
"Ya ini anak kami yang ke dua," aku menutup mulutku. Anak ke dua dan itu berarti anak yang aku gugurkan itu anak dari laki-laki yang berada di sampingnya. Itu berarti Daniel memang tak pernah melakukannya.
"Maafkan aku Dinda. Aku tahu, aku salah. Karena itu, dulu aku bermaksud pergi dari kalian karena aku rasa kita punya balasan yang setimpal. Kau tidak perlu meminta maaf saat itu. Karena kesalahanku lah kalian terus mengalami masalah berat."
Aku menalan salivaku susah payah tak mengerti apa yang dia jelaskan.
"Dia Demian, pacarku yang pernah Daniel jebloskan ke penjara. Saat itu aku merasa frustasi karena kehilangannya. Aku tahu Demian adalah body guard dari wanita yang membunuh mantan Daniel dulu. Kalau kau pernah melihat Daniel babak belur. Itulah pekerjaan Demian," aku memijit pelipisku.
Ya saat itu Daniel pulang setiap malam dan suatu hari aku menemukannya yang babak belur hampir seperti orang yang mau mati. Waktu itu aku sangat mengkhawatirkannya dan menungguya setiap malam utuk memastikan dia tak babak belur kembali. Hingga dia membawa sebuah belanjaan yang amat sangat banyak dan memberi tahuku bahwa dirinya berhasil menjebloskan orang yang membunuh pacarnya.
"Setelah kepergian Demian aku berusaha untuk membuat hidup Daniel berantakan. Aku menggodanya saat hari pertama kami bekerja. Kami pernah pergi ke club dan segalanya kulakukan, tapi Daniel tak juga terpengaruh.”
"Sebulan setelah itu aku hamil. Hamil anak Demian. Umur kandunganku hampir dua bulan dan aku tidak tahu kepada siapa aku harus bercerita. Aku merasa sedih kehilangan Demian, tapi aku sangat bahagia karena anak dari yang orang aku cinta akhirnya akan hadir di kehidupanku. Namun saat itulah aku merasa semakin kuat ingin membalas dendam pada Daniel. Dia telah menghancurkan kebahagiaanku dan aku ingin dia juga hancur," dia menarik nafasnya dan aku masih setia mendengarnya.
"Hari pengakuan itu terjadi begitu saja. Aku keguguran dan memutuskan untuk meninggalkan kalian setelah kehilangan anakku. Beberapa tahun berlalu dan Demian datang menjemputku yang sudah menetap di Australi untuk beberapa tahun. Aku kaget dengan keberadaannya. Dia bebas karena Daniel."
"Karena Daniel?" aku mengangkat alisku, bingung.
"Daniel menebusnya dengan uang untuk permintaan maafnya atas namamu karena tak sengaja menggugurkan kandunganku. Dia meminta aku memaafkanmu," aku menghela nafasku sejenak. Rasa sakit ini tak bisa kutahan. Rasa bersalah pada Daniel karena berapa malam yang lalu kami bertengkar. Aku menyalahkannya. Seharusnya aku yang meminta maaf pada Clara, tapi Daniel yang menebus kesalahanku.
"Sekarang di mana Daniel. Aku harus meminta maaf padanya," kataku yang tak terasa air mata ini menetes begitu saja membasahi pipiku.
Clara mengangkat bahunya. "Dia orang yang sangat baik. Aku yang terlalu buta untuk melihat sebuah kebaikan dari sisi Daniel. Dia selalu berusaha yang terbaik untuk semua orang di sisinya. Meski aku rasa menjadi orang yang baik itu sangat sulit. Namun Daniel terlihat sangat sulit aku mengerti.”
Clara benar. Daniel sudah berusaha yang terbaik untukku.. Dia terlalu bodoh untuk menutupi masalah ini. Jadi, apa yang dia pikirkan selama ini. Apa dia taukt aku tak mempercayainya kalau bayi yang Clara kandug waktu itu bukan anaknya. Ya memang kemarin aku sempat berpkiir seperti itu. Namun adanya penjelasan yang real seperti ini malah membuatku terpuruk. Aku orang yang paling jahat karena sudah membuat suamiku pergi dari rumah.
"Apa kau benar-benar tidak tahu di mana Daniel? Dia sudah tiga hari ini tidak di rumah," kataku mengusap air mataku dan menormalkan isak tangisku.
Clara mengangkat bahunya lagi tak tahu. "Kau yang mungkin tahu di mana dia berada. Tidak mungkin masa terindahmu bersamanya kau lupakan juga. Kau pasti tahu di mana dia menenangkan dirinya," mendengar itu aku mulai berusaha mengingat. Di mana dia sekarang?
Pantai kah?
Taman kah?
Sepertinya tidak. Dia tidak suka itu semua. Apa mungkin dia....,
Aku akan pergi dengan Fika. Kau bisa kan jaga anakku hingga Gilang pulang.
Clara membulatkan matanya lalu menoleh ke arah calon suaminya. "Ya kami akan menjaganya," kata Demian dengan tarikan senyuman yang tak aku kira kalau dia tak seberingas yang aku pikirkan.
...............................................
Sudah mau ending^^ Terima kasih sudah baca karyaku^^ LOVE untuk semuanya