
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Kita ada meeting 10 menit lagi pak, saya sudah.." Ririn menghentikan penuturannya ketika lengan Rangga memberi tanda agar dirinya diam
"Saya gak bisa ikut" jawab Rangga, membuat Ririn segera membelalakan matanya "Tapi pak ada client penting" keluh Ririn yang sudah buntu kalau saja bos nya ini tidak berniat untuk menghadiri
"Karena saya punya pengganti" ucap Rangga sambil menunjukkan senyum tipisnya
"Arion, kamu sudah datang?" sambut Rangga ketika beberapa langkah lagi pria itu sampai di posisinya

"Seperti yang papa liat" jawab Arion
Rangga mengangguk lalu menepuk pelan bahu anaknya "Sekarang kamu gantikan papa dalam pertemuan meeting yang akan.." Rangga menjeda ucapannya ketika melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan sebelah kirinya "5 menit lagi" lanjutnya
"A-apa?" kaget Arion
Rangga menautkan kedua alisnya "Ada yang salah?" tanyanya
Arion segera menggelengkan kepalanya "Ririn, tunjukkan tempatnya" pinta Rangga
"Ta-tapi pak.." tahan Ririn
"Pertemun kali ini kita harus bisa meyakinkan.."
"Kamu ragu dengan kemampuan anak saya?" potong Rangga
Ririn segera mengelak "B-bukan pak, bukan begitu. Pak Arion pasti kompeten"
"Lalu apa lagi?"
"Baik pak" turut Ririn
"Mari pak Arion, ikuti saya" ucap Ririn mempersilahkan
Rangga menahan bahu anaknya yang hampir melewati tubuhnya "Semoga berhasil" ucapnya
________________________

Kring kring
Ponselnya kembali berdering, mengganggu aktifitas rutin pagi nya.
"Hallo" jawab Kallista di balik ponselnya
"Lo kemana aja sih?" protes Deri
"Habis olah raga, kenapa sih? gue gak suka kalo kegiatan pagi gue diusik" timpal Kallista yang akan segera menutup panggilannya
"Jangan bilang kalo lo lupa" tuduh Deri
"Lupa?" heran Kallista
"Lupa apa?" tanyanya
"Ya ampun Ta, pagi ini kita ada meeting penting" ucap Deri mengingatkan
"M-Meeting? astaga" Kallista segera menepuk keningnya "30 menit lagi gue sampe" ucap Kallista segera menyudahi panggilannya
"Mampus gue" keluh Kallista segera mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi
Kurang dari 10 menit Kallista sudah keluar dari tempat bersemayamnya dengan pakaian lengkap. Tak bisa berlama-lama untuk mengurusi wajahnya, Kallista hanya memakai pelembab wajah dan beberapa tepuk bedak, tak lupa pelembab bibir dan beberapa oles liptint agar wajahnya tidak terlihat pucat
"Aduh pak, gak ada jalan lain emangnya?" keluh Kallista pada sopir taxi tak tenang
"Gak ada neng, ini jalan satu-satunya" jawab pria paruh baya itu
Kallista berdecak, situasi macet seperti ini sudah pasti akan membuatnya terlambat sampai ke tempat tujuan. "Saya turun disini aja pak" putus Kallista setelah memberi 2 lembar sepuluh ribuan
Dari pada hanya duduk di dalam taxi yang terjebak macet, lebih baik ia memanfaatkan kekuatan dari kaki nya yang selalu terlatih setiap pagi.
Tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu terasa sangat jauh ketika ditempuh dengan hanya berjalan. Kallista kembali menambah kecepatan berlarinya, karena waktu tersisa 7 menit dari waktu yang sudah ia janjikan sebelumnya.
Gedung pencakar langit itu akhirnya terlihat semakin jelas, dengan napas yang sudah tak teratur Kallista masih mempertahankan kekuatannya, mungkin sesampainya disana ia bisa singgah ke kedai kopinya dulu??
"Ahhhh sampeeeee" sorak Kallista sembari memegang perutnya yang sedang memberontak karena tenaganya yang sudah dikuras tanpa diisi terlebih dahulu
"Mba greentea dingin satu" ucap Kallista di depan kasir kedai
Kring kring
"Gue udah sampe" jawab Kallista
"Dimana? semua udah nunggu" keluh Deri
"Gue lagi.."
"Gue gak mau tau, bukannya lo ontime ya biasanya"
Kallista berdecak "Mba belum dibikin kan? saya ada urusan maaf ya" ucapnya
"Lagian kan baru kali ini gue begini, kenapa rese banget sih" omel Kallista di sela langkahnya
Bruk
Semua berkas yang dipegangnya berhamburan di lantai, sedangkan orang yang menabraknya sudah hilang entah kemana. Kallista menghembuskan napasnya berat "Panas banget sih? gak ada ac apa" keluh kallista sambil mengusap keringat di pelipisnya
Ponselnya sudah kembali berdering, Kallista tak menghiraukannya. Terlambat beberapa menit harusnya tak jadi masalah besar kan? Kallista segera berjongkok untuk mengambil lembaran berkas yang berantakan di bawahnya

