
"Apa kau sedang marah denganku, Sayang?" ungkap Daniel seraya menyandarkan dagunya di atas bahuku. Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawabnya.
"Aku rasa kau sedang berbohong," katanya. Aku pun mencuci tanganku membereskan semuanya.
"Aku tidak berbohong," kataku lalu meninggalkannya setelah menyingkirkan tangannya dari pinggangku.
"Yasudah kalau begitu biar aku yang antar ke kampus," katannya dan entah kenapa aku mengangguk reflek meski tak ada senyuman di bibirku.
"Yahh..., bukankah Dinda akan berangkat denganku. Hei, Pak Tua kenapa kau mendadak berubah pikiran," protes Gilang membuatku di dalam hati terkekeh mendengarnya.
"Hei lihatlah. Dinda lebih memilihku dari pada kau. Dasar anak muda!" kudengar dia memaki keponakannya dan aku sudah berjalan ke arah teras menunggu Daniel.
Sejenak HP-ku bergetar. Aku men-slide layar HP-ku saat melihat Ayah mengirimi pesan untukku.
Bagaimana kabarmu Sayang. Ayah sangat merindukanmu. Ayah akan pulang secepatnya. Kau harus jaga baik-baik kesehatanmu. Jangan membuat repot Daniel. Kau harus sopan dengannya. Ayah akan sangat, sangat merindukanmu.
"Kenapa kau tersenyum, tadi kau enggan tersenyum," kudengar suara Daniel. Keluar dari rumah minimalisnya dan menyambar mobil diikuti aku duduk di samping kemudinya. "Kau senang ya aku yang antar," katanya membuatku mendengus pelan.
"Terlalu kepedean," kataku.
Daiel pun terkekeh pelan seraya mencoba memutar kuncinya. “Apa kau selalu marah seperti ini? Apa kau marah karena tidak aku antar?” tanyanya membuatku menggelengkan kepalaku meski sedikitnya aku juga kesal dengan itu.
“Lalu?”
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa?” tanyanya. Dia memutar kemudinya dan kami melandas pergi membelah jalan raya pagi ini.
“Semalam kau kemana?” tanyaku. Dia pun tersenyum mesam. Kemdian melirikku seakan mencurigaiku, bahwa aku memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Tak kusangka kau begitu posesif.”
“Aku serius Daniel.”
“Ohh baiklah. Aku ke club dengan sekretarisku...,” aku melotot ke arahnya sangat kaget mendengar pengakuannya.
“Ehh tunggu, tapi aku dengan temanku. Kemarin dia sudah membantuku menangkap Belinda. Jadi, aku mentratktirnya.”
Kudengar dia tertawa meski masih dalam fokusnya menyetir. “Aku saja tidak tahu kalau itu ada di sana, tapi sungguh aku tidak melakukan apapun. Aku berani sumpah!” Ungkapnya membuatku menghela nafasku sendiri.
Semoga saja Daniel tidak berbohong padaku, karena jika itu terjadi. Entah ke berapa kalinya, aku akan merasa dikhianati oleh seorang pria.
......................................
Aku seperti mengenal orang itu. Pria itu seperti Gilang. Dia tengah mengenakan earphonenya meski banyak wanita yang memperhatikannya secara diam-diam. Mereka saling berbisik seraya mempertontokan keponakan Daniel itu.
Jadi dia satu kampus denganku? Kenapa dia tidak bilang kalau memang akan kesini. Kalau begitu tadi aku pergi dengannya saja. Bukan dengan Daniel yang malah sengaja mengedipkan matanya padaku sebelum aku boleh turun dari mobilnya. Untung saja aku tidak terlalu lama terbuai dengan wajahnya, kalau iya mungkin aku bisa telat masuk.
"Gilang!" panggilku. Dia tidak mendengarku yang ada Gilang malah menganggukkan kepalanya, menikmati lagu yang ada di HP-nya. Aku berjalan menghampirinya. Lalu menepuk pelan bahu Gilang.
Gilang terkesiap melihatku lalu mulutnya terbuka hingga dia mengerjapkan matanya perlahan. "Gilang," katanya menyodorkan tangannya padaku membuatku terkekeh.
"Aku tahu kau Gilang," kataku mengibaskan tanganku di depan wajah.
Dia melepas earphonenya lalu menyapu pipiku dengan lembut. Membuatku mengernyitkan alisku. "Kenapa?" kataku dan dia membuyarkan lamunannya sendiri.
"Ahhh ini benar kau Dinda," katanya membuatku tertawa kembali melihat tingkahnya yang konyol. Aku pikir wanita yang tadi tengah memperhatikannya, pasti akan langsung melihat Gilang dengan ilfeel.
"Jadi kau di sini juga?" tanyanya dan aku mengangguk pelan. "Kalau begitu kau berangkat denganku saja tiap hari," tawaarnya
"Boleh. Aku tidak akan meminta antar dengan Pak tua itu lagi," bisikku kemudian dia tertawa dan menyampirkan tangannya ke bahuku.
"Jadi, kau mengambil jurusan apa di sini?" tanyanya. Kami berjalan di koridor dan entah kemana dia melangkahkan kakinya juga menyeretku secara tidak langsung dengan tangannya yang menyampir di bahuku.
"Aku ambil Managemen Pendidikan, kau?"
"Emm kalau begitu sama. Mungkin ada beberapa pelajaran yang akan sekelas denganmu. Ahhh senangnya bisa melihat bidadari sepertimu," katanya seraya mendongakkan kepalanya dan menatap ke langit-langit. Aku mencubit pinggangnya dan dia meringis kesakitan.
"Sakit," katanya menyingkirkan tangannya dari bahuku.
"Oh ya, nanti aku lihat catatanmu ya," aku mengangguk pelan lalu menarik tangannya ke arah keramaian. Permainan basket akan di mulai. Aku akan lihat mantanku---Mika, bermain dengan lincahnya secara diam-diam.
..............................