Adinda

Adinda
Chapter 40



Kuputuskan untuk membawa Dinda ke rumahku kembali setelah James pergi. Aku tahu, aku begitu pengecut sebagai seorang pria, tapi aku baru sadar kalau ini memang sudah harus kulakukan dari jauh hari sebelum James pergi.


Dinda keluar dari gerbang kampusnya. Perutnya masih terlihat datar, tapi aku tahu dia tersiksa dengan itu. Tubuhnya memang sedikit terlihat gemuk dan mungkin orang akan yakin kalau Dinda memang hanya sedang menambahka berat badannya.


“Dinda,” panggilku. Kulihat Dinda menolehkan kepalanya saat berpisah dengan temannya yang kutahu bernama Fika.


Dinda berjalan cepat menghindariku, tapi segera aku kejar secepat mungkin. Kugapai tangannya untuk berhenti dan Dinda membalikkan tubuhnya ke arahku. Wajahnya nampak marah sekali, tapi aku mengabaikan ekspresi itu.


“Untuk apa kau di sini? Apa kau akan mencoba agar aku mau menggugurkannya, hah?”


Apa dia bilang? Memang aku sejahat apa sehingga bisa-bisanya untuk membunuh anak itu. Aku juga tidak pernah sedikit pun untuk berpikir sejauh itu.


“Ayo kita pulang, Dinda.”


“Apa katamu? Pulang? Pulang ke mana? Ke rumahmu?”


“Rumah kita.” Ungkapku dan Dinda menertawaiku dengan wajah melecehkan.


“Rumah kita? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan rumah itu jadi milikku. Kau ini ada-ada saja Pak tua,” ungkapnya dan berusaha kembali melarikan dirinya dariku.


Aku menarik tangannya dan berjalan menuju mobilku. Dinda melawanku. Dia terus bergerak menolakku, tapi aku terus memaksanya. Kutarik dia hingga masuk ke dalam mobil dan segera kususul ke dalam mobil untuk segera menguncinya.


“Apa yang kau lakukan padaku?!” tanyanya dengan membentak. “Aku akan berteriak jika kau seperti ini!” ungkapnya, tapi kuabaikan. Aku malah melajukan mobilku meninggalkan kampusnya.


Aku sudah merencanakan ini sebelumnya. Aku sudah berpikir matang-matang untuk segera menikahinya. Di sisi lain, aku juga tidak ingin Gilang keras kepala ingin menggantikan posisiku, karena James kemarin datang ke rumah menyangka aku tidak mau bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkan siapa pun untuk merebut tanggung jawabku dan aku tak akan pernah berfikir lama lagi untuk segera menikahinya.


“Kenapa kau seperti ini padaku,” samar kudengar Dinda menangis. Dia tidak lagi berontak atau meneriakiku, tapi dia malah menangis di samping kemudiku.


“Apa aku ini bonekamu? Aku ini bukan permainan yang bisa kau delete dari ponselmu kapan saja. Aku juga bukan gulali yang hanya kau nikmati manisnya saja.”


“Hei kau bicara apa Dinda? Aku tak pernah berpikir seperti itu. Aku juga tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kenapa kau bicara seperti itu padaku?”


“Aku takut...,” ucapnya semakin membuatku ingin memeluknya. Menghilangkan, menyirnakan segala ketakutan yang ada di dalam hati dan pikirannya.


“Baiklah, jangan pernah takut lagi mulai sekarang. Percayakan semuanya padaku. Aku akan menikahimu. Aku akan mencintaimu. Aku akan melakukan apapun yang kau mau jika itu membuatmu tidak takut lagi.”


“Aku tidak ingin hanya mendengar janjimu bodoh itu. Aku ingin bukti darimu, Daniel.”


“Baiklah, kita jalani semuanya dari awal. Bagaimana? Apa kau mau menjalaninya denganku?”


Dengan fokus kemudiku, kulihat Dinda mengangguk pelan. Kemudian dia tersenyum menghapus air matanya. “Aku takut Ayah marah lagi padaku,” ungkapnya memelukku dari samping.


“Tidak apa, biarkan aku yang bicara padanya. Ini akan menjadi urusan orangtua, kau mengerti!” Dinda mengangguk pelan dan aku pun mencium puncak kepalanya untuk menenangkannya.