Adinda

Adinda
Chapter 53



Aku berteriak histeris setelah beberapa kali merasa perutku seperti di lilit sesuatu yang amat sangat menyiksaku. Rasanya pelupuhku terus berjatuhan dan Daniel belum menampakkan dirinya di sini.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


 Dengan nafas tersenggal aku berusaha untuk memanggilnya. Aku berusaha menggapai tangannya dan setelah itu dia datang memelukku.


"Bertahalah, Sayang. Masih harus menunggu beberapa menit lagi," katanya membuatku mengangguk dan menggenggam tangannya erat.


"Maafkan aku karena datang terlambat," katanya dan dengan bertubi-tubi dia menciumi wajahku dan juga telapak tanganku.


"Maafkan Clara juga. Dia tak mau berada di antara kita, Sayang. Dia sudah pergi ke luar negeri dia butuh ketenangan."


Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus menebus kesalahanku. Dia harus tahu bahwa aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika dia tak mau memaafkanku.


Aku rasa bahwa diriku adalah orang yang paling jahat di dunia karena sudah menghilangkan kesempatan bayinya untuk hidup. Aku ingin dia juga merasakan bagaimana mengurus seorang bayi. Setidaknya dengan itu kesalahanku bisa dia maafkan meski itu tak seutuhnya.


Aku menggeleng kuat ke arah Daniel. "Bawa dia kembali Daniel aku mohonnn!"


Daniel terlihat memejamkan matanya. "Dia punya pilihan, Sayang. Aku tak bisa memaksanya," saat itulah aku rasa bayiku ingin keluar.


"Ayo biar Ibunya tenang dulu. Atur dulu nafasnya," kudengar intruksi Dokter. Ini sudah saatnya aku melahirkan bayi yang menurut pemeriksaan selamaku ini adalah laki-laki.


Aku pun mulai mengatur nafasku dan berusaha setengah mati untuk mengeuarkan seorang malaikat kecil yang sudah kami jaga selama 9 bulan ini. Beberapa kali Daniel mengelus tanganku. Wajahnya terliat cemas dan tak peduli bagaimana jari-jariku melukainya.


"Syukurlah prosesnya lancar. Anaknya laki-laki ya," nafasku perlahan mulai terlihat beraturan. Daniel menggendong Matt---nama bayi yang Daniel katakan padaku saat kejadian hari itu.


"Daniel," entah kenapa aku masih memikirkan Clara. Aku hanya takut. Aku takut kalau Clara tak memaafkanku. Padahal aku ingin menebus kesalahanku. Aku ingin dia juga mengasuh anakku, tapi kenapa dia pergi.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang," Daniel mengecup keningku dan memberikan senyuman terbaiknya untukku. "Terima Kasih karena kau melahirkan malaikat kecil yang tampan untukku."


.................................


Aku mengingatnya. Aku mengingat kelahiran Matt anak pertamaku dan aku mengingat semua kesalahanku.


"Karena waktu itu aku pergi. Aku kembali kesini karena ingin menagih janjimu. Aku ingin mengasuh anakmu, Cleo. Karena waktu Matt lahir aku malah pergi dari kehidupan kalian," aku menelan ludahku tak tahu harus berkata apa.


Dia tersenyum ke arahku dan mengelus pelan perutnya yang terlihat buncit. Dia hamil?. Aku baru sadar kalau perut Clara buncit.


"Aku datang bukan hanya ingin bercerita mengapa aku masih ada di sini sekarang. Bekerja di perusahaan Daniel dan mengasuh Cleo semasih kau di rumah sakit koma selama dua bulan. Aku ingin...," dia menyodorkan sebuah kertas undangan ke arahku. Undangan yang simple berwarna gold itu membuatku mengalihkan pandanganku sepenhnya ke kertas itu.


"Aku akan menikah bulan depan. Aku mohon kau datang ke pernikahanku. Aku juga minta maaf pada kalian karena sudah merusak hubungan kalian selama ini," aku lihat dia bergelayut mesra dengan seorang pria yang berada di sampingnya yang sudah aku tebak kalau pria ini lah yang menghamilinya dan pria inilah calon suaminya.


"A-apa kau hamil?" tanyaku padanya dengan gugup. Namun dengan senyuman semringahnya dia menjawabku.