Adinda

Adinda
Chapter 48



Aku menatap wajahku yang berantakan di depan kaca kamar mandi. Melalui sebuah kesulitan yang cukup banyak membuatku frustasi dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa mungkin semuanya akan kandas begitu saja tanpa ada kejelasan. Ini semua bukan karena tak ada kejelasan karena aku pun tidak tahu harus bagaimana menjelaskan itu pada Dinda.


Dinda mana mungkin mengingatnya. Karena itu aku tak mau mengingatkan hal ini lagi. Dia hanya akan terus berpikiran negatif padaku. Semenjak awal dia siuman hanya akan ada tatapan sedih saat memperhatikanku. Aku tak mau dia memikirkan apapun yang menyulitkan hidupnnya. Aku tak mau semuanya jadi beban karena semuanya sudah kami jalani sebahagia mungkin sebelum dia lupa ingatan. Kami hidup bahagia dengan Matt dan sekarang anggota keluarga kami bertambah satu yaitu Cleo.


Bagaimana aku tidak bahagia kalaku ke dua anak yang aku miliki sekarag adalah hasil kami ber dua. Matt sudah mulai beranjak pada 5 tahun dan Cleo pasti akan tumbuh besar sebagai gadis yang cantik dikagumi oleh banyak pria.


Hah, kenapa hidupku serumit ini. Ingin bahagia dan melakukan sesuatu yang baik itu sangat menyulitkan meski aku tahu bahwa tak ada yang instan di dunia ini .


Aku harus bagaimana jika Dinda malah tak mau berbicara denganku. Aku butuh sebuah bukti untuk meyakinkannya kalau masalah itu tidak lagi kami persoalkan untuk beberapa tahu belakangan ini. Itu semua hanya kesalah pahaman.


Aku menuruni anak tangga. Mencari Dinda yang sudah beberapa menit yang lalu berlari keluar dari kamar dengan baju yang mencetak tubuhnya. Kami bertengkar hebat dan untungnya ruangan ini kedap suara mengingat kami yang selalu melakukan malam-malam indah bersama.


"Dinda," panggilku ke arah dapur. Dia tak ada di sana. Kemudian aku mencarinya ke halaman belakang. Dia juga tak ada. Kemana dia?? apa dia kabur. Ya Tuhan tak bisakah kau menarik bebanku untuk hari ini saja. Aku ingin sekali melepas penatku dengan masalah-masalah ini.


"Berhentilah menangis. Kau terlihat kesulitan bernafas," aku dengar suara Gilang sedang berbicara. Anak itu?! Dia pasti bersama Dinda. Aku pun berjalan ke arah ruang yang menyediakan kolam renang di rumahku. Terlihat jelas bahwa di sana Dinda memeluk kakinnya sendiri seperti orang yang ketakutan.


"Sudahlah. Semua orang pasti mempunyai alasan saat dia bertindak sesuatu," ungkap Gilang pada Dinda. Ya tentu saja aku mempunyai alasan. Aku pikir dengan berbohong, aku bisa membuat Dinda melupakan hal itu. Namun kenyataannya bagaimanapun bangkai itu akan di sembunyikan, akhirnya aku tercium juga baunya". Memang untuk mencapai puncak kebahagian itu sangat sulit. Pada akhirnya, saat aku ingin terus berjalan lurus. Tiba-tiba saja aku jatuh. Terjatuh lagi, lagi dan lagi.


"Kau bisa sakit Dinda. Ayo biar aku antar ke kamar" katanya lagi membuatku ingin melangkah mendekati Dinda tapi Gilang sudah mengangkat tubuh Dinda lebih dulu dari kolam.


"Aku tidak mau bertemu Daniel," suara Dinda parau membuat hatiku terasa tersayat saat mendengar suaranya dan menatap Gilang yang tengah menggendong istriku di depan dadanya. Dinda membenamkan wajahnya di dada Gilang membuat aku menggeram sendirian tapi tak berani memperkeruh keadaan yang sudah aku dan Dinda cipatakan sebelumnya.


"Baiklah, kau bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di ruang TV. Aku akan lihat pertunjukan bola hingga larut nanti," kata Gilang saat ingin masuk ke dalam dan aku segera bersembunyi di balik pilar besar pondasi rumahku.


Ada saatnya kami akan menjadi pasangan yang bahagia. Betul kan Dinda. Kita akan terus bersama sampai nanti kita menua dan hanya aku yang bisa mencabut ubanmu untuk pertama kalinya. Aku hanya mencintaimu dan aku hanya ingin kita bahagia kelak nanti bersama Matt dan Cleo mungkin akan ada buah hati lainnya yang akan kita ciptakan di lain hari.


...................................................


Thanks banget yang udah baca karyaku sampai part ini hehhehe. Jangan lupa like dan komennya. Pengen tahu menurut kalian karyaku sejauh ini bagaimana heehe