Adinda

Adinda
Chapter 8



Dinda POV


"Aku menunggumu," suaraku lirih sekali. Dia hanya menatapku sejenak dan


mengalihkan pandangannya ke air mataku.


"Ssssshhhhhhh,” dia memelukku dan menenangkanku. Tangannya mengelus punggung dengan sangat lembut


sekali. “Apa kau belum tidur semalaman ini?" tanyanya dan aku hanya bisa mengangguk lemah. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Nona. Aku akan baik-baik saja.” Katanya semakin membuatku ingin menangis dan memukulnya.


Semudah itu dia bicara seperti itu. Dia tidak tahu bagaimana aku sangat mengkhawatirkannya. Aku tidak


bisa tidur karena terus membayangkan wajahnya yang lebam-lebam jika aku tidak


menunggunya. Bagaimana sekarang dia bisa mengatakan itu dengan ringan sekali.


"Bukankah kau harus kuliah hari ini," kutarik ujung kerah tuksedonya. Memukulinya di bagian


dada dan aku terus menangis tiada henti seiring memukuli dadanya yang bidang.


"Aku menunggumu semalaman. Aku takut kau kenapa-kenapa," lirihku yang mungkin nyaris tidak


terdengar karena tercampur dengan suara tangisanku.


Dia merengkuh tubuhku. Membiarkanku memukuli dadanya meski semakin lama, pukulanku mengundur karena


aku kelelahan. "Maaf aku sudah membuatmu khawatir," hanya itu yang aku dengar. Tak lama aku rasa tubuhku yang melayang. Dia mengangkatku masuk ke dalam dan aku membenamkan wajahku ke tubuh bidangnya.


"Jangan pernah menunggu lagi seperti ini. Aku tidak tega melihatmu menangis seperti tadi. Mengerti!"


masih berada di pelukannya, aku pun menganggukan kepalaku.


Kueratkan peganganku kepadanya. Aku semakin membenamkan wajahku ke dalam bidang dadanya. Sekarang


Dia mencium keningku lama sampai aku rasa dia beranjak menjauh dariku. Aku lihat dia berjalan ke sebuah meja besar di depan ranjngnya. Aku kira ruangan ini sudah dia rangkap sekaligus dengan ruang kerjanya. Aku lihat beberapa buku menumpuk di atas mejanya dan aku lihat dia duduk di atas bangku putarnya.


“Tidurlah. Aku ingin minum sebentar,” katanya padaku dan aku lihat dia meminum sebuah minuman bir.


Oh ya aku sudah lama tidak mencobanya atau mungkin bisa saja bir yang dia pegang berbeda raasa dengan apa yang pernah kuminum. Aku pun turun dari ranjang mendekat ke arahnya. Aku lihat dia sudah mulai mabuk


dengan minumannya dan nampak memejamkan matanya.


“Daniel,” kataku menggoyangkan tubuhnya. Daniel nampak mengerjapkan matanya dan tersenyum.


“Ada apa? Kau ingin mencobanya?” tanyanya dan aku segera mengangguk. Daniel memberikan botol itu padaku dan aku segera meminumnya. Rasa terbakar di tenggorokan mulai terasa. Aku meminumnya sedikit


demi sedikit tapi ketagihan. Bahkan mataku mulai kabur dan sedikit melihat Daniel yang berjalan sempoyongan ke arah ranjang.


“Daniel,” panggilku. Aku berjalan menyusulnya dan tubuhku terjatuh di atas tubuh Daniel yang berbaring


di atas ranjang. Malam ini pun terasa begitu panjang untuk kami berdua yang berada di bawah pengaruh alkohol. Kami melakukannya tanpa sengaja.


..................................


Bukan masalah, itu yang aku pikirkan saat kemarin menemukan Daniel satu ranjang denganku. Namun betapa


terkejutnya aku saat menerima kenyataan bahwa kami sudah melakukan hal yang tak seharusnya. Malam itu terlewati begitu saja. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya karena seingatku pun Daniel hanya menjagaku agar aku segera tertidur, tapi memang nyatanya aku sulit tidur dan memutuskan untuk ikut meminum bir milik Daniel.


Aku sudah lama tidak meminum minuman keras karena Ayah selalu melarangku. Dia mengkhawatirkan


keadaanku yang bisa saja keluar batas saat sedang mabuk. Lalu, malam itu seakan terlupakan karena Daniel pun menganggapnya biasa saja. Aku ingin bersikap biasa saja, tapi entah kenapa membuatku sangat khawatir. Khawatir kalau saja sesuatu akan tumbuh di dalam perutku. Apa yang aku katakan pada Ayah jika itu terjadi.


Selama ini aku menjaganya dan aku lalai hanya karena bir itu. Aku takut! Aku sangat takut.


"Dinda, ayo kita berangkat," teriak Daniel dari luar kamarku membuat semua anganku tentang malam kemarin hilang begitu saja.