
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Gilang POV
Tak indah. Tak ada yang baik untuk keluarga ini. Daniel yang entah pergi kemana. Sejak aku bangun tadi pagi tak menemukannya dimana pun. Bahkan Clara yang aku hubungi tadi pagi, mengatakan bahwa Daniel belum ada di kantor. Jadi kemana dia. Bahkan kini Dinda yang terlihat sibuk sendiri membuang semua rasa sedihnya dengan menimang Cleo sejak Cleo menangis minta disusui. Terasa memiliki dunianya sendiri dan mungkin hanya aku yang menyadarinya.
"Kau mau makan apa?" tanya Dinda seakan dia tak memiliki beban apapun tentang pertengkaran hebat semalam. Dia memperhatikanku dari atas hingga bawah. Mungkin dia tahu kalau aku akan segera berangkat ke kantor.
Mengingat semalam. Jantungku bahkan berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Dinda keluar dari kamar dengan air mata yang berjatuhan. Dia menangis layaknya orang yang tak bisa menarik nafasnya sendiri, dan aku tak lagi bisa membendung amarahku sendiri jika saja Dinda tak mencegahku untuk menghampiri Daniel. Aku pasti sudah memukulnya hingga babak belur saat itu. Namun melihat wajah tenangnya hari ini membuatku menarik senyumannku ke atas. Dia lebih baik dari perkiraanku.
"Hmmm mungkin roti bakar saja cukup," aku lihat dia mengangguk dan tatapannya kini kepada Cleo yang sedang dia gendong. Aku pun berjalan ke arahnya dan mengambil alih gendongannya.
"Hmmmpp keponakanku," aku mencium pipinya yang gembil itu. "Eh bukan saudara sepupuku," kataku membetulkan, mengingat Cleo anak dari omku.
Dinda pun berjalan ke arah dapur tanpa menghiraukan perkataanku. Aku lihat Cleo memainkan jari-jarinya untuk dia emuti. Senyumnya merekah saat aku menggelitik tubuhnya dengan jari telunjukku.
"Jangan nanti dia bisa muntah," kata Dinda bergelut dengan pemanggang roti bakar dan mengeluarkan isi selai yang aku pikir bahwa dia tak melupakan semuanya. Dia pasti banyak mengingatnya. Bahkan kemungkinan lainnya, dia ingat kalau waktu itu. Aku hampir melamarnya jika saja dia menyetujui akulah yang akan menjadi Ayah dari anak-anaknya.
...................................
Toh semuanya tak akan berarti apapun padaku kalau kami hanya mampu merebutkan sebuah warisan. Namun Daniel, bagiku dia adlaah orang yang tak pernah mengingkari janjinya. Dia menepati janji dia yang akan berbagi tentang harta warisan ini.
"Cepat! Kau harus bicara dengannya sekarang," aku dengar seseorang berbicara dari arah pintu. Aku pun turun dari lantai 2 menuju ruang tamu. Baru saja aku turun di ruang TV. Wajah yang aku rindukan beberapa minggu ini tampil dengan raut wajah yang amat sangat menyedihkan. Dia menangis dan memegangi perutnya.
"Cepat!" saat itulah Dinda hampir limbung dengan gerakan Ayahnya yang mendorong keras punggung Dinda. Kalau saja aku tak menangkapnya. Mungkin Dinda akan tersungkur jatuh.
"Gilang," lirih Dinda saat dia melihat wajahkulah yang menangkapnya.
"Ada apa Dinda? Kenapa Ayahmu marah?"
Dinda menangis. Tak ada suara yang dia keluarkan selain sebuah tangisan dan sorotan tajam yang Ayahya berikan padaku. Aku pun mengelus punggung Dinda. "Semuanya akan baik-baik saja," kataku meyakinkan dirinya dengan sekuat tenagaku.
"Siapa kau? Di mana laki-laki berengsek itu?! Aku harus menemuinya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!”
"Ayah! Sudah aku bilang, aku tidak akan memintanya untuk menikahiku!” bodohnya Dinda lebih memilih membela Daniel.