Adinda

Adinda
Chapter 35



Bukan karena aku mengistirahatkan diriku sendiri. Mataku terasa lebih susah untuk dibuka. Aku tak mendapati seorang pun di kamar rawatku. Aku rasa hari kemarin adalah hari yang sangat berat untukku. Dokter bilang aku tak boleh terlalu stress. Itu akan mempengaruhi semua sistem di tubuhku termasuk ingatanku yang akan lebih susah kembali dan ASI seorang ibu yang tak akan keluar jika aku terlalu stress sedangkan Cleo pasti membutuhkan ASI dariku. Maafkan Mami, Cleo.


"Kau sudah bangun?" Daniel datang dengan wajah yang lebih segar dari kemarin terakhir aku menangis di dekapannya. Dia membawa Cleo dan memberikannya padaku.


Dokter bilang secepatnya ASI akan keluar jika pikiranku tak buruk dan Cleo ada berada di dekatku. Setidaknya sebuah hisapan dari seorang bayi akan memicu sistem kerja lainnya untuk memproduksi sebuah ASI.


Aku lihat Daniel mengelus pelan Cleo yang sedang menggeliat dalam tidurnya "Aku akan segera pergi bekerja. Kau tidak apa kan aku tinggal sendiri?"


"Aku butuh penjelasan," ungkapku padanya saat dia mencium pipi Cleo.


"Aku mohon jangan membuat dirimu sendiri sedih karena hanya memikirkan sesuatu yang negatif tentangku,"


Aku mendengus pelan. "Cihh!" di ujung bibirku aku memberi senyuman smirk ke arahnya.


"Bisa-bisanya kau bilang seperti itu Daniel. Seharusnya waktu itu aku tak menikah denganmu. Kau tetap sama saja ********," aku lihat rahangnya yang mengeras. Dia menghela nafasnya dan memberantakkan rambut mwohaknya.


"Di bagian mana aku harus menjelaskannya padamu?" katanya menarik bangku agar dia bisa duduk di sisiku.


"Tentu saja semuanya," ungkapku dan dia memberikan senyuman yang tak aku mengerti kalau itu sebuah senyuman ejekan atau mungkin senyum tulus untukku.


"Clara? itukah yang kau mau"  boom! itu tepat sekali.


"Baiklah," dia membenarkan letak duduknya dan megenggam tanganku dengan erat sekali.


"Kau memang tak akan mengingatnya dengan baik, tapi ini harus kau dengar. Dia!, Clara. Aku tak pernah sama sekali melakukan apapun padanya. Dulu itu hanya salah paham. Kau tidak melihat hal yang sesungguhnya terjadi.”


"...." aku ingin bersuara tapi dia sudah memotongnya.


"Dulu, sekarang atau seterusnya, tak pernah aku mengkhianatimu. Jika kau ingin tahu bagaimana hatiku, aku tak pernah mengabaikanmu, mengerti!" sebuah penekan agar aku mengerti.


"Aku tak mempunyai hubungan apapun dengannya selain sekretaris dengan atasannya. Kalau kau bertanya kenapa dia masih ada di sisiku. Itu karena dulu saat kantorku hampir bangkrut, dia membantuku. Dia lebih berpengalaman bekerja untuk kantorku," mendengar itu aku jadi merasa bersalah telah membentakknya. Pantas saja kemarin dia menatapku kaget. Apa dia tak tahu aku hilang ingatan.


Ah tapi tetap saja kenapa juga harus dia yang menimang anakku. Ahhh sulitnya menjadi ibu-ibu pencemburu. "Apa kau menikahinya?"


Dia tertawa geli membuatku mengernyitkan alisku. "Kau satu-satunya Dinda. Hanya kau," suaranya merendah saat dia lagi-lagi mencium punggung tanganku dengan lembut sekali.


Hatiku melemah. Apa benar dia hanya mencintaiku? Seharusnya aku ingat kapan dia berjanji di hari pernikahan itu. Harusnya aku mengingatnya agar hatiku tak ragu bahwa aku adalah istri satu-satunya yang dia cintai.