
Hatiku melemah. Apa benar dia hanya mencintaiku? Seharusnya aku ingat kapan dia berjanji di hari pernikahan itu. Harusnya aku mengingatnya agar hatiku tak ragu bahwa aku adalah istri satu-satunya yang dia cintai.
"Sekarang apa yang kau mau? Apa aku harus memecat Clara?" Aku menelan salivaku saat mendengar itu.
Memecat wanita itu memang ide bagus, tapi apa aku tidak terlalu jahat? Bukankah itu juga demi kantor Daniel yang dia bilang hampir bangkrut.
"Baiklah aku akan memecatnya jika itu maumu,"
"Ahhh Daniel," aku menghentikan gerakannya yang akan bangkit dari bangku.
Dia melirik ke arahku dan aku mencoba menetralkan suasanaku seperti semula "Tidak perlu," kataku "Aku hanya ingin kau menumbuhkan sebuah kepercayaan padaku. Aku hanya ingin percaya padamu dan aku hanya ingin kau tak berbohong tentang semua yang pernah aku lupakan. Jelaskan padaku apa yang terjadi di antara kita," entah kenapa perasaanku jadi meminta berdamai. Aku berdamai pada hatiku sendiri agar pikiranku tak terlalu sulit untuk menjadi seorang ibu yang baru melahirkan anaknya saat hilang ingatan malah menimpanya.
Dia tersenyum ke arahku lembut. Sangat lembut hingga sebuah cairan bening itu keluar dari matanya membuat hatiku bergetar saat menatapnya. "Aku tak akan berbohong padamu. Aku janji! tak akan ada yang aku sembunyikan padamu," dia mencium keningku kemudian aku rasakan bibirnya yang menyapu lembut bibirku.
Ciuman hangat yang aku rindukan dan tatapan sayang setiap kali dia menatapku. Aku mencintainya meski ingatanku tentangnya masih pada sesuatu yang negatif. Aku mencintainya, karena hatiku selalu berkata begitu.
........................................
Aku meringkuk di dalam kamarku. Ayah terus menggendornya, tapi aku enggan membuka kamar. Aku tahu Ayah sangat marah, kecewa dan pastinya ingin aku segera meminta pertannggung jawaban Daniel, tapi aku takut. Takut kalau Daniel sejujurnya tak mau bertanggung jawab. Meski hatiku bicara Daniel tidak akan berkata itu, tapi mengingat terakhir pertemuan kami yang tidak baik. Rasanya aku ingin mati saja. Ini sungguh mengerikan untuk hidupku dan jika waktu itu bisa kuputar kembali. Mungkinkah semuanya tak akan pernah terjadi seperti ini.
Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aborsi atau tetap mempertahankannya. Bagaimana jika aborsi? Apa itu tidak jahat? Janin ini tidak salah apa-apa dan tidak mungkin bisa aku melakukan itu pada janinku sendiri, karena bagaimanapun juga janin ini tidak bersalah. Aku yang bersalah karena tidak lebih menjaga diriku sendiri lebih ketat.
“Dinda cepat buka! Ayah akan sangat marah jika kau tidak membukanya,” Ayah terus menggedor kamarku membuat kakiku semakin bergetar mendengar teriakannya.
“Ayah aku ingin sendiri. Jangan gangguku! Aku takut...,” tangisanku semakin memecah ruangan kamarku.
Beberapa saat aku tidak bisa lagi dengar suara Ayah. Tak ada lagi suara Ayah yang memintaku untuk segera membuka pintu dan aku baru bisa menghela nafasku dengan susah payah. Namun dengan kepergian Ayah dari depan kamarku tetap saja masih membuatku tak bisa berhenti menangis.
Aku kembali meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Jariku sedikit menyusuri perutku dan merasakan bahwa itu masih sangat datar. Belum terlihat kalau di dalam sini ada sesuatu yang akan hidup bersamaku 9 bulan ke depan. Ya..., denganku sendiri atau jika mungkin bersama Ayahku, jika dia masih mau menganggapku sebagai Anaknya.
Aku akan selalu menjaga janinku meski ini adalah sebuah kesalahan. Aku akan terus melanjutkan hidupku meski nanti sesuatu di depan sana akan membuatku terpuruk. Setidaknya jika nanti bayi ini keluar. Ada sebuah kebahagian yang tak akan bisa aku ungkapkan. Seorang bayi yang akhirnya akan menemaniku yang selalu sendiri ketika Ayah tinggal bekerja.
..............................................