ARION

ARION
SEMPURNA



"Kok tadi lo diem aja sih? berasa bener aja gue ngomong gitu" obrol Natasha setelah lama dilanda keheningan.


Arion hanya melirik sebentar lalu kembali fokus dengan setirnya.


"Jangan-jangan lo ngarep lagi?" ucap Natasha menyimpulkan.


"Kalo kita gak sepupuan lo pasti suka sama gue kan? ya kan?" tambahnya dengan menampilkan mata berbinar merasa istimewa.


Arion masih diam tak bersuara.


"Gak usah ditutupin Yon! walaupun umur kita beda 5 tahun tapi cinta gak kenal umur kok, serius deh percaya sama gue" Natasha masih melanjutkan kehaluannya.


"Tapi kayaknya gue lahir kecepetan deh, coba kalo.."


Tak


"Ahwww" Natasha mengusap pangkal kepalanya yang terkena jitakan.


"Didiemin malah nambah bawel ya" delik Arion.


Natasha tertawa kecil "Biarin" balasnya sembari menjulurkan lidah meledek. Akhirnya ia mendapat respon dari pria yang kedinginannya melebihi angin yang berhembus malam ini.


________________________


"Nih" Bara menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang.


Kallista tak menyadari, pikirannya masih berkecamuk, bahkan ia seperti tak mendengar apapun selain kata-kata dari pikirannya.


"Kallista!" panggil Bara sekali lagi.


"Emm ya?" sahut Kallista jiwa nya sudah merasa terpaksa kembali.


"Gimana?" tanya Bara mengenai hal yang belum ia lontarkan.


Kallista mengangguk ragu namun berusaha untuk tak memperlihatkannya "Iya bagus" ucapnya.


"Kamu gak keberatan?" tanya Bara melanjutkan.


"Enggak dong, kenapa harus keberatan?"


"Oke berarti besok malam saya jemput" putus Bara menyimpulkan.


"A-apa? jemput kemana? gue gak ada acara apapun"


"Maka dari itu jadwal kamu besok malam sudah terisi, jadi jangan diganggu gugat!" tutur Bara sambil mencubit lembut hidung bengir Kallista.


"Tapi kemana?"


"Kamu gak denger omongan saya tadi?"


"De-denger kok! cuman pas bagian kemananya doang kurang jelas" jelas Kallista, ia terlanjur beralibi jadi masih mengusahakan itu.


Bara mengangguk "Hebat juga kamu bisa baca pikiran orang, padahal saya belum bilang apa-apa" tutur Bara mengakui, membuat Kallista skakmat.


Kallista mencubit lengan pria itu, bodoamat dengan rintihannya, yang penting kekesalannya tersalurkan. Bara membuat Kallista merasa benar-benar bodoh.


"Saya bos kamu loh" sindir Bara sambil mengusapi lengan atasnya dengan satu lengannya yang menganggur. Untung ia sudah pro dalam menyetir, jadi masih tetap bisa menahan kesakitan dalam kesibukan.


"Ini di luar jam kerja, jadi bebas dari yang namanya pangkat!!" delik Kallista


"Oke, saya suka" sahut pria itu, bukannya menyalahi malah mendukung, padahal tadinya Kallista mau memperpanjang masalah.


"Nih" Bara menyimpan satu kotak berukuran sedang ke lahunan gadis itu. "Buat pakaian kamu besok" tambahnya.


Kallista hanya menerima tanpa kepo untuk melirik atau bahkan membukanya, padahal Bara berharap bisa melihat ekspresi Kallista saat mlihat gaun yang ia belikan.


"Harus dipakek" ucap Bara memperjelas, menghindari alasan lain saat setelah sampai pada hari yang ditentukan.


"Lagian kan gue belum ngeiyain" gadis ini mulai mencari celah agar bisa keluar dari perangkap Bara.


Kamu gak keberatan?


Enggak dong, ngapain keberatan?


Terdengar putaran suara dari ponsel yang Bara keluarkan "Perlu bukti lagi?"


Kallista tak bisa beralasan lagi, tanpa berniat untuk menyangkal yang bisa menyebabkan kekalahan lebih memalukan lagi, Kallista segera membuang muka ke jendela yang ada di sampingnya. Semua usaha yang ia lakukan pada malam ini gagal total! mungkin ini hari sialnya.


__________________________


"Aku ikut juga mah?" tanya Natasha.


"Iya dong ikut, wajib hukumnya!"


"Tapi kan.."


"Apa? kamu bisa bikin alasan apa biar malas-malasan di rumah? huh" potong Kesya tak sabar.


"Kan Aku bukan anggota.." Natasha segera menghentikan ucapannya ketika mimik wajah Kesya terlihat tak suka dengan ucapannya.


"Emm maksud aku gini mah, kan Natasha udah lamaaaaa banget gak pulang, otomatis temen-temen papa ngenalin anggota keluarga papa dong? kan aku.."


"Pahhh" Kesya segera memanggil suaminya dengan suara nyaring.


"Kok manggil papa si mah? ih dengerin dulu" Natasha terlihat menyesali ucapannya, mungkin kata yang sudah dipilihnya maaih belum terdengar halus.


"Kenapa? kok teriak-teriak?" sahut Rangga menghampiri "Loh kok kamu belum ganti baju?"


"Katanya gak mau ikut pah, masa takut gak dikenalin sebagai anggota keluarga kita katanya?" adu Kesya jujur membuat Natasha merutuki dirinya, ia lupa kalau mama nya ini tidak lagi muda, biasanya wanita berumur suka lebih nyinyir. Hanya saja ia merasa wajah mama nya ini tak berubah sama sekali, tapi kenapa.. ahh sudahlah, terlanjur


"Natasha?" panggil Rangga, menunggu penjelasan dari si akar permasalahan.


"Tapi maksud Natasha gak gitu pah, maksud aku itu.."


"Cepet siap-siap, papa rela telat cuman demi kamu" putus Rangga membuat Natasha merasa tak punya pilihan selain menurutinya.


"Suruh siapa nungguin? gue kan.."


Arion menutup telinganya, tanpa menunggu Natasha untuk masuk lebih dulu maka Arion sudah memutari mobilnya dan menempati tempatnya sebagai sopir.


Kesya sibuk ngobrol dengan teman arisannya yang sesama istri pengusaha, Rangga juga berkumpul dengan para koleganya. Natasha menghela nafas, haruskah ia menyesali keputusannya untuk ikut? "Terus gunanya gue ikut tuh apa?" gumam Natasha sembari membawa segelas minuman yang tersedia.


Arion pun tidak terlihat, padahal ia sudah mengedarkan pandangannya ke segala arah. Pria itu memang pintar dalam hal ini, menghindari Natasha adalah hoby nya sejak dulu.


Sepasang muda-mudi bergandeng tangan memasuki ruangan, sudah jelas jadi sorotan karena mereka datang tepat pada acara yang baru saja dimulai.



"Lo kemana aja sih?" keluh Natasha setelah menghampiri pria yang ia cari sejak tadi.


"Kenapa?" tanya Arion.


Natasha diam, tadinya ia hanya mencarinya saja tanpa alasan apapun, tapi sekarang? haruskah ia bilang?


"Gue liat Kallista sama Bara disini" ucap Natasha, lebih baik jujur walaupun menyakitkan daripada menyembunyikan hanya untuk ketenangan sesaat.


Arion tak bereaksi apapun, pandangannya masih lurus ke depan, entah aturan di pesta ini atau apa yang jelas pandangan itu sama seperti tatapan kemarin malam.


Natasha segera mengikuti arah pandang Arion, dan benar saja, ternyata pria ini sudah menyadari keberadaan mereka.


Tanpa mengucap sepatah kata pun Arion segera balik kanan, beralih dari posisinya, tepatnya hengkang dari tempat yang sama dengan kedua orang terus saja yang mengusiknya itu.


"Lo mau kemana?" Natasha berusaha mengejar langkah besar Arion namun gagal, sepatu wanita memang tak bisa diajak kompromi ketika terjadi masalah genting seperti ini.


"Lalu apa sekarang?" gumam Natasha, ia memukul pelan kepalanya. Masalahnya bertambah, harus mencari alasan kepergian Arion kepada orangtuanya.


___________________________


Dress hitam pekat di atas lutut dengan dilapisi kain renda menerawang seluruhnya. Sebagai kain lengan pendeknya dan menambah panjang ukurannya menjadi di bawah lutut.


Kallista masih menatap pantulan dirinya di cermin, apa ini tidak terlalu berlebihan? padahal riasan wajahnya sudah sangat minimalis, mungkin efek dari renda pada pakaiannya.


S-E-M-P-U-R-N-A


Andai Bara bisa berterus terang, namun semakin kesini ia semakin tau watak Kallista. Anti dengan sanjungan! bukan bikin tambah percaya diri, malah menjadi sebaliknya, condong ke arah insecure. Aneh memang


"Siap?" tanya Bara. Pertanyaan yang membuat Kallista merasa tak perlu menjawabnya, toh ia sudah naik ke dalam mobil, sabuk pengaman pun sudah dipakai, lalu apa lagi?


Bara mengatur spion panjang yang ada di depannya, mengarahkan pada gadis itu, jadi ketika menyetir ia bisa melirik Kallista tanpa ketauan.


I-N-S-E-C-U-R-E


Satu kata yang mewakili perasaan Kallista. Sepanjang acara hatinya tidak mendapati ketenangan. Ruangan yang tak bisa dikatakan kecil ini berisi pria berbalut setelan mahal, para wanita high class dan gadis turunan orang kaya.


Nyatanya ada seribu Arion dan Bara lainnya di tempat ini. Apakah ia harus mencari jodoh disini selagi bisa? untuk memperbaiki keturunan. Kalau begitu pasangannya nanti akan menganggapnya sebagai memperburuk keturunan?


Acara masih berlangsung tapi Kallista sudah meminta pulang, kost-annya menerapkan aturan jam malam, kalau terlambat maka gerbang sudah digembok dan otomatis ia tidak bisa pulang.


"Kalau jadi model saya, kelasmu akan naik" ucap Bara


"Maksud saya mungkin kamu akan bisa sewa apartement, beli mobil, bahkan akan terbiasa dengan pakaian seperti ini" jelas Bara sebelum gadis itu berburuk sangka dengan maksud dari ucapannya.


"Gak bisa!" pungkas Kallista.


"Kamu cantik, punya skill juga, apanya yang gak bisa?"


"Tapi yang namanya janji gak bisa dilanggar" lontar gadis itu, terlalu jujur, kali ini lidahnya terpeleset, apa ia sudah menganggap Bara orang dekat, jadi bisa membuatnya seterbuka ini?


"Janji buat gak jadi model?"


Kallista mengangguk, ia terlanjur berucap mungkin kalau hanya ini bisa diarnulir, tidak terlalu kentara.


"Konyol, janji kok membatasi mimpi" imbuh Bara sambil menekan tombol lift.


Lift tak juga bergerak naik, apa mungkin rusak? padahal disini banyak sekali penting, mana mungkin dibiarkan turun pakai tangga darurat? bisa-bisa rating hotel ini akan turun drastis.


"Maaf tuan, lift akan berfungsi ketika acara sudah selesai" ucap petugas yang tak sengaja lewat.


Bara menghembuskan nafas berat "Mungkin malam ini kamu bisa menginap?" ucapnya memberi jalan lain.


Kallista merespon dengan menarik kedua ujung bibirnya. "Gue bisa turun pakek tangga, kalau gak mau ikut gapapa kok, gue bisa pulang sendiri" pungkasnya.


Jika seorang pria berani membawa wanita pergi maka ia juga harus mengantarkannya pulang. Pergi dengan keadaan sehat maka ketika pulang pun harus tak ada sesuatu apapun yang hilang.


Masih ada 10 lantai lagi yang harus mereka lewati, bahkan Kallista sendiri sudah merasa capek, ia seperti benar-benar menjadi wanita sesungguhnya, karena merasa sakit pada kaki nya ketika diharuskan jalan jauh.



Kallista menjatuhkan dirinya ke lantai, mungkin ia bisa istirahat sebentar.


"Kamu kenapa?" tanya Bara khawatir, tenaganya merasa terisi kembali ketika melihat wanita di depannya ambruk.


"Istirahat dulu sebentar" sahut Kallista sambil membuka sepatunya.


Kaki Kallista lecet, pantas saja menghambat semangatnya untuk segera sampai.


Bara menghela nafas berat, kini ia membuat kesalahan, wanita yang ia bawa terluka dalam keadaan bersamanya.


Bara segera menampilkan punggungnya di depan Kallista yang masih terduduk. "Biar saya gendong" ucapnya sebagai rasa tanggungjawab.


Kallista berdecak, ia mendorong punggung pria itu sampai hampir terhuyung "Gak perlu, gue bisa nyeker" ucapnya yang kembali berdiri, ia meloncat-loncat guna memeriksa fungsi kaki nya, apakah bisa dipaksakan atau benar-benar perlu bantuan.


"Gak sakit kok, yuk" ajak Kallista lagi segera melanjutkan langkah ke anak tangga berikutnya.


Bersambung ....


♡ Jangan lupa Vote dan Comment ♡