
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Daniel POV
Begitu Gilang memuja Dinda meski 5 tahun sudah berlalu. Aku memang bicara padanya ingin kerja, tapi entah kenapa pikiranku tiada hentinya memikirkan Dinda.
Aku ingin sekali memeluknya. Menciumnya bahkan menunjukkan bahwa aku sangat mencintainya, tapi Dinda tidak percaya itu. Dia hanya mengingat kejadian menyakitkan itu. Dia tak bisa mengingat bahwa kami sudah bahagia setelah hal-hal itu berlalu dan aku tidak siap untuk menjelaskannya kembali.
Aku takut dia tidak percaya karena dengan aku mengatakan bahwa dia istriku saja. Dia sudah terlihat seperti sangat takut padaku. Dia terus tidak mau aku sentuh. Untuk hanya menunggunya di samping ranjangnya. Dia terlihat menutup matanya tak ingin melihatku.
Dia mengacuhkanku dan seperti tak mau percaya dengan kata-kataku. Mungkin karena itu, lebih baik aku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Dokter pun bilang aku tidak boleh membebankannya dengan segala ingata yang dia lupakan. Karena itu aku dan James pun sudah sepakat untuk tidak terlalu banyak menghakimi ingatannya. Biarlah begini adanya. Biarkan dia mengingatnya perlahan dan aku selalu berdo’a semoga semuanya akan tetap baik-baik saja.
...........................................
Kulihat tumpukan dokumen yang aku harus kerjakan hari ini. Cukup banyak, ralat bukan lagi banyak tapi sangat banyak. Membuat diriku sendiri kebingungan harus mengerjakan yang mana lebih dulu. Apa itu tentang hotel di London. Apa mall yang sedang dalam pembagunan. Setidaknya dari tumpukan dokumen itu merekalah yang akan menghasilkan banyak uang untukku. Aku bisa mandi uang setiap harinya.
Aku pun menarik berkas yang ada di atas mejaku. Di bagian paling atas dan laporan tentang pengeluaran hotelku di London. Amat sangat berkembang pesat dan tak banyak pengeluaran untuk tahun ini. Wanita yang telah mendekam di penjara itu ternyata sangat lihai dalam pekerjaannya. Pantas saja dia tak menikah-nikah. Dia saja workholic.
Tokkk..., tokkk....,
Kudengar pintu ruanganku berbunyi. Bayangan yang aku kenal karena lekuk tubuhnya. "Clara masuklah," ungkapku dan mendapati wajah Clara di balik pintu. Dia masuk ke dalam ruanganku seperti biasa membawa secangkir kopi tanpa pemanis.
"Terima Kasih," kataku dan dia mengecup pipiku secara tiba-tiba membuatku sangat marah padanya, tapi kucoba diamkan saja karena aku tahu dia akan semakin merayuku jika aku memarahinya.
Kini aku lihat dia sedang naik ke atas mejaku. Duduk di atas sana sehingga menampakkan pahanya yang putih mulus ke arahku. Dia mulai menggangguku lagi. Itu sangat menjengkelkan sekali. “Apa kau ada perlu denganku lagi? Pergilah dari ruanganku,” ungkapku padanya tegas, tapi benar saja Clara semakin menjadi.
“Apa kau selalu menolak seorang wanita hemm?” Dia menyentuh pangkal hidungku lalu tanpa aba-aba lagi dia menarik dasiku ke arahnya. Sangat tidak sopan sekali.Kemudian menarik tengkukku dan tak kusangka bibirnya mencium bibirku.
“Daniel,” suara seseorang lainnya kudengar membuka pintu ruanganku tanpa izin.
"Apa kau tidak punya sopan santun!" teriak Clara saat siapa yang kutemukann di ambang pintu.
Itu...,