
"Yang aku tahu, semua orang punya sisi pandangnya masing-masing dalam menilai orang," ungkapnya. Apa karena itulah saat aku bilang Daniel itu bejat tapi dia justru bilang bahwa suaminya itu sempurna. Aku hanya berpikir bahwa semua amarahku hanya akan menghantui pikiranku, tapi hatiku...," ada jeda di kalimatnya membuatku berdiri ke arahnya.
"Aku tahu hatimu tak bisa bohong kalau rasa cintamu itu sangat besar di banding kau yang harus membuka hatimu sendiri untukku," aku mencium puncak kepalanya. Dia terlihat kaget dan memperhatikanku yang berdiri di sampingnya.
"Kau?"
Aku menatapnya lalu tersenyum.
"Kau menyukaiku?" ternyata tebakanku salah. Ternyata dia tidak ingat kalau aku hampir menikahinya jika saja dia tak menolaknya.
"Ya bukan hanya menyukaimu, tapi aku mencintaimu dan menyayangimu untuk selamanya. Bahkan hingga nanti aku punya cucu meski itu bukan darimu," aku mengacak rambutnya dan hampir meninggalkannya kalau saja tangan yang terasa dingin itu tak menarikku.
Aku menoleh ke arah Dinda yang tengah duduk di atas kursi meja makan. "Gilang, aku mohon!" ada sebuah pancaran yang berbeda di bola matanya. Dia benar-benar memohon padaku. Jadi, permohonan seperti apa? Apa dia akan memintaku menikahinya? Entah harapan dari mana itu tiba-tiba muncul menghampiriku.
"Aku mohon kau mau membuka hatimu untuk Fika."
Untuk Fika? Aku kira dia ingin aku menikahinya. Ternyata benar, pernikahan itu bukanlah sebuah permainan yang bisa kapan saja kita lepas dan mencari yang lain. Untuk mengenali seorang Dinda. Aku tahu Dinda mempertahankan rumah tangganya yang serupa sekali dikatakan seperti telur yang mudah pecah. Namun Dinda dengan hatinya, meneguhkan bahwa kebahagiaannya terletak pada senyuman dua malaikat yang dia miliki sekarang. Cleo dan Matt---anak dari Daniel.
"Dia menyukaimu. Kau pasti tahu bagaimana rasanya perasaanmu jika tak diterima oleh orang yang kau sukai. Itu sesak bukan!" mendengar itu secara tak langsung aku mengiyakan kata-katanya.
"Dia mencintaimu Gilang."
Aku menghela nafasku sejenak dan menormalkan desiran darah yang mengalir cepat. Apa aku benar-benar harus membuka hatiku untuk wanita lain.
"Gilang-"
"Baiklah. Aku akan mencobanya mulai dari hari ini," kataku tersenyum ke arahnya dan kembali mengecup puncak kepalanya.
Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam hati aku berterima kasih padanya karena selama ini sudah membuatku mengerti apa itu arti cinta. Dia telah mengajarkanku bertahan, percaya dan juga meredam emosi.
.....................................................
Benar saja kata Dinda tadi. Kata-katanya entah kenapa mempengaruhiku. Aku malah sungguhan datang ke rumah Fika dan melihat dia sedang sibuk memainkan komputer dengan Matt dipangkuannya. Dia terlihat sangat keibuan sekali, karena umurnya yang sudah terbilang cukup matang.
“Hai, aku tidak tahu kau ke sini.” Kubuyarkan lamunanku dan mendapatkan Fika yang sedang berdiri menghampiriku.
Aku pun berjalan ke arahnya dan Matt nampak senang dengan kedatanganku. Anak laki-laki Dinda itu langsung nempel padaku minta untuk di gendong.
“Tumben sekali pulang kerjaa ke sini,” ungkap Fika dan aku pun setuju dengan kata-katanya, karena aku pikir pun begitu. Aku jarang sekali ke rumahnya, karena ya... aku pikir untuk apa juga. Toh Matt akan sesekali dia bawa ke kantor jika Daniel menyuruhnya untuk membawanya. Fika begitu pengertian dengan Daniel dan ini bentuk sayang Fika terhadap Dinda yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya.
Kulihat arsitektur rumahnya cukup mewah. Kudengar Fika memang lahir dari keluarga yang berada. Dia juga sekarang sudah menjadi desainer yang terkenal. Sepertinya tidak buruk juga untuk melatih diriku lebih dekat dengannya. Benar kata Dinda, kalau seharusnya aku memulai membuka hatiku pada wanita lain.
“Ini minum, kau pasti lelah.” Ungkap Fika lalu memberikan Matt sebuah buku. Dia membukanya seraya menunjukkan Matt untuk mengerjakan halaman yang sudah ditandai sebagai tugas rumah.
“Apa kau sangat menyukai anak kecil?” tanyaku.
“Tentu saja, siapa pun juga begitu.” Jawabnya tanpa mengalihkan dari pandangannya ke buku Matt. Dia terlihat menunjuk-nunjuk sesuatu agar Matt mengikuti arahannya lalu Fika melirik ke arahku.
“Jadi, ada apa kau ke sini?” tanyanya menimbulkan tawa dari bibirku.
“Apa ada yang lucu? Kenapa kau tertawa?”
Aku tertawa sekali lagi dan memperhatikannya yang melihatku denga tatapan kesal. “Ya tentu saja aku tertawa. Memangnya kalau aku datang ke sini harus memiliki tujuan yang jelas?”
“Habis kau tumben sekali datang ke rumahku. Bukankah kau tidak pernah berniat berkunjung ke sini,” katanya seperti memanyun-manyunkan bibirnya membuatku mendengus pelan.
“Yasudah kalau begitu aku akan sering ke sini bagaimana?”
Fika memperhatikanku dan mencibir pelan. “Apa kau sedang bercanda? Apa kau sedang tidak ada kerjaan? Kenapa juga kau harus ke sini. Lagi pula aku lihat Dinda sudah terlihat sehat. Dia pasti ingin Matt kembali ke rumah.”
“Heii apa kau kira aku ini ke sini karena Matt?”
“Ya tentu saja, lalu apa lagi kalau bukan karena itu?”
“Ya karena aku ingin melihatmu,” ungkapku membuat Fika terdiam menatapku.
Aku pun saah tingkah dibuatnya dan beberapa detik berlalu kami mulai terlihat salah tingkah.
“Oh ya Matt tidak bisa tidur larut malam.” Ungkapnya cepat---sangat cepat---kelewat cepat sampai-sampai aku ingin tetrawa melihatnya yang salah tingkah. Padahal umurku kami sudah tua, tapi kami seperti baru mengalami yang namanya jatuh cinta.
“Baiklah aku pulang.” Kataku seraya mengacak puncak kepalanya lalu mencium kepala Matt yang berada di sebelahnya.
“Aku pulang ya jagoan,” kataku pada Matt dan Matt pun melambaikan tangannya.
“Hati-hati jagoan,” kata Matt tersenyum begitu pun Fika yang mengantarku hinggaa ke pintu.