Adinda

Adinda
Chapter 39



“Hai Papi,” ungkap Dinda menggerakkan tangan Cleo padaku saat aku menutup pintu ruangannya.


“Selamat malam, Sayang.” Ungkapku pada Cleo yang asyik menyusu dengan Dinda dan tak lupa mendaratkan ciuman pada Dinda.


“Bagaimana kerjamu hari ini? Apa sangat melelahkan?” tanya Dinda dengan senyuman di bibirnya.


“Seperti biasa, tapi aku selalu saja tidak bisa berhenti memikirkanmu. Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyaku seraya mengelus rambut Dinda.


“Jauh lebih baik setelah melihat wajahmu,” ungkapnya membuatku semakin melebarkan senyumanku padanya.


Meski Dinda lupa ingatan, tapi sifatnya tidak akan pernah berubah jika sudah berbicara denganku. Inilah sifat yang aku tunggu setelah dia siuman. Sifat yang selalu dia tunjukkan bahwa dia sangat mencintaiku dan begitu pun aku. Setelah dia memberiku hadiah yang luar biasa, yaitu dua anak yang sangat kami cintai. Rasa cintaku semakin terasa besar padanya.


Aku tak pernah menyesal berjanji untuk mencoba mencintainya dan sekarang tak akan pernah aku lepaskan Dinda dari kehidupanku. Aku tak akan pernah mau kehilangannya, karena sebenarnya Dinda adalah anugerah yang terindah dari Tuhan sepanjang aku hidup di dunia ini.


Matt dan Cleo pun kejutan untukku. Mereka melengkapi hidupku dan Dinda. Mereka adalah alasan terkuat untuk kami bersatu dan alasan terkuat untuk kami tidak berpisah. Aku tidak bisa meninggalkan mereka sampai kapan pun juga. Aku sangat mencintai dan menyayangi mereka.


“Daniel sebenarnya, aku sudah bilang pada Dokter yang memeriksaku untuk bisa segera keluar dari rumah sakit,”


“Lalu apa katanya?”


“Aku sudah bisa keluar besok asalkan tetap minum obat yang teratur. Aku juga tidak terlalu stress agar ASI untuk Cleo bisa keluar dengan lancar.”


“Baiklah. Besok kita pulang, Sayang. Hei, tapi kau harus ingat apa pesan Dokter. Kau tidak boleh sampai stress, oke.”


“Dia tidak pernah penurut sekali selama kau sakit. Aku sangat sayang padanya,” kataku pada Dinda.


“Bagaimana denganku? Apa kau juga sayang padaku?”


Aku tertawa pelan mendengarnya. Dinda mencebikkan bibirnya dan terlihat menarik telapak tanganku. “Mana mungkin aku tidak menyayangimu. Kita sudah punya dua anak, Dinda. Kau masih tidak percaya bagaimana perasaanku terhadapmu?”


Dinda menggelengkan kepalanya dan memintaku untuk memeluknya. Aku pun mendekapnya sangat erat. Aroma khas orang sakit pun mulai tercium di hidungku, tapi Dinda tetap memiliki aroma yang sangat nyaman di sisiku.


“Aku memang tidak ingat kapan kau menikahiku. Aku juga tidak ingat kapan kau pernah mengatakan janji sehidup-sematimu denganku, tapi yang pasti hatiku tak bisa berbohong. Aku sangat merindukanmu, Daniel. Perasaanku tak pernah berubah sedikit pun. Aku masih mencintaimu sama seperti pertama kali kita bertemu.”


Aku mengelus pelan rambutnya kemudian ke arah punggungnya dan tak lama Dinda melepas pelukannya. “Tetaplah bersama kami,” pintanya seraya mengelus pelipis Cleo yang terlihat menggeliat dalam tidurnya.


“Forever,” ungkapku padanya yang menimbulkan gurat senyum di bibirnya.


..........................................


Kuputuskan untuk membawa Dinda ke rumahku kembali setelah James pergi. Aku tahu, aku begitu pengecut sebagai seorang pria, tapi aku baru sadar kalau ini memang sudah harus kulakukan dari jauh hari sebelum James pergi.


Dinda keluar dari gerbang kampusnya. Perutnya masih terlihat datar, tapi aku tahu dia tersiksa dengan itu. Tubuhnya memang sedikit terlihat gemuk dan mungkin orang akan yakin kalau Dinda memang hanya sedang menambahka berat badannya.


“Dinda,” panggilku. Kulihat Dinda menolehkan kepalanya saat berpisah dengan temannya yang kutahu bernama Fika.