Adinda

Adinda
Chapter 21



Ada banyak sekali makanan di lemari pendingin , tapi tak ada yang membuatku tertarik. Aku malah ingin makan sandwich saja. Mungkin itu cukup untukku. Aku juga tidak ingin repot-repot menyiapkan makanan yang berat untuk Daniel. Ya..., meski semalam kami bertengkar, tapi aku masih menghormatinya. Dia sudah memberiku tumpangan dan memberiku makan. Jadi, aku juga harus tetap menyiapkan makanan untuknya.


Setelah menyiapkan semuanya. Aku pun mengambil posisiku. Kakiku mulai bergoyang di bawah meja makan dengan mata yang mengarah pada taman.


“Selamat pagi,” Daniel datang ke arahku dan menyambar sandwich yang kusediakan untuknya.


Dia diam hanya memperhatikanku seraya menggigit sandwichnya. “Apa kau masih sangat marah padaku?” tanyanya saat aku tak sama sekali melirik ke arahnya.


Sungguh aku tidak tertarik menjawab semua kata-kata yang leuar dari bibirnya. Aku benar-benar tidak mood bicara dengannya panjang lebar kalau hanya dia jawab dengan sesuatu yang menyakitkan.


“Kalau kau sudah selesai makan, kau bisa menaruh piringnya di cucian piring. Aku yang akan mencucinya,” ungkapku mengakhiri makananku dan ingin beranjak dari kursiku.


Daniel menahanku dan aku menghela nafasku sejenak pelan.  Aku berusaha melepas tangannya, tapi dia juga melawan pergerakanku. Mulutku pun sudah hampir menggapai lengannya untuk ku gigit, tapi dia melepas tangannya dan mengambil tanganku yang lain.


 “Apa kau sedang mempermainkanku? Lepaskan!” tekanku tak suka dengan perilakunya yang seakan memberiku kesempatan.


Dia tertawa pelan dan mengacak puncak rambutku. “Maafkan aku Nona Cooper,” ucapnya membuatku sangat malas sekali mendengar kata maafnya.


Kuperhatikan Daniel yang memakai jas rapi layaknya orang kantoran. Bukankah dia bilang, sudah selesai dalam pengintaiannya. Lalu memang sepagi ini dia akan kemana? “Apa kau tidak pernah sarapan pagi?.” Tanyaku saat dia memakannya begitu lahap.


“Ya seperti itu lah. Jadwalku kemarin kan tidak beraturan karena aku sering pulang malam. Jadi, aku akan keluar siang hari untuk mencari makanan cepat saji.”


“Ya..., aku tahu, tapi setidaknya perutku tidak kosong dan aku kehabisan tenaga untuk menjalankan misiku.”


“Lalu kau mau kemana dengan pakaian itu?”


“Aku harus bekerja Dinda.” Jawabnya lalu mengacak ulang rambutku dan aku menyebikkan bibirku ke arahnya begitu pun dengan kakiku yang menggertak ke lantai sangat kesal menerima sikap manisnya. Itulah yang membuatku sanagt ingin memilikinya. Pria dengan segala kemanisan dan karismatiknya.


“Baiklah hati-hati di jalan,” kataku beranjak dari kursiku, tapi dia kembali menarik tanganku hingga berbalik ke arahnya.


Dia menghapus jarak kami. Matanya menatapku tak mau lepas dan bibirnya menyentuh bibirku, lembut. “I will try to love you. Just wait for me, okey.”


Ya Tuhan!, apa yang pria ini katakan barusan? Kenapa hatiku sangar bergetar hebat saat mendengar kata-kata itu. Aku bahkan tak bisa bergerak dari posisiku saat dia meninggalkanku. Aku masih seperti ada pada khayalanku sendiri dan saat aku mendengar suara mobil berbunyi di luar. Aku baru sadar kalau itu memang nyata. Daniel mengatakan bahwa dia akan mencoba mencintaiku.


“Yehhhhh,” aku mulai bertingkah polah seperti anak kecil dapat mainan dari Ayahnya. Aku berteriak seperti orang gila menuju kamarku dan menaiki ranjangku dengan senang hati. Kakiku mulai berjungkat-jungkit di atas, kemudian mengintip Daniel yang meninggalkan pelataran rumah dari jendelaku.


Daniel, aku akan menunggumu pulang.


.................................................