Adinda

Adinda
Chapter 15



Daniel POV


Kujauhkan tubuhnya dari pelukanku. Kuusap air matanya yang perlahan jatuh ke pipinya lalu menangkupnya dengan sangat percaya diri. “Aku yakin tidak akan ada apa-apa. Yakinlah. Jangan pernah takut Dinda. Aku ada di sini. Aku akan bertanggung jawab jika itu terjadi.”


“Sungguh, kau akan berjanji padaku bukan?”


“Tentu saja. Aku bukan pria yang lari dari tanggung jawabku, percayalah!”


Dinda menarik tanganku dan menggenggamnya erat. “Apa kau akan menikahiku jika aku hamil?”


Aku mengangguk pelan. Jika itu itu membuatku terpaksa bertanggung jawab. Pada akhirnya aku harus menghilangkan rasa traumaku. Aku harus menghapus semua rasa ketakutanku demi mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan padanya, karena aku tak bisa membayangkan bagaimana seorang bayi lahir tanpa Ayah biologisnya. Itu pasti akan sangat menyedihkan.


“Bagaimana jika kau mulai mencoba mencintaiku, Daniel.” Kata-kata Dinda membuatku terpana dan langsung menatap ke arah bola matanya. Apa maksudnya dia mengatakan itu? Kenapa terasa menyeramkan sekali di telingaku sekarang.


“Ma-maksudmu?”


“Aku menyukaimu Daniel. Aku menyukaimu dan aku tidak mau perasaanku bertekuk sebelah tangan. Tolong bukalah hatimu untukku. Lupakanlah wanita itu. Berikan cintamu untukku,” mendadak aku tak bisa menelan salivaku sendiri.


Aku melepas genggaman tangan Dinda dan menggelengkan kepalaku perlahan.


“Jika kau menikah denganku tanpa cinta, itu sama saja bohong Daniel! Kalau begitu lupakan saja! Lupakan tanggung jawabmu itu! Lupakan!” Dinda berlari meninggalkanku. Dia masuk ke dalam kamarnya dan bisa kudengar suura bedebum dari kamarnya.


Maaf Dinda, aku masih begitu takut untuk mencintai orang lain. Aku tak bisa mengulang kembali rasa sedih, kehilangan, dan juga kesepian dalam dirimu. Aku begitu trauma untuk menyadari bahwa aku mencintai dan aku kehilangan dalam kesunyian yang menghantui hidupku.


...........................................


 


Kulihat jam sudah menunjukkan jam 7 pagi. Hari ini resmi pekerjaanku datang. Menjadi CEO di sebuah perusahaan keluargaku yang dulu pernah aku sentuh, tapi sempat hempas dari tangan keluargaku karena wanita yang sudah mendekam di penjara sana.


“Selamat pagi,” sambutku seraya mengambil sandwich yang nampaknya sengaja Dinda sajikan untukku juga. Aku duduk di kursi meja makan tepat di sampingnya dan dia tidak sama sekali melirik ke arahku.


Kulihat matanya yang bengkak dan juga hanya fokus dengan makanannya di atas piring. Mungkinkah dia menangis semalaman karenaku? Apa aku begitu menggores hati anak James? Dia terlihat begitu patah hati karena aku tolak. Bukankah ada banyak pria yang memujanya di kampus. Kemarin orang-orang itu membicarakan tentang Dinda dan mantannya, lalu kenapa Dinda begitu menginginkanku?


“Apa kau masih sangat marah padaku?” tanyaku akhirnya tak enak hanya menikmati waktu yang terasa kosong.


“Kalau kau sudah selesai makan, kau bisa menaruh piringnya di cucian piring. Aku yang akan mencucinya,” katanya dan beranjak dari kursinya, tapi ku tahan.


Dia melirikku tak suka dan mencoba menarik tangannya untuk lepas dariku. Kemudian dia ingin berusaha menggigit tanganku, tapi aku sudah melepasnya duluan dan beralih pada tangannya yang lain.


.


.


.


KOMEN, KOMEN, KOMEN


LIKE, LIKE, LIKE ^^ 


SAYANG AUTHOR KANNN HE HE HE