
"Demi Tuhan Dinda aku tidak melakukannya! Aku tidak berbohong padamu! Aku tidak pernah menghamili Clara!"
"Kau?" dia terisak. Tubuhnya terjatuh begitu saja ke tepi ranjangku. Dia menangis seraya menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Amarahku memucak begitu saja. Luapa-luapan amarahku yang tba-tiba saja membakar habis diriku membuatku membentaknya.
"Demi Tuhan Dinda aku tidak melakukannya. Aku tidak berbohong padamu. Aku hanya menyembunyikan hal ini karena aku tahu kau tidak akan percaya padaku. Mengandalkan ingatanmu saja pun membuatku lemah tak berdaya. Karena alhasil percuma saja. Itu hanya membuatmu tak percaya padaku kalau aku tak pernah melakukannya."
"Kau tak harus berbohong padaku!" teriaknya. Kemudian memukuli dadanya sendiri seperti menahan sesak yang juga aku rasakan.
"Demi apapun itu aku tak pernah melakukan apapun pada Clara. Saat itu aku mabuk dan Clara menjebakku. Kau sudah tahu masalah itu sejak dulu, tapi saat kau lupa ingatan seperti ini. Aku tidak bisa mengingatkannya padamu. Aku tidak mau membuatmu semakin terpuruk dengan suatu hal konyol seperti ini. Aku tak mau hal-hal yang menyulitkan kehidupan kita terus menghantui pikiranmu. Aku tidak mau! Aku juga takut kau tidak akan percaya dengan penjelasanku. Aku hanya tak mau kau sakit Dinda!"
"Tapi bukan untuk menutupi segalanya dariku. Aku tahu ingatanku tidak akan sepenuhnya kembali. Aku tahu, tapi dengan kau menutupinya. Aku jadi tak lagi bisa percaya denganmu. Aku tidak bisa mempercayaimu Daniel kau tahu itu! Sebegitu bodohnyakah aku hingga kau membohongiku," dia terisak kembali dan memukuli dadanya yang mugkin terasa sesak.
Aku pun berusaha menggapainya. Ingin meredam semua amarah kami yang semakin berkecamuk di hati kami satu sama lain.
"Bagaimana kau mau berkilah bahwa Clara sudah membantu perusahaanmu yang akan bangkrut. Dia berada di sisimu karena kau mempunyai anak darinya. Seharusnya aku tak bodoh saat kau membodohiku," mendengar itu aku menarik bahunya.
"Demi Tuhan Dinda. DEMI TUHAN! Aku tak melakukan apapun pada Clara. Apa kau tak mengerti kata-kataku. Dia masih ada di sini karena kau! Itu semua karena kau! Sejak kemarin yang kau pikirkan hanya aku yang berselingkuh dengan Clara, lalu bagaimana dengan tentangmu sendiri? Apa kau mengingatnya? Semua tentang kau yang melakukan sesuatu hal buruk pada Clara."
...................................................
2 hari setelah kejadian Dinda tak sengaja mendorong Clara. Dinda bertekad untuk ikut aku menjeguk Clara. Bukan apa-apa, dia bilang terus terbayang bagaimana saat dia jatuh seperti yang Clara alami. Dinda merasa tak seharusnya melakukan hal sejahat itu meski itu bayi hasil perselingkuhanku.
Kini kaki Dinda bergetar saat Dokter mengatakan bahwa Clara keguguran. Dia memelukku dan terisak dalam tangisannya. "Aku membunuh janinnya Daniel. Aku orang yang paling jahat di dunia. Aku menghilangkan kesempatan bayi itu untuk hidup," suara Dinda membuatku menepuk-nepuk bahu istriku.
"Daniel," panggil Dinda.
"Apa benar itu bukan anakmu?"
"Demi Tuhan Dinda. Aku berani bersumpah. Aku tidak melakukannya. Saat itu aku mabuk dan pingsan. Aku tak melakukan apapun saat aku dapati Clara bersamaku. Bahkan aku merasa tidak terpuaskan. Itu hanya jebakannya saja."
"Jebakan?"
"Aku tidak tahu kenapa dia menjebakku, tapi yang pasti dia pasti mempunyai alasan melakukan itu pada kita."
Dinda mengangguk mengerti lalu berjalan ke arah pintu yang terdapat kaca di atasnya. Dia memperhatikan Clara yang masih koma. Tak ada tanda-tanda dia membaik untuk 2 hari ini membuat Dinda semakin gelisah dan merasa bersalah.
"Daniel, apa yang harus aku lakukan?"
"Berhentilah membuat dirimu salah Dinda! Kau tidak salah! Itu hanya sebuah ketidaksengajaan." Ungkapku ingin terus membuat Dinda tenang dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Dinda terdiam. Alih-alih dia duduk di kursi penunggu hingga aku membuatnya kaget.
"Clara sepertinya sudah sadar. Ayo kita masuk ke dalam,” suaraku dan Dinda ragu-ragu menyiapkan dirinya untuk masuk ke dalam. Menemui Clara dan meminta maaf padanya.
“Biar aku saja dulu yang masuk,” ungkap Dinda padaku.