
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Melirik ke arah kalender yang berada di atas nakasku. Ada beberapa tanda silang berwarna merah yang berati aku kosong untuk beberapa minggu ini. Aku baru sadar kalau jadwal bulananku tak teratur.
Hp-ku berdering. Sebuah telepon dari Fika dan aku segera mengangkatnya.
"Halo," di sebrang sana hanya mampu mengumpat dan aku tertawa.
"Iya..., aku ada di kamar kau masuk saja," ungkapku pada Fika yang ternyata dia bilang sudah ada di depan rumah dan tak mendapatiku di teras. Seharusnya aku menunggunnya di teras, tapi Ayah tak memperbolehkanku karena aku sedang tak enak badan. Itulah sebabnya Fika ngotot ingin datang ke rumahku.
Untuk kurun waktu 4 minggu sudah berlalu, aku tak mau mengingat kejadian seorang Daniel yang mencampakkanku. Fika benar, aku seharusnya menghukumnya dengan berpacaran dengan Gilang. Namun entah kenapa perasaanku tak tega jika menyakiti Daniel. Aku memang terluka, tapi aku tak mau melukai orang yang kusayangi. Lagi pula aku tidak mungkin memberi harapan pada Gilang. Dia keponakan Daniel, kalau saja aku memanfaatkannya. Aku bukan saja melukai Daniel, tapi aku juga melukai Gilang.
"Ahhh di luar hujan. Kau seharusnya menjemputku di depan jalan sana," kata Fika menceberutkan wajahnya ke arahku. Aku pun mempersilakannya duduk di atas ranjangku. Aku lihat dia sedang membuka mantelnya lalu menaruhnya ke pinggiran ranjangku.
"Kau sudah baikan?" tanyanya menyentuh keningku lalu menangkupkan tangannya di pipiku.
"Kau sudah berobat?" tanyanya lagi yang aku tanggapi dengan senyuman yang ku tahan.
Dia yang terbaik, pikirku. Setidaknya ada orang yang sangat menyayangiku setelah Ayah.
"Mmmm aku hanya merasa mual dan uek..., uekk..," aku berlari ke arah kamar mandi. Kemudian ke arah wastafel untuk memuntahkan sesuatu yang sedari kemarin keluar begitu saja.
"Dinda apa kau baik-baik saja?" kudengar Ayah yang muncul bersamaan dengan Fika di ambang pintu.
Aku mencuci mulutku di wastafel dan tersenyum ke arah mereka. "Ini hanya masuk angin. Ini kan musim hujan," kataku dan Ayah menaruh sebuah teh hangat untukku dan Fika.
"Kau harus banyak istirahat, Sayang," kata Ayah lalu berlalu meninggalkan aku dan Fika yang tengah memperhatikan kalender di atas nakasku. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Kuseruput teh hangat buatan Ayah. Ini pasti dia buat dengan jutaan rasa rindu yang sudah dia tumbuhkan di London.
"Apa kau sudah memeriksanya?" tanya Fika padaku dan aku menggelengkan kepalaku. "Ini hanya masuk angin, aku rasa karena kemarin kita pulang dari kampus tanpa pa-"
"Bukan!" Fika memotong kata-kataku dan menghadapkan tubuhnya ke arahku. Dia memegang kalender yang penuh coretan berwarna merah.
"Apa kau sudah memeriksa kapan terakhir kali kau datang bulan?" aku mengernyitkan alisku dan menganggukkan kepalaku.
"Aku telat hampir 2 minggu," kataku dan dia menutup mulutnya dan memelukku. Kudengar isak tangisnya. Dia membasahi bahuku dan mendadak jantungku berdetak lebih cepat. Aku menjauhkan tubuhnya. Cepat aku ke arah kamar mandi dan mencari sesuatu di atas etalase kamar mandiku.
Ini tidak mungkin. Aku yakin ini tidak akan terjadi padaku. Percayalah Dinda itu hanya telat datang bulan dan ini hanya sakit ringan.
"Dinda...," kudengar Fika menggedor pintu kamar mandiku. Aku mungkin harus memeriksanya. Sesuatu yang aku cari sudah kutemukan. Cepat aku mencoba mengeluarkan benda itu dari bungkusnya.
"Dinda...," Fika terdengar tengah menangis dan aku ikut tak karuan. Hatiku terasa menjerit dan terasa di remas dalam waktu yang bersamaan. Tidak mungkin aku ha...,
"Dinda...," kini yang kudengar suara Ayah. Aku menangis dengan perasaan yang hancur. Seharusnya aku tahu aku sedang mengandung anak dari laki-laki brengsek itu. Seharusnya aku sadar kalau ternyata kata-kata Daniel itu menghancurkan masa mudaku. Dia bahkan tak akan mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung, karena kata-katanya yang kemarin hanyalah dusta.
"Dinda..., buk..., bukkk...,"Ayah ingin menggebrak pintu kamar mandi tapi aku malah menangis. Apa yang harus katakan pada Ayah. Apa mungkin Ayah akan marah denganku. Apa aku tidak akan dianggap lagi sebagai anak dengan Ayahku.
"Dinda..., buka pintunya!" kudengar teriakan Ayah dan saat itulah aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang menampilkan wajah Ayah yang marah dan raut wajah Fika yang menangis sendu.
"Kau membuatku khawatir," Ayah memelukku dan aku menangis begitu saja di atas dada Ayahku. Seandainya waktu itu berputar kembali apa mungkin aku tidak akan mabuk bersama Daniel.
Seharusnya aku tahu bahwa hari ini akan datang dan seharusnya aku tahu bahwa ucapan laki-laki itu tak bisa di pegang dengan mudahnya. Seharusnya aku tahu!.
"Apa yang kau pegang?" kudengar Ayah bertanya. Dia menarik benda pipih itu, air wajahnya berubah sedikit demi sedikit. Dia marah padaku. Dia marah padaku!
"Siapa yang melakukannya Dinda?!"
Aku tak menjawab. Aku hanya menangis dan Ayah mengoyangkan bahuku. Suara tangisku bergema dengan suara hujan di luar. Begitu pun dengan Fika yang menahan tangisnya untuk tidak lebih keras dariku.
"Siapa yang melakukannya?!" teriak Ayah. Aku menundukkan wajahku. Apa mungkin aku Ayah akan segera mengusirku. Menyatakan bahwa aku bukan anak biologisnya.
"Siapa Din?!"
"Daniel," kataku.
Prak.., Ayah menamparku dan tepat saat itu suara petir menggelegarkan seakan menyambar hatiku yang kini tengah hancur.
"Kenapa kau tak mencegahnya. Kenapa kau malah diam saja!" Ayah ikut menangis. Air matanya berjatuhan begitu saja. Matanya mengeluarkan urat-urat merah yang aku tahu bahwa dirinya amat sangat kecewa pada anak semata wayangnya.
"Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tak ada yang tahu Ayah mengapa ini bisa terjadi, tapi aku..., a-aku mencintainya."
"Apa?"
"Aku mencintainya,"
Ya aku mencintainya dan dia tak mencintaiku hingga dia bermain dengan perempuan lain di belakangku setelah mengucapkan janjinya.
[...]
Btw, ini kan alurnya maju mundur, memang kalau yang asing, ini akan susah dimengerti. Nanti kalau udah selesai, kalian bisa baca lagi ulang. Kalau dibaca langsung habis, aku rasa kalian akan lebih paham^^