga, bahkan ia hampir tidak kuat untuk membuka matanya yang padahal dipastikan sudah terpejam cukup lama.


Sinar matahari dari celah jendela menjadi hal paling pertama yang menyentuh lensa matanya, membuat ia segera menghalangi wajahnya dengan telapak tangannya.


Dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya Kallista mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk "Pelan-pelan" ujar seseorang.


Pergerakan Kallista berhenti "Arion" batinnya berbarengan dengan kedua ujung bibirnya yang seolah tertarik otomatis "A.." ucapannya terhenti ketika ia menoleh ke arah pria itu berada, senyumannya pun seketika pudar "Elo?" heran Kallista


"Minum dulu" ujar pria itu


Kallista diam, seolah tak mendengar apapun selain kata hatinya.


Sebelum tak sadarkan diri Kallista yakin melihat pria itu tepat di hadapannya, bahkan Arion sendiri yang menangkap tubuhnya ketika hampir jatuh menyentuh tanah. Gak mungkin salah, tapi..


"Hey" panggil Aksa lagi dengan segelas air putih yang dipegangnya sedari tadi


"Kenapa lo disini?" heran Kallista


"Minum dulu" pinta Aksa


Kallista segera mengambil alih gelas itu lalu meminumnya sampai tandas


"Pelan-pelan" ucap Aksa sambil mengusap ujung bibir Kallista yang basah


"Eh sorry" ucapnya segera menarik lengannya yang bergerak sendiri


"Kenapa lo bisa disini?" ulang Kallista lemah sambil mengusap bekas bagian wajahnya yang disentuh pria itu barusan.


Tenaganya belum kembali normal, ia masih sangat mengantuk dan ingin tidur lebih lama. Mungkin dengan begitu ia bisa bertemu Arion walau hanya sekedar dalam mimpi. Bisakah?


"Lo yang udah bawa gue pulang?" tanya Kallista


Aksa mengangguk "Memangnya siapa lagi?"


Lalu ingatannya? apa karena terlalu tidak dapat menerima? jadi membuat otaknya berhalusinasi sejelas itu?


Kallista kembali memgulas kejadian semalam, sepertinya ada yang janggal. Semapam ia berada di depan rumah Arion, lalu kenapa Aksa bisa tau keberadaannya??


"Kok lo tau dimana tempat gue tinggal?" heran Kallista masih menyidik


"Lo sempet sadar, terus ngasih tau alamat rumah lo" jelas Aksa sambil mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruangan kecil yang ditempatinya


"Jadi lo tinggal disini?" ucap Aksa manggut-manggut dengan mengubah topik pembicaraan


"Kakak udah sadar?" seru Alya yang langsung mendekati Kallista


"Kakak gak kenapa-kenapa kan?? kenapa tidurnya lama" tanya gadis kecil itu sedih


"Kakak cuman kecapean" jawab Aksa mengambil alih


Alya merengut tak suka "Kak Arion kemana? kok jadi kakak ini sih?" protesnya


"Memangnya kenapa? kakak kan lebih ganteng"  jawab Aksa ketika melihat perubahan ekspresi Kallista karena mendengar nama pria itu


"Nama kamu siapa cantik?" tanya Aksa kemudian


"Alya" jawabnya singkat


Aksa mengangguk "Gak mau tau nama kakak gitu?" godanya


Alya menggelengkan kepalanya "Alya gak mau kenal siapa-siapa lagi selain kak Kallista sama kak Arion" tegasnya


"Kok kamu gitu? kakak gak ngajarin kamu kayak gitu lohh" ucap Kallista


"Alya gak mau kenal banyak orang, nanti Alya akan kehilangan banyak juga, Alya gak mau" jawabnya polos


Aksa mengacak rambut anak kecil itu gemas lalu menyetarakan tingginya dengan menekuk lututnya sampai menyentuh lantai "Jadi kamu gak mau kenal sama kakak nih??"


Alya menggeleng "Enggak"


_______________________


Tap tap


Langkah Arion terhenti ketika melihat Zayn menghampiri gadis yang sedang dihindarinya "Kenapa bisa tau?" gumam Arion. Padahal baru hari ini mengurusi perpindahannya, dan lagi pula ia tak banyak bicara pada siapapun


"Hey mau kemanaa??" suara itu memecah lamunan Arion. Gadis itu sudah hilang dari tempatnya, membuat Arion segera mengedarkan pandangannya


"Kall.." Arion hampir berteriak ketika sebuah mobil hampir menyentuh tubuh Kallista.


Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya "Pulang Ta" batin Arion berharap kepulangan gadis itu. Kallista memang tak mudah menyerah, ia malah mempercepat langkahnya menjadi setengah berlari.


"Lo mau kemana sih?" keluh Arion melihat gadis yang sedang sangat memaksakan langkah yang sudah melemah itu.


