Adinda

Adinda
Chapter 13



Daniel POV


Setelah memastikan brankas yang Belinda maksud. Aku pun asyik dengan belanjaan di tanganku. Tak lupa membeli bahan makanan yang akan memenuhi kulkasku. Kemudian membeli beberapa es krim dan cemilan untuk Dinda. Bukankah wanita sangat suka es krim dan cemilan. Oh ya aku juga membeli bahan-bahan untuk membuat kue karena kemarin aku sudah mencoba kue buatan Dinda dan itu sangat enak sekali.


Aku tidak menyangka kalau uang di brankas cukup banyak. Aku juga tidak menyangka kalau saham itu masih Belinda urus dengan seimbang. Masih sama seperti dari terakhir aku pegang dan itu malah terlihat jauh lebih baik. Karena itu saat aku datang ke kantor. Tak ada niat sedikit pun untuk memecat mereka--- karyawan yang Belinda pekerjakan. Meski dari sebagian dari mereka ada juga pekerjaku dulu. Mereka terlihat histeris dan menyalamiku, tapi satu yang terlihat aneh saat aku datang.


Wanita bernama Clara---sekretaris Belinda itu nampak bersemangat sekali membantuku membongkar semua dokumen-dokumen yang ada. Dia bahkan terlihat begitu membantuku untuk segera nyaman di kantor. Padahal aku hanya ingin melihat-lihat saja, tapi dia sudah menyodorkan berkas yang harus aku tanda tangani. Bahkan nama-namanya segera dia ganti dengan namaku. Dia begitu gesit dan memang seekor ****** pasti akan segera menurut pada Tuannya. Jadi, aku mewajarkan sikapnya padaku.


Mobil kulajukan menuju kampus Dinda. Aku berjanji akan menjemputnya dan mungkin lebih baiknya jika aku mengajaknya untuk makan di luar. Uang di rekening sudah cukup penuh dan di dompetku pun begitu.


Hpku berdering menampilkan wajah keponakanku. Aku segera mengangkatnya dan menggunakan headseat karena sedang fokus dengan perjalanan. Terdengar suara dari sebrang sana.


“Daniel!” teriak Gilang membuatku terkejut mendengarnya. Suaranya mampu merusak gendang telingaku hanya dalam sekejap saja.


“Slow down, Bro. Aku masih bisa mendengarmu dengan baik," kataku lalu kudengar kembali tawanya.


“Apa benar wanita itu sudah tertangkap, hah? Jangan coba membohongiku,” katanya membuatku sangat ingin memukul kepalanya. Dia memang selalu meragukanku. Padahal aku mampu menjadi detektif. Tidak tahu saja dia kalau aku ini multi talent.


“Apa aku perlu mengirimi uang untukmu, agar kau kembali ke rumah?”


Gilang kembali tertawa. “Aku akan kembali ke rumahmu, Daniel. Tunggu saja kedatanganku,” betapa senangnya aku mendengar ini. Rasanya rumahku akan kembali hidup karena ada dua pemuda yang membangunkan sisi mudaku kembali.


...................................


Aku menunggu Dinda di depan kampusnya sangat lama. Jam sudah berganti menjadi pukul 6 sore dan Dinda tidak juga menunjukkan keberadaannya. Aku masih setia menunggu hingga setengah jam berlalu pun dia tidak menunjukkan dirinya. Apa seperti ini rasanya mengkhawatirkan orang yang kutunggu. Perasaan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan karena tak ada satu pun yang harus kutunggu lagi setelah terakhir Mia meninggal. Sekarang kembali aku rasakan saat aku bertemu Dinda. Rasanya ingin segera melihat keberadaannya dan memeluknya karena pikiranku mulai berkelibatan kemana-mana. Rasa traumaku mulai terasa kembali menghantuiku.


Dulu pun aku menunggu Ibuku di depan gerbang perusahaan Ayahku. Ayah bilang tidak bisa mengantar Ibuku pulang karena ada beberapa hal yang akan Ayah selesaikan hingga malam. Aku menunggu Ibu sampai kembali menghubungi Ayahku. Ibu tak mengangkat teleponnya dan ternyata..., siapa yang tahu kalau Ibu dibunuh. Aku terus menghubungi Ayahku dan suara menyeramkan terus menggeliang di telingaku setiap malam.


Kakiku mulai bergetar hanya dengan mengingat itu. Mungkin lebih baik aku bertanya pada mereka yang masih terlihat asyik ngobrol dengan temannya. “Selamat sore, Nona. Apa kau mengenal Adinda Agustin?” tanyaku. Kulihat mereka saling berbisik kemudian tertawa pelan dan kembali memperhatikanku dari atas hingga ke bawah.


“Apa ini pacar Dinda yang baru? Waahhhh pantas saja dia memutuskan Mika.” Kudengar suara mereka yang menggosip membuatku meninggalkan mereka.


Apa Dinda seterkenal itu di kampusnya. Bahkan hubungannya yang kandas harus digosipkan dengan teman-temannya. Aku pun memutuskan untuk pulang saja. Mungkin Dinda sudah di rumah.


.


.


.


HAYO!! JANGAN DIAM AJA, KOMEN DONG :(