
Wanita itu masih bergelut dengan komputernya. Aku sedikit melirik ke arahnya saat mau meninggalkan ruangan. Pulang lebih cepat dan berendam dengan air panas sepertinya nikmat.
Aku merapikan semua berkasku sejenak, lantas aku izin pada Clara untuk pulang. Dia terlihat mengabaikanku saking sibuknya. Aku pun berjalan ke tempat parkir mobilku. Saat menemukan mobilku, aku segera naik ke dalamnya dan menutup pintu mobilku kemudian menyalakan mesinnya.
"Tok... tokk..." Aku melihat ke arah luar.
"Clara?" aku pun segera menurunkan kaca mobilku. Sekretarisku itu menunjukkan wajah tirusnya dan tersenyum ke arahku.
Entah kenapa malas sekali menanggapinya. Dia terlihat masih tak ingin gagal mendekatiku dengan senyuman yang sudah kuperkirakan kalau itu bukan senyuman yang baik untukku.
"Apa aku bisa menumpang," tanyanya sebelum aku berbicara. Dia sudah membukanya dan duduk di samping kemudiku. Dia tersenyum dan mengibaskan rambutnya ke arah belakang.
"Hhhh ternyata hari ini melelahkan juga. Aku kira ini akan berakhir setelah bossku ganti," ungkapnya membenarkan poninya yang nampak basah.
"Ha ha ha tenang saja, semuanya akan lebih mudah. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan. Ada kalannya kau harus meregangkan tubuhmu," kataku lalu melajukan mobil meninggalkan parkiran mencoba untuk tidak lagi sedang menghindar dari wanita kecentilan ini.
"Eouhhh aku harap bisa begitu," katanya kemudian melirik ke arahku.
"Ohh ya Mr. Rafadinata. Maaf, aku dengar umurmu 35. Apa itu benar?" Aku melirik ke arahnya. Ada sinar yang tidak bisa dia percaya. Benar kan kataku. Wajahku ini memang lebih muda dari umurku. Tidak akan ada yang pervaya kalau aku udah berkepala tiga.
"Ahhh lupakan," dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Mereka memang sering menggosip. Tenang saja, aku tidak akan menggosip dengan mereka," katanya dan aku hanya terkekeh menggelengkan kepalaku. Ternyata bicara dengannya, tak buruk juga setelah aku pikir-pikir kembali.
"Mereka benar. Umurku 35 tahun," kataku dan Clara nampak menganga lebar, tapi sedetik kemudian dia tertawa ringan.
"Saya kira, hanya di Korea saja umur tua tapi wajah awet muda, tapi ternyata di Indonesia pun bisa lihat laki-laki tampan seperti bapak ini," katanya yang entah kenapa terdengar seperti tengah menggodaku. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dan kembali menatapku dengan penuh arti.
“Di mana rumahmu?” tanyaku setelah gerbang terbuka dan seorang satpan melambaikan tangannya padaku sebagai sapaan santai. Aku tersenyum merundukkan pelan kepalaku dan memperhatikan Clara yang masih menatapku.
“Clara...,”
“Oh maaf, aku..., aku terlalu laa mengagumi wajah bapak," katanya lagi-lagi semakin terang-terangan dan aku hanya mampu menggelegkan kepala. Wanita ini memang cukup cantik, seksi juga, tapi...
“Bagaimana kalau kita ke club sebentar. Sekedar untuk bersulang dengan kedatanganmu," katanya dan aku jadi teringat dengan Four. Aku pun belum membalas jasanya itu. Aku belum bisa menghubunginya karena nampaknya dia sibuk sekali.
“Bagaimana?” tanya Clara lagi.
“Hmmm boleh saja, tapi aku tidak bisa terlalu larut pulang malam," kataku mengingat Dinda pasti akan sangat mengkhawatirkanku. Kalau aku tidak pulang, dia pasti tidak akan tidur lagi.
"Baiklah, ayo kita ke Capitalz Bar! Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku yang lain," kata Clara yang anehnya membuatku merasa tidak enak tapi juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku untuk bertemu dengan para wanita cantik di luar sana.
..............................................
AS ALWAYS! JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN!!