Adinda

Adinda
Chapter 45



PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur


Daniel POV


Aku lihat rumah sudah terlihat sangat sepi sekali. Tak ada yang menyambutku bahkan Dinda yang sudah pulang tidak aku temui di depan pintu. Aku lihat di ruang TV Gilang sedang menonton bola. Stasiun TV sesore ini sudah menampilkan orang yang sedang berebutan bola.


"Dimana Dinda?" tanyaku saat dia sedang fokus berkomat-kamit menonton tayangan di TV.


"Eouhhh, ada di kamar. Dia bilang masih tidak enak badan," katanya membuatku sedikit khawatir dan segera pergi ke lantai atas untuk melihatnya. Namun langkahku terhenti saat melihat kamar anakku, Cleo terbuka. Aku masuk ke dalam ruangan bayi khusus Cleo. Dia sedang tidur nyenyak dengan wajah yang sangat menggemaskan. Aku pun mencium pelan pipinya yang kenyal itu. Rasanya ingin menciuminya berkali-kali karena khas bau wangi bayinya membuatku ingin terus di dekatnya.


"Gilang, dimana Matt?" tanyaku menanyakan keberadaan anakku yang tertua. Gilang diam saja tak menanggapi jawabanku dan berteriak "Sial! Seharusnya kau bisa menghadang jalannya, bodoh!" marahnya terlebih pada apa yang dia tonton.


Aku pun masuk ke dalam kamarku. Tak menemukan Dinda disana membuatku mengernyitkan alisku. Mungkin dia ada di kamar mandi. Aku pun mengetuknya pelan dan tak menemukan Dinda. Aku mencoba masuk ke dalam dan membuka tirai yang menutupi bath up di kamar mandiku. Disitulah aku menemukan seorang perempuan yang tengah meringkuk memeluknya sendiri di bawah guyuran shower yang tak terlalu deras, tapi cukup membasahi baju yang dia pakai.


"Dinda!, apa yang kau lakukan!" aku pun menghampirinya dan mengangkat tubuhnya jauh dari sana. Dia tampak kedinginan dan hanya seperti patung yang tak berbicara apapun saat aku menurunkannya ke atas kasur.


"Hei apa yang kau lakukan di kamar mandi. Kau bisa mati kedinginan Dinda!" kataku dengan nada yang amat sangat khawatir. Yang pasti itu sangat membuatku shock melihatnya berada di bawah sana. Dinda bergeming dan tak memberi jawaban atas pertanyaanku.


Melihat dia yang diam saja dan melemparkan pandangannya ke arah kakiku yang ada di bawah. Aku pun berusaha membuka bajunya. Dia bisa saja sakit kembali jika tidak aku ganti bajunya.


"Jangan sentuh aku!" ucapnya datar. Bahkan ini sangat datar. Wajahnya yang tidak pernah biasanya seperti ini mendadak membuatku takut.


Aku masih bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Kenapa seperti ini? Dia membuatku bingung.


"Dinda! Ayo aku bantu kau ganti baju," kataku lagi berusaha menyentuh bajunya tapi dia malah mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.


"Aku bilang jangan sentuh aku! Apa kau tak mendengarnya!" Mendadak aku sulit membuang nafasku. Semua air mata yang begitu saja mengalir di pipinya membuatku tambah khawatir dengannya.


"Ada apa Dinda?"


"Ada apa? Kau masih bertanya ada apa? Setelah kau membohongiku bahwa kau pernah menghamili Clara, kau masih bilang ada apa?" teriaknya padaku dengan air mata yang semakin deras dan berdiri dengan kaus basah yang mencetak tubuhnya.


"Kau bilang tak akan pernah berbohong padaku, tapi nyatanya."


"Aku tidak melakukannya, Dinda!" bantahku


"Kau melakukannya!" balas Dinda


"Bagaimana bisa aku percaya kau tak melakukannya kalau nyatanya wanita itu masih ada di sampingmu. Itu semua karena kau melakukannya, brengsek!"


"Demi Tuhan Dinda aku tidak melakukannya! Aku tidak berbohong padamu! Aku tidak pernah menghamili Clara!"