Arion menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menghampiri gadis itu. Ingin sekali tangannya menghapus air mata pada pipi Kallista, namun smua ini tak sebanding dengan bayangan ketika gadis itu menolak dan tak sudi untuk bertemu dengannya lagi. Ini sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar, ia harus bisa menahannya


Drrdd Drrdd


Ponselnya kembali bergetar dan memperlihatkan nama papa nya di layarnya "Gawat, mereka pasti lagi di jalan pulang" gumam Arion, kalau Kallista tak segera pergi dari sini maka akan semakin runyam


Arion segera keluar dari balik pohon tempat persembunyiannya sejak tadi, dan langung mendapat respon dari Kallista yang terlihat merasakan kedatangannya


Kallista memutar tubuhnya, memperlihatkan keadaannya yang sudah sangat kacau. "Arion" panggil Kallista lemah


Dengan kesadaran yang hampir hilang Kallista berusaha menggapai wajah pria yang sudah tak teelihat jelas itu, pandangannya memburam dan lengannya terjatuh tak bertenaga


"Kallistaaa" panggil Arion panik sambil menepuk pelan kedua sisi pipi nya


"Ta, jangan bikin gue takut" kelih Arion


"Sial" geram Arion ketika suara mesin mobil sudah sangat mendekat ke arahnya


Arion segera mengangkat tubuh Kallista ke balik semak-semak agar tak terlihat semua orang penghuni rumahnya


"Wow woowww" Aksa mendapat tarikan tubuhnya dari belakang


"Jangan berisik" desis Arion


Aksa menatap heran "Apaan sih?" ucapnya berdecak hendak meninggalkan tempat gelap itu


"Gue belum nyuruh lo pergi" tegas Arion


"Gue mau pulang" ucapnya tak banyak pikiran


"Kalo lo pergi gue gak akan ngerestuin lo sama Alysa" ancam Arion


Aksa diam "Syukurlah, biar dia jauh-jauh juga dari gue" ucapnya enteng


"What??" kaget Arion


"Lo mainin Alysa?" protes Arion


"Dia yang ngejar-ngejar gue, risih"


Arion diam, ternyata bukan hanya ia saja yang risih dengan tingkah adiknya itu. Jadi cewek harusnya punya trik agar cowok tertarik bukan ditarik dengan terang-terangan yang akan lebih dianggap mengganggu yang endingnya malah bikin risih. Sudah pasti gagal


"Oke, terserah. Gue juga gak suka sama adek gue sendiri" ungkap Arion


"Sekarang gue butuh bantuan lo" lanjut Arion menyingkirkan tubuhnya untuk menunjukkan keberadaan Kallista yang tak sadaran diri


Kedua mata Aksa membuat sempurna "Lo ngapain dia *****" kagetnya tak habis pikir


"Tadi dia pingsan, dan gue gak mungkin nganterin dia ke rumahnya sendiri" jelas Arion


"Maksud lo, gue harus nemenin lo buat anterin dia pulang? enggak engakk, enak aja. Entar gue ikut-ikutan disalahin kalo dia kenapa-kenapa." tolak Aksa


Arion mengangguk "Oke, kalo gitu malem ini lo gak akan bisa pulang" ancamnya


"Aksaaaa" teriak Alysa memanggil namanya


"Di emm" ucapan Arion terhenti karena bekapan Aksa


"Oke" ucapnya setuju.


Aksa berdecak karena tak punya pilihan lain. "Kallista? ini Kallista?" tanya Aksa tak percaya ketika sudah mendekati tubuh gadis itu.


"Lo pasti kenal, makanya itu gue minta tolong sama lo" ucap Arion



Arion segera menyimpan tubuh Kallista ke atas ranjangnya lalu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya


Cup


Arion mengecup kening Kallista


"Sorry Ta" ucapnya parau lalu segera keluar dari kamarnya sebelum tubuhnya tak akan mau meninggalkan tempat ini


"Gue minta lo jangan sebut nama gue di depan dia, lo bilang aja kalo lo yang bawa dia pulang dan bukan gue" ucap Arion pada Aksa yang menunggu di balik pintunya


__________________________


"Aksaaa??" panggil Alysa lagi yang sudah mengedarkan pandangannya ke bagian luar rumahnya


"Kenapa keluar sih? nanti masuk angin" ucap Arion yang tiba-tiba muncul


Alysa terhenyak dan segera menyentuh dada nya karena kemunculan pria tak terduga itu


"Lo disini? kemana aja?" tanya Alysa merengut


"Masuk" titah Arion tanpa menjawab keingintahuan Alysa


"Gak mau, gue nunggu Aksa" ketus Alysa


"Dia udah pulang" jawab Arion segera menarik Alysa masuk ke dalam rumah


"Kok pulang?" protes Alysa menahan tubuhnya


"Ini udah malem, besok sekolah kan? lo jangan egois, lo juga butuh banyak istirahat" jelas Arion sambil memegang kedua bahu Alysa


Alysa segera memudarkan wajah musamnya dan segera berganti dengan senyum sumringahnya. Ini pertama kali Arion membatasiya, apakah ini rasanya diperhatikan oleh seorang kakak? ya, hal yang selama ini Alysa harapkan dari pria itu.


"Tapi tunggu, bukannya besok hari minggu" pikir Alysa ketika Arion sudah balik kanan dari kamar miliknya.


"Arionnnn" keluhnya.