Adinda

Adinda
Chapter 27



Kuraih mie itu di dalamnya, tapi Dinda memperhatikanku karena aku baru sadar kalau Dinda tidak meninggalkan tempatnya semula hingga aku dan Dinda tak sengaja saling pandang.


Beberapa menit berlalu Dinda mulai berdehem pelan membuatku sarafku mulai bekerja kembali. Ohh tidak, dia benar-benar mempengaruhi detakan jantungku. Kenapa bisa seperti ini? Sebelumnya aku tidak tertarik dengan wanita manapun. Bagiku cinta itu tidak ada, karena Ibu bahkan Ayahku tak pernah menampakkan hidungnya di hadapanku. Aku hanya percaya sebuah kebahagiaan, karena Daniel menunjukkan itu padaku. Setidaknya Daniel yang memang membuat hidupku lebih bersemangat.


“Oh ya terima kasih,” kata Dinda saat aku menyodorkan mie itu padanya.


Akau kembali duduk ke atas kursi di ruang meja makan. Suasana pun menjadi hening dan Dinda berbalik ke arahku tiba-tiba. “Apa kau tahu kapan ulang tahun Daniel?”


“Tentu saja aku tahu. Dia besok ulang tahun.” Ungkapku.


“Lalu kau akan memberikan apa padanya? Dia suka apa? Aku masih bingung ingin memberikan apa padanya?”


Aku mengangkat bahuku. Sedikit merasa cemburu dan iri pada Daniel karena Dinda terlihat begitu antusias untuk mendekati Daniel. Memang ada apa dengan mereka? Aku lihat Daniel juga nampak tertarik untuk membuat Dinda tetap di sisinya. Bukankah Daniel masih sedikit trauma untuk kembali jatuh cinta? Ini aneh sekali.


“Entahlah, dia sudah begitu tua bagiku. Aku sampai bingung dia ingin apa, karena aku rasa dia bisa membeli apa yang dia inginkan dengan uangnya itu.” Ungkapku lalu kulihat Dinda pun mulai menganggukkan kepalanya.


“Kau benar juga. Mungkin sebaiknya aku buatkan kue saja untuknya. Dia bilang kemarin kueku enak. Dia pasti akan senang sekali jika aku membuatkan kue khusus untuknya,” kata Dinda semakin terlihat bersemangat.


“Baiklah, itu ide bagus.”


.......................................


Tadi Dinda keluar dari rumah dengan sekotak kue yang dia buat tadi sepulang kuliah. Dia memang pulang lebih dulu dan aku baru saja pulang, tapi Dinda mencegahku untuk turun dari motorku. Padahal aku lelah sekali dari kampus.


Aku memberhentikan motorku di depan gedung tempat Daniel bekerja. Dindadengan semangat yang berkoar segera turun dan memberikan helmnya padaku.


“Karena ini kueku. Aku duluan ya. Nanti kau bisa menyusul ke atas,” ungkapnya kemudian berlari ke dalam dengan ribuan senyumannya yang indah sekali.


Ah itu tentu berita bagus, karena setelah lulus nanti aku akan segera memiliki saham yang akan Daniel berikan padaku. Semoga saja masih berjalan dengan lancar hingga nanti berganti padaku.


Pilihan terakhirku akhirnya jatuh pada pos satpam. Kulihat satpam di sana sedang sibuk menyeruput kopinya. Awan memang sudah mulai terlihat agak mendung dan cuaca terasa dingin karena sedang musim hujan. Aku jadi terinspirasi ingin minum kopi malam nanti. Apalagi akan ada acara sepak bola nanti malam. Wahhh pasti nikmat sekali jika ditambah dengan cemilan lainnya.


“Gilang!” saat aku ingin meminta pada satpam tolong jagakan motorku. Tiba-tiba sebuah suara mengintrupsiku untuk berhenti. Aku menoleh dan mendapatkan Dinda yang berlari ke arahku.


“Kita pulang sekarang,” ungkapnya saat aku lihat dia menitihkan air matanya.


“Ada apa?” tanyaku, tapi Dinda menggelengkan kepalanya dan aku tidak lagi melihat kotak yang dia bawa tadi. Apa mungkin Daniel tidak suka dengan kuenya lalu melemparkannya ke lantai? Mana mungkin Daniel melakukan itu?


“Cepatlah aku ingin segera pulang,” ungkapnya lagi dan aku pun tanpa membuang waktu segera melajukan motorku.


Dinda mengeratkan pegangannya, memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahuku. Jadi sebenarnya ada apa? Aku jadi ingin tahu. Kenapa Dinda menangis? Bahkan aku bisa mendengar bahwa dia sulit bernafas.


Hujan pun mulai turun. Kulajukan motorku lebih kencang. Suara Dinda yang menangis pun mulai tersamarkan oleh hujan, tapi aku... aku berjanji akan memukul Daniel jika dia benar-bena melukai Dinda. Pria tua itu memang tidak tahu diuntung karena sudah Dinda cintai. Seharusnya dia menghargai Dinda yang sudah susah payah mencintainya dengan sangat tulus. Seandainya itu aku, aku akan pastikan dia tidak akan pernah merasakan sakitnya mencintai.