
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Rasanya aku bisa menghirup udara segar lagi saat keluar dari rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah memperbolehkanku pulang dan Gilang dengan senang hati menjemputku karena Daniel yang sibuk meeting dengan clientnya.
"Apa kau mengingat bagaimana bagunan rumah kita?" tanyanya seraya melirik ke arahku yang duduk di samping kemudinya. Rasanya aku rindu tinggal di rumah. Sudah terlalu lelah dan tidak nyaman tinggal di rumah sakit hanya akan membuatku semakin lemah dalam mengingat semua ingatanku.
"Ya, sedikit. Yang pasti aku ingat bahwa rumah kita ada kolam renangnya," kataku pada Gilang mengingat bahwa di tempat itulah seorang Gilang---keponakan suamiku mencium bibirku hanya untuk memberi pelajaran pada Daniel. Ahh mengingatnya hanya membuatku menjadi seorang ibu-ibu labil.
Gilang terkekeh di balik kemudinya. Dia pun membenarkan tempat dudukku sejenak dan menarik seatbelt ku saat aku sedang sibuk memperhatikan Cleo yang kesulitan menyusu. Air ASI-ku masih kurang lancar sekali, tapi setidaknya dikit demi sedikit keluar.
"Tentu kau ingat. Di sana ada banyak kenangan antara cinta segitiga yang kita alami," katanya membuatku ikut tertawa lagi. Lantas aku membenarkan bajuku yang tertutup dengan syal yang aku pakai.
Aku menimang Cleo yang mulai terlihat sudah tidur nyaman setelah aku susui.
"Kau ibu yang baik, Dinda." Tiba-tiba saja Gilang berbicara seperti itu padaku. Membuatku sedikit mengernyit ke arahnya. "Setidaknya kau adalah satu dari 1.000 orang yang bisa menghadapi amarahmu sendiri. Kau jauh lebih bisa mengontrol dirimu sendiri. Kau sangat sabar Dinda."
Aku menatapnya lekat dari samping dia mengemudi. Kau sangat sabar Dinda!. "Ya karena kata Ayahku, sabar itu tak ada batasnya karena itu aku selalu berusaha menjadi orang yang baik."
"Tapi kau terlalu baik," aku mengernyitkan alisku sejenak. "Maksudmu?"
"Aku hanya tak mau menanam sebuah benih yang salah. Bagiku, cukup Matt yang menjadi korban yang tumbuh dari sebuah benih yang salah dari orangtuanya,"
Itu kesalahan yang besar di hidupku dan aku tidak mau akan ada tanaman lainnya yang salah di dalam hidupku. Aku takut bahwa apa yang aku tanam akan berbuah pada sesuatu yang tidak baik untuk anakku.
"Kau ingat pribahasa yang mengatakan bahwa tanaman akan menuai sesuai apa yang kita tanam?” tanyaku pada Gilang.
Gilang melirik ke arahku dan memperhatikan jalan raya kembali. "Ya setidaknya saat itu Cleo bisa menghadapi hal besar sekuat aku," aku mencium pipi Cleo yang mempunyai khas harum bayi. Dia menggeliat di tidurnya membuatku tersenyum bahagia memilikinya.
"Kalau saja Cleo tertanam dengan benih yang benar. Aku takut kalau Matt...,"
"Tidak-" dia mencelahku. "Dia masih bisa di bentuk pada usia dininya semuanya tergantung dengan orangtuanya."
“Apa dia tidak akan jauh dari orangtuanya?" Tanyaku
"Lalu jika kau tahu itu akan terjadi, apa kau akan diam saja membiarkannya," oktaf yang Gilang buat untuk berbicara ke arahku membuatku bungkam. Gilang benar. Aku dan Daniel masih bisa membentuk Matt agar tidak menjadi seperti orangtuanya kelak dewasa nanti.
Aku dengar Gilang menarik nafasnya. "Aku hanya berharap hubungan kalian baik-baik saja hingga tua nanti. Aku hanya berharap bahwa-" dia menghentikan kata-katanya dan menatapku sejenak.