Namun tiba-tiba Kallista menghentikan aktifitasnya ketika terlihat sebuah bayangan menghampirinya "Kamu tidak apa-apa?" suara bariton muncul sembari menyerahkan sisa berkas yang berhasil di kumpulkannya pada Kallista
Kallista segera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan lamunannya "E-enggak apa-apa pak, terimakasih" ucap Kallista segera bangkit
"Maaf, tadi yang menabrak kamu adalah asisten saya. Dia tidak hati-hati, nanti akan saya ingatkan" tutur Rangga
"Enggak perlu pak, saya tadi agak meleng. Jadi salah saya juga" sangkal Kallista
Rangga mengangguk "Kamu ada perlu apa kesini? mungkin ada yang bis saya bantu" tanyanya
Kallista kembali mengingat hal yang tak seharusnya ia lupakan walau sedetik "Ya ampun, permisi pak" ucap Kallista segera balik kanan untuk memasuki lift
"Bagi saya setiap detik adalah uang, saya tidak bisa membuang waktu saya seperti ini" ucap Bara, pimpinan dari perusahaan yang menjadi calon client
"Mana dia??" bisik Setya pada Deri
"Tadi katanya sudah sampai pak"
"Terus sekarang mana?" keluh pimpinannya itu
"Anda pikir hanya anda saja yang memiliki kesibukan?" timpal Arion
Bara mengangkat sebelah alisnya "Saya tidak suka orang yang tak tepat waktu" tuturnya
Arion melihat jam tangannya "Baru sepuluh menit, kerugian sebesar apa yang akan anda tanggung?" timpal Arion
Cklek
Semua mata dalam ruangan itu tertuju pada orang yang berdiri di baliknya "Maaf semua, saya sudah berusaha secepat mungkin untuk sampai kesini" sesalnya sambil menundukkan kepalanya
"Sini.." pinta Setya hanya dengan gerakan mulutnya tanpa suara, memberi tanda pada gadis yang masih berdiri di ujung pintu
Bara menghela napasnya "Saya kira sudah cukup untuk hari ini, semoga kedepannya tidak dipertemukan dengan orang yang tak menghargai waktu" ucapnya
"Tapi pak" tahan Kallista "Saya mohon maaf atas keterlambatan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi" tuturnya
Bara berdecak tanpa mau menerima apa yang Kallista ucapkan "Yang penting sekarang saya sudah datang, bukankah anda yang sekarang membuang-buang waktu? sudah menunggu tapi tidak mau melanjutkan. Bukankah kita hanya perlu memulainya?" protes Kallista
Bara bangkit dari tempatnya "Siapa kamu berani mengatur saya? saya tidak mau melanjutkan projek ini" tegasnya
"Kalau begitu, silahkan keluar" ucap Arion
Deg
"A-arion?" batin Kallista ketika matanya menangkap sosok yang sedang bersuara
"Tapi pak" tahan Ririn mencoba menahan orang yang disebut sebagai client penting nya itu
"Terimakasih sudah membuang waktu saya" lanjut Arion, yang sontak menggagalkan usaha Ririn
Setya mengusap kasar rambutnya "Tamat riwayat hidupmu, Kallista" geramnya
Kallista masih terpaku dengan tatapannya yang masih belum terlepas dari pria itu
Cklek
Pintu ruangan kembali terbuka
"Maaf, tadi saya terbawa emosi" tutur Bara kembali duduk di tempatnya
"Saya tidak tau kalau tadi kamu mengalami kesulitan" sambung Bara
"Ta.." bisik Deri, menyadarkan lamunan gadis itu
"Tadi di loby asisten saya menabraknya, dan pergi begitu saja tanpa membantu .."
"Kallista pak" ucap Kallista, memberi tau namanya yang akan disebutkan oleh seseorang yang belum mengenalinya
"Ya, Kallista." sambung Rangga
"Mari kita lanjutkan" lanjutnya sembari mengisi kursi kosong di samping Arion
"Ta fokus, lo kenapa sih?" bisik Deri
"Sorry" ucapnya segera memutuskan kontak pada orang yang sama sekali tak menyadari keberadaannya. Atau pria itu memang sadar akan dirinya, namun sengaja acuh karena memang hubungan antara mereka hanya cerita yang lalu tanpa harus jadi hal yang diingat lagi
Tepuk tangan sebagai tanda berhasil terjalinnya kerja sama antara kedua perusahaan itu mengembalikan jiwa Kallista yang sedang berkelana
"Ayok Ta" ajak Deri
"Uhh oh udah?" tanyanya yang tak sadar dengan apa yang sudah ia lewatkan
"Mohon maaf atas kejadian tadi" sesal Setya pada CEO perusahaan besar yang sudah mau mengajak perusahaannya untuk bekerja sama dalam projek yang tak bisa dibilang ecek-ecek.
Padahal masih banyak perusahaan majalah yang jauh lebih besar dan menjanjikan dibanding Lifestyle miliknya, tapi entah mengapa Macmillen group ini tertarik pada Lifestyle yang akan segera ikut melejit setelah projek ini berjalan karena pengaruh dari Macmillen group yang tidak bisa diragukan lagi, mungkin keberuntungan sedang berpihak padanya.
Rangga tertawa "Hal yang biasa" ucapnya "Jangan merasa bersalah, semuanya berjalan lancar" tutur Rangga pada Kallista yang terlihat pucat pasi
Kallista mengangguk "Terimakasih pak"
•
•
•
PLEASE VOTEMENT