
"Ya aku gila karenamu," aku mendekat ke arah mereka.
"Karena aku? Ohhh kau benar-benar gila", Daniel berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya. "Kau bisa mati bodoh!" teriak Daniel membabi buta. Aku pun mengelus pelan perutku yang membuncit ini. Memperhatikan perseteruan mereka yang entah mengapa menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang berbeda.
"Aku lebih baik mati dari pada menanggung anak ini sendirian," dia mulai terisak. Menitihkan air matanya dan mengelus perutnya seperti yang aku lakukan.
"Maksudmu?" Daniel mengernyitkan alisnya dan saat itulah jantungku mulai berdetak kencang.
"Maksudku?" Nafasku tak beraturan layaknya tak bisa menerima oksigen yang ingin masuk. "Maksudku, aku hamil anakmu!"
"Apa?" aku mendekat ke arah wanita itu dan menamparnya dengan sangat refleks. "Jaga ucapanmu wanita ******!" Teriakku berapi-api. Aku jadi semakin ingin menarik rambutnya hingga lepas dari akarnya. Apa dia gila!. Dia hamil anak Daniel, tidak!, tidak mungkin!.
"Aku hamil anakmu Daniel. Apa kau tidak ingat apa yang sudah kau lakukan sebulan yang lalu di club malam. Kau memperkosaku."
"Tidak! Aku tidak pernah melakukannya," hatiku retak mendengarnya. Daniel memperkosa wanita ****** itu? Tidak mungkin Daniel melakukan itu. Bahkan terakhir yang aku lihat saat di kantor wanita itu tampak menggodanya, itu kan yang Daniel katakan padaku. Aku tahu ini hanya leluconnya saja.
"Jangan memperkeruh otak istriku Clara! Pergilah dari sini. Demi tuhan aku tidak pernah melakukan apapun padamu. Aku tidak-"
"Kau tak mengingatnya karena kau sedang mabuk Daniel."
Prakkkkk, untuk ke dua kalinya aku menamparnya. Aku seperti sedang dikuasai oleh api yang membara.
"Ayo kita pulang, Sayang. Kamu gak boleh capek," suara Daniel tak kupedulikan lagi dan aku menghampiri Clara yang sedang mengeluarkan air mata palsunya.
"Kau pasti berbohong. Kau tidak hamil. Kau berbohong pada kami agar Daniel mau menikahimu ya kan," aku mengoyak bahunya dan menarik rambutnya. Andai dia tahu bahwa ibu hamil sangatlah sensitif untuk di hadapi. Aku tak peduli bagaimana dia meringis kesakitan yang pasti aku puas bisa menyiksanya seperti ini.
"Dinda, cukup Dinda. Ini di depan umum," Daniel menarik tubuhku untuk menjauh dari tubuh clara, tapi aku tepis dan menarik rambut Clara dengan lebih keras
"Dinda! Apa kau tidak dengar kata-kataku?!" Daniel terus memintaku untuk melepasnya dan aku pun mulai menghepasnya dengan kasar hingga Clara terplanting ke atas aspal dan kepalanya membentur pembatas parkiran.
"Hah?" aku menutup mulutku shock melihat apa yang aku lakukan. Sebuah darah keluar begitu saja dari kepala Clara dan lebih parahnya lagi aku bisa lihat bahwa ada darah yang mengalir di pahanya. Apa benar dia hamil? Apa dia hamil anak Daniel?
............................................
Aku bertanya tentang itu pada Fika, tapi Fika mentakan tidak tahu jelas tentang itu sebenarnya. Aku bertanya pada Gilang pun begitu, tapi dengan kata-kata Gilang entah kenapa aku merasa bahwa Gilang seakan membenarkannya. Ingatan itu seakan tiba-tiba berkelibatan di dalam pikiranku dan aku pun tak pernah merasa asing tentang itu.
Lalu jika saja itu benar, apa mungkin Daniel benar menghamili Clara? Apa benar mereka tak pernah berhubungan apapun? Kenapa Daniel tak bercerita tentang ingatanku yang itu? Lalu kenapa Gilang baik Fika tidak ada yang tahu itu?
Aku tahu itu masalah kami ber dua, tapi kenapa Daniel tak mau menjelaskannya. Dia bilang tidak akan ada yang dia sembunyikan dariku, tapi Daniel memang seperti tidak ingin mengembalikan memoriku. Memang apa yang dia sembunyikan?
.......................................