Adinda

Adinda
Chapter 37



PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur


Daniel POV


Aku memijat pelipisku yang terasa pening. Takut kehilangan tentu, tapi aku tidak bisa menjelaskan seluruhnya pada Dinda apa yang sebenarnya terjadi antara aku, Clara dan dia. Aku hanya takut Dinda terlalu memikirkan hal ini. Aku hanya takut kalau Dinda tak percaya padaku. Meski aku berkata jujur padanya, tapi ada hal lain yang aku tutupi. Ini sebuah kesalah pahaman yang mungkin bisa saja membuat Dinda berubah pikiran untuk berhenti mencintaiku.


Kau tahu bagaimana saat seseorang menelan duri ikan dan tak kunjung keluar dari tenggorokkan, meski dia sudah berusaha sekeras mungkin. Ya, mungkin aku ada di posisinya sekarang. Aku merasa bahwa duri itu menyiksaku. Aku berharap bahwa waktu dapat mengembalikanku di waktu yang aku inginkan saat Dinda tidak hilang akan ingatannya.


Rasanya sulit untuk mengingatkan hal yang paling susah untuk kami lalui saat beberapa tahun awal pernikahan kami. Aku tidak bisa mengembalikan rasa perih itu lagi pada Dinda. Aku hanya takut dia tidak lagi mempercayai kataku dan meninggalkanku.


Tokkk..., Tokkk...,


"Ya masuk," aku merapikan keadaanku yang mungkin terlihat berantakan.


Clara masuk ke dalam ruangan. Dia menaruh berkas bekas kemarin aku presentasi. "Hanya perlu memeriksanya sedikit," kata Clara padaku dan aku menganggukkan kepalaku.


"Tapi tidak ada masalah kan?" kataku dan dia menganggukkan kepalanya.


"Ohhh yasudah, nanti saya periksa."


"Kalau begitu saja permi-"


"Mmmm Clara sebentar," aku menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya ke arahku dan mengernyitkan dahinya.


"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


Aku menghela nafasku dan memejamkan mataku sejenak. Kemudian menegakkan tempat dudukku dan melempar pandanganku padanya yang sedang menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku.


"Kau tahu kan kalau istriku lupa ingatan."


Dia menganggukkan kepalanya. "Ya aku tahu itu pasti sulit bagimu," suaranya terdengar kembali kepada normal. Melupakan pekerjaan kami dan seperti biasa dia bersikap hanya seperti temanku.


"Aku mohon, kau mau merahasiakannya semuanya dari Dinda."


“Segalanya.”


.........................................


Entah berapa banyak gelas vodka yang aku minum. Aku bahkan hanya mengingat bagaimana James datang memukulku. Memakiku dan memintaku agar bertanggung jawab pada anaknya yang sekarang tengah mengandung anakku.


"Kau kira siapa yang mau menikahinya. Dia sudah tak perawan lagi dan itu gara-gara kau. Kau membuat anakku hancur! Aku menitipkannya bukan untuk tempat kau menyalurkan hawa nafsumu, brengsek. Bug!" bahkan kata-kata dan pukulan James masih membekas di memoriku.


Aku tak tahu mengapa aku harus berpikir lagi untuk menikahi Dinda atau tidak, tapi yang pasti aku merasa kalau aku menikahi Dinda. Dia hanya akan merasa tersiksa di sampingku saat aku menikah nanti. Aku hanya takut akan ada banyak kesalah pahaman di antara kami, karena bagaimana pun aku selalu lemah di hadapan orang yang kucintai. Aku selalu merasa menjadi orang yang tidak berguna di depan mereka.


"Daniel," kudengar suara seorang wanita tengah menggoyak bahuku. Dia menepuk-nepuk pipiku dan mengangkat wajahku dari bartender yang kujadikan sandaran kepalaku.


"Kau gila! Sudah berapa vodka yang kau minum," meski kesadaranku menurun aku tahu siapa dia. Dia sepertinya Clara. Sedang apa dia di sini. Apa mungkin dia *******.


"Hei Clara," dengan suara khas mabukku aku melambaikan tanganku dengan lesu.


"Apa yang kau lakukan hah di sini? Apa kau sedang bermain dengan pria lain huh? Aku sudah menduga kalau kau ini memang *******, karena sering menggodaku," kataku dan tepat saat itu dia menampar pipiku.


Prak! Calra menamparku. Mataku semakin berat. Tiba-tiba saja pandanganku semakin buyar dan berkunang-kunang. Aku tak sadarkan diri.


"Aaaaaaaaaaaa," aku bangun dari tidurku. Rasanya tamparan itu seperti nyata sekali. Padahal aku hanya mimpi.


"Hiksss..., hiks...," kudengar suara seorang menangis. Saat aku menolehkan kepalaku ke arah kananku. Tiba-tiba saja aku baru menyadari sesuatu. Wanita yang berada di mimpiku kini ada di sampingku sedang menangis. Dia meringkuk memeluk tubuhnya dan aku jauh menyadarinya kalau ternyata kami sedang di atas ranjang tanpa menggunakan busana apapun.


"Clara apa yang kau lakukan!" pekikku.


Dia melirik ke arahku dan...,


Prak! Ini bukan lagi mimpi. Aku ingat kalau semalam dia menemuiku yang tengah mabuk. "Kau yang kenapa? Kau bilang aku *******, tapi kau...,” dia berteriak ke arahku dan aku tak mengerti kenapa semuanya terjadi di luar logikaku. Bukan hanya ini saja tapi semua masalah-masalah yang bercuatan di dalam otakku. Tak mungkin semua yang terjadi pada Dinda terulang kembali pada Clara. Rasanya aku mau mati saja!


....................................