Adinda

Adinda
Chapter 30



"Kau ********! Aku tak pernah punya Om sepertimu!" suara Gilang kudengar.


Aku menetralkan ritme nafasku. Mencoba mengatur semua pikiran yang berlalu lalang di pikranku. Brengsek! Ya aku memang brengsek, tapi aku perlu menjelaskan pada Dinda bahwa aku haya terlalu takut semakin jatuh padanya. Aku juga tidak pernah melakukan itu dengan keinginanku sendiri. Aku tak pernah menginginkan ciuman tadi sore.


Tak menghitung detik lagi aku lihat Dinda yang masih menangis berdiri di depan Gilang dengan posisi Gilang yang memegangi bahunya. "Kau mencintai orang yang salah Dinda!" ungkap Gilang dan begitu menyesakkan hatiku.


Gilang mencium Dinda di depan mata kepalaku sendiri. Entah kenapa, hatiku pun terasa teremas-remas. Ingin sekali memukuli wajah Gilang  hingga babak belur. Dinda milikku seharusnya. Tapi aku menyia-nyiakannya tanpa kutahu bahwa aku benar-benar menyesal. Hatiku sungguh menyesalinya.


....................................


Lagi, seperti hal yang sudah pernah terjadi. Dinda keluar kamar dengan matanya yang sembab. Dia duduk di meja makannya dengan wajah yang tidak bersemangat.


Suasana meja makan pun terasa panas sekali tidak ada perbincangan yang mengasyikkan. Gilang nampak baru keluar dari kamarnya sendiri dan menghampiri Dinda. Sayup-sayup kudengar Gilang izin pada Dinda untuk berangkat lebih dulu karena ada kelas pagi sedangkan Dinda memang belum memakai baju rapi.


Gilang mengacak rambut Dinda dan berlalu tanpa mempedulikanku. Sepertinya aku baru pertama kalinya melihat Gilang tertarik pada seseorang, tapi buruknya kenapa harus Dinda yang juga sedang terlibat kehidupannya denganku.


“Ayah memberitahuku akan pulang besok. Aku akan segera pulang sore ini.” Ungkap Dinda padaku masih dengan fokusnya pada makanan. Dia tidak menolehkan kepalanya padaku, tapi aku ingin sekali dia mendengar penjelasanku untuk sedikit saja.


“Bukankah ini baru sebentar. Kenapa James sudah pulang?” tanyaku seaka tidak yakin apa benar Ayahnya bilang seperti itu padanya. Bagaimana jika itu hanya akal-akalannya saja untuk menghindar dariku.


“Aku tak pandai berbohong, sepertimu.” Ungkapnya dan itu sungguh menusuk relung hatiku yang paling dalam. “Kau bilang hanya sekretaris, heh.” Dia mendengus di akhir kalimatnya. “Tapi ternyata bermain belakang juga,” lanjutnya.


“Dinda kau harus mendengar penjelasanku. Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.”


“Ya tentu saja, aku tidak tahu. Kalau aku tahu, aku akan semakin mengurung diriku di dalam kamar, kau tahu itu.”


Aku pun hanya mampu menghela nafasku dari mulut. Kuletakkan sendokku di atas piring sarapanku. Rasanya tidak enak lagi melanjutkan ini. “Uang untukmu,” kataku mengeluarkan beberapa dolar untuknya, tapi dia nampak tak tertarik.


“Mungkin kau menganggapku sama dengan sekretarismu,” katanya dan bangkit dari kursinya membuatku menahan tangannya.


“Apa seburuk itu kau memikirkanku? Tak bisakah kau hanya mendengar penjelasanku?”


Dinda mengangkat bahunya dan mendorong tanganku dari tangannya. “Aku harus segera merapikan bajuku.” Ungkapnya dan berlalu meninggalkanku sendiri di ruang meja makan.


.....................................


Gilang dan Fika keluar dari ruangan Dinda saat matahari sudah mulai terbenam. Aku pun akhirnya bisa melihat wajahnya lagi dari dekat, tapi seperti biasanya Dinda malah membuang tatapannya jauh dariku. Namun kulihat James datang menimang anakku. Aku pun segera mengambil alih bayiku dari gendongan James.


“Ayah,” dan lagi Dinda memeluk Ayahnya seolah dia tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.


“Jangan lama-lama meninggalkanku. Aku tidak mau Ayah tinggal,” ungkapnya seolah meminta pertolongan dariku yang selalu dia anggap jahat karena mungkin dia selalu mengingat tentang pengkhianatan itu.


“Maaf Sayang, tapi Ayah datang ke sini ingin izin padamu.”


Raut wajah Dinda berubah. Dia menarik tangan Ayahnya dan langsung memeluk lengan James sangat erat. “Aku tidak mau Ayah tinggal,” katanya layak anak kecil. Matanya bahkan terlihat berlinang.


“Ayah harus kembali ke London, Sayang. Pekerjaan Ayah sudah sangat banyak yang Ayah tunda semenjak kau koma.”


“Tidak..., aku tidak akan izinkan Ayah pergi. Aku tidak mau Ayah tinggal,” dia mulai menangis dan James melirik ke arahku seakan meminta pertolongan.


Kuangkat bahuku tak tahu harus berbuat apa dan James pun menghela nafasnya dari mulut.


“Tinggalah bersamanya, Nak. Kau perlu bicara dengannya," James menatapku yang tengah menimang anakku. "Ada banyak yang sudah kau tinggalkan saat kau siuman. Kau pasti melewati hari terindahmu, Sayang," sekali lagi James menciumi punggung tangan Dinda. Ada sebuah cahaya yang pudar menatap Dinda dengan sendu. Dia tersenyum ke arah Dinda seakan memberiku kekuatan.


Saat Dinda mulai bisa melepas genggamannya terhadap James. James pun menepuk bahuku pelan. “Aku titip anakku. Aku percayakan padamu untuk semuanya.” Ungkap James dan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.


James mengecup kening Dinda sebelum benar-benar pergi dan tidak lupa mengecup cucunya yang tertidur tenang sekali dibalutan kain bayinya.


“Jam penerbangan 2 jam lagi. Aku harus segera pergi,” kata James meninggalkan air mata bagi Dinda yang mungkin sangat merindukan Ayahnya untuk waktu lama karena dia merasa seperti sudah lama ditinggal lama oleh